Beberapa jam setelah keluar dari rumah sakit, mobil yang ditumpangi Satria akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern. Pagar tinggi terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi. Cahaya matahari siang menyinari bangunan itu, membuatnya tampak hangat, bukan sekadar megah.
Satria turun perlahan dari mobil. Langkahnya masih hati-hati, tapi matanya menatap lurus ke depan. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya, bukan lagi kosong, tapi penuh makna.
Rezza keluar dari sisi lain, mengamati rumah itu dengan sorot mata bangga.
“Ini… yang kamu maksud?” tanyanya pelan.
Satria mengangguk. “Iya, ayah.”
Mona berdiri di samping mereka, tangannya menutup mulut, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… ini rumah atau istana, Nak…” gumamnya haru.
Satria tersenyum kecil. “Kalau Bunda nyaman, berarti ini rumah.”
Pintu utama terbuka dari dalam.
Seorang pria muda berpenampilan rapi melangkah keluar, membungkuk sopan.
“Selamat datang, Pak Satria. Pak Rezza, Ibu Mona,” sapanya tenang.
Satria menatapnya sejenak. “Danang?”
“Iya, Pak,” jawab pria itu dengan senyum hormat. “Saya ditugaskan untuk membantu semua kebutuhan Bapak.”
Rezza mengernyit sedikit. “Ditugaskan? Oleh siapa?”
Danang sempat ragu sepersekian detik, lalu menjawab dengan hati-hati.
“Ibu Tania, Pak.”
Satria terdiam.
Nama itu kembali muncul, tanpa ia duga. Namun kali ini, bukan sebagai pertanyaan… melainkan seperti benang yang perlahan menghubungkan banyak hal.
“Beliau bilang,” lanjut Danang, “selama Pak Satria dalam masa pemulihan, semua kebutuhan harus diperhatikan. Termasuk memastikan Bapak tidak kelelahan.”
Mona tersenyum hangat. “Ibu Tania memang baik sekali…”
Rezza hanya mengangguk pelan, meski dalam hatinya ada banyak pertanyaan yang belum sempat terucap.
Satria menghela napas kecil.
“Iya… baik,” jawabnya singkat, namun ada nada yang sulit dijelaskan di sana.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Interiornya luas, didominasi warna hangat dan pencahayaan lembut. Ruang tamu besar dengan sofa nyaman, tangga melingkar yang elegan, dan jendela tinggi yang membiarkan cahaya masuk dengan bebas.
Mona berjalan perlahan, menyentuh permukaan meja, memandang sekeliling dengan mata berbinar.
“Indah sekali…” bisiknya.
Rezza berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling dengan bangga, namun juga haru.