Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #35

Malam menentukan


Petang turun perlahan di atas kota, menyelimuti gedung-gedung tinggi dengan cahaya keemasan yang mulai redup. Di salah satu hotel berbintang paling mewah, aula utama telah berubah menjadi lautan bunga dan kristal. Lampu gantung besar memantulkan cahaya elegan ke setiap sudut ruangan. Musik klasik mengalun lembut, menyambut tamu-tamu penting yang datang dengan gaun mahal dan setelan terbaik mereka.

Malam itu adalah malam besar bagi keluarga Bramono Wijaya.

Bukan sekadar pesta pernikahan.

Melainkan penyatuan dua keluarga bisnis besar.

Di dekat pintu utama ballroom, Annisa berdiri dengan gaun merah marun berpotongan anggun. Senyumnya mengembang setiap kali menyambut tamu, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh perhitungan. Di sampingnya berdiri Tommy, suaminya, dengan tuxedo hitam rapi dan wajah bangga yang sulit disembunyikan.

“Lihat ini,” bisik Annisa sambil menatap keramaian. “Akhirnya Dani menikah juga dengan perempuan yang tepat.”

Tommy menyeringai tipis. “Dan perusahaan keluarga Maya akan bergabung. Tommy Group dan Wijaya Holdings makin kuat.”

Annisa mengangguk puas.

Hari ini adalah kemenangan.

Putra sulung mereka, Dani, menikahi Maya wanita cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga pengusaha besar. Di mata Annisa, semuanya sempurna.

Hanya ada satu hal yang mengganggunya.

Seseorang yang belum datang.

Matanya melirik daftar tamu di tangan panitia.

Nama itu ada.

Satria.

Rahangnya mengeras. “Aku harap dia cukup tahu diri untuk tidak datang,” gumamnya dingin.

Tommy menatap istrinya sekilas. “Kalau dia datang?”

Annisa tersenyum sinis.

“Biar dia lihat sendiri. Bahwa semua yang dulu dia kira miliknya… sekarang milik anak kita.”

Di ruang tunggu pengantin, Dani berdiri di depan cermin. Jas putih gading membalut tubuhnya rapi. Wajahnya tampan, namun tegang.

Raka, adiknya, kini telah menjadi mahasiswa dewasa dengan postur tinggi dan wajah matang, berdiri sambil menyilangkan tangan.

“Kak,” katanya pelan. “Kamu yakin?”

Dani menoleh tajam. “Pertanyaan macam apa itu?”

Raka mengangkat bahu.

“Pertanyaan jujur.”

Dani terdiam sesaat, lalu merapikan manset.

“Ini keputusan terbaik.”

“Untuk hati kamu... atau untuk bisnis keluarga?”

Dani menatap adiknya dingin.

“Jangan mulai malam ini.”

Raka tersenyum tipis. “Aku cuma heran. Orang yang dulu paling kamu benci... justru paling sering benar.”

Dani tahu siapa yang dimaksud.

Satria.

Nama itu membuat dadanya mengencang.

Sementara itu, di jalanan kota, mobil hitam mewah melaju tenang menuju apartemen Tiara.

Di dalam mobil, Satria duduk di kursi belakang dengan setelan abu gelap yang sederhana namun elegan. Wajahnya masih sedikit pucat, namun sorot matanya jauh lebih hidup. Di sampingnya, Danang sesekali menoleh lewat kaca tengah.

“Pak... kalau masih sesak, kita bisa putar balik.”

Satria tersenyum tipis.

“Aku sudah terlalu lama putar balik dari banyak hal, Danang.”

Danang menghela napas pasrah.

“Kalau Ibu Tania tahu saya biarkan Bapak memaksakan diri, saya habis.”

Satria tertawa kecil.

“Kalau malam ini selesai, semua akan lebih ringan.”

Mobil berhenti di depan apartemen Tiara.

Beberapa menit kemudian, pintu lobi terbuka.

Tiara keluar.

Gaun panjang berwarna biru gelap membalut tubuhnya anggun. Rambutnya dibiarkan terurai lembut. Wajahnya sederhana, tanpa riasan berlebihan, namun justru memancarkan ketenangan yang sulit diabaikan.

Lihat selengkapnya