Angin siang berhembus pelan melewati balkon lantai atas. Tirai putih di belakang Satria bergerak lembut, seirama dengan napasnya yang kini jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu. Di bawah sana, taman rumah tampak hijau dan rapi. Kolam kecil memantulkan cahaya matahari, menciptakan riak yang menenangkan.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya masuk ke dalam dirinya.
Satria duduk di kursi balkon dengan tubuh sedikit bersandar. Tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya kosong menatap halaman. Rumah impiannya akhirnya berdiri nyata di hadapannya, luas, nyaman, hangat. Tempat yang dulu ia bayangkan sebagai simbol keberhasilan dan tempat berlindung bagi orang-orang yang ia sayangi.
Tapi di dalam dada, masih ada ruang yang belum selesai dibereskan.
Danang berdiri tak jauh darinya, menjaga jarak dengan sopan. Ia sudah cukup lama bekerja di lingkungan keluarga Jaya Group untuk tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Satria akhirnya membuka suara.
“Danang.”
“Ya, Pak?”
Satria menoleh perlahan. “Kenapa Ibu Tania begitu baik sama saya?”
Pertanyaan itu membuat Danang terdiam sesaat. Ia sudah menduga pertanyaan semacam ini akan datang cepat atau lambat.
“Maksud Bapak…?”
“Rumah ini,” jawab Satria pelan. “Perawatan saya. Semua perhatian itu.” Ia menatap lurus ke arah Danang. “Kenapa?”
Danang menarik napas kecil, lalu menjawab hati-hati.
“Setahu saya… Ibu Tania memang sangat peduli pada Bapak.”
Satria mengernyit tipis. “Peduli saja tidak cukup untuk menjelaskan semua ini.”
Danang tersenyum samar. “Mungkin… karena Ibu merasa Bapak sudah seperti anak beliau sendiri.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Satria terdiam. Tatapannya kembali menjauh. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa menyentuh sesuatu yang dalam di dadanya.
“Ibu Tania tidak punya anak,” lanjut Danang. “Setidaknya… itu yang semua orang tahu.”
Satria menunduk pelan.
“Aku tahu cerita itu,” katanya lirih. “Tapi aku juga tahu… sebenarnya dia pernah punya anak.”
Danang sedikit terkejut, meski tidak menunjukkannya berlebihan.
“Bapak tahu?”
Satria mengangguk pelan. “Sedikit. Tidak lengkap.” Ia menghela napas. “Dan entah kenapa… setiap kali beliau menatap saya, rasanya seperti ada sesuatu yang ingin beliau katakan.”
Danang memilih diam.
Ia tahu terlalu banyak hal bukan selalu berarti berhak mengatakannya.
Satria kembali bersuara.
“Lalu Eyang… kenapa beliau melunasi rumah ini?”
Danang tersenyum kecil.
“Karena beliau sayang pada Bapak.”
Satria menggeleng tipis. “Eyang tidak pernah menunjukkan itu secara terang-terangan.”
“Justru orang seperti beliau,” jawab Danang pelan, “lebih sering menunjukkan perhatian lewat tindakan, bukan kata-kata.”
Satria terdiam lagi.
Ia teringat Bramono Wijaya dengan wajah keras, suara berat, dan tatapan yang selalu sulit dibaca. Lelaki tua itu jarang memuji, jarang memeluk, jarang menunjukkan kelembutan. Tapi selalu ada keputusan-keputusan diam yang melindunginya.
Mobil pertama yang ia pakai kerja.
Promosi yang datang diam-diam.
Kini rumah ini.
“Aneh,” gumam Satria.
“Apa, Pak?”
“Kadang orang yang terlihat jauh… justru paling banyak menolong.”
Danang mengangguk pelan.
“Karena tidak semua kasih sayang pandai berbicara.”