Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #36

Pelaminan saksi segalanya.

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Lampu-lampu kristal tetap berkilau, musik tetap mengalun, para tamu tetap tertawa… tapi bagi beberapa orang di ruangan itu, waktu seperti berjalan pelan menyiksa.

Di atas pelaminan, Maya berdiri kaku di samping Dani. Senyum yang ia tampilkan untuk para tamu terasa semakin berat setiap detiknya. Jari-jarinya yang terbalut sarung tangan putih menggenggam buket bunga lebih erat dari seharusnya.

Karena di antara kerumunan itu…

Ada satu wajah yang tak pernah ia bayangkan akan kembali ia lihat malam ini.

Satria.

Dan lebih menyakitkan lagi Satria tidak sendiri.

Di sampingnya, Tiara berdiri dengan anggun. Tenang. Dekat. Terlalu dekat.

Tatapan Maya sempat bertemu dengan Satria.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup untuk membuat dadanya terasa seperti diremas.

Tidak ada senyum hangat di sana.

Tidak ada luka yang ditunjukkan.

Hanya… sopan.

Seperti dua orang asing.

Dan itu justru lebih menyakitkan daripada kebencian.

Maya menahan napasnya. Matanya mulai panas, tapi ia memaksa dirinya tetap tersenyum saat seorang tamu mengucapkan selamat.

Di sampingnya, Dani juga tidak kalah gelisah.

Tatapannya berkali-kali melirik ke arah Satria dan Tiara.

Rahangnya mengeras.

“Apa dia sengaja?” gumam Dani pelan hampir tak terdengar.

Maya tidak menjawab, ia tidak tahu cerita sebenarnya.

Yang ia tahu… Satria tidak ada hubungannya dengan keluarga Dani, namun' di luar pikiran itu, Maya seperti mendapat kejutan tak terduga, laki-laki yang sempat ia janjikan Cinta tiba-tiba muncul sebagai tamu istimewa, tamu terhormat, bahkan Satria adalah orang penting.

Dan itu membuat Maya seolah tengah di telanjangi kebohongannya olah waktu, segalanya terasa lebih nyata.

...

Di meja VIP, suasana terasa kontras.

Satria duduk di antara Bramono, Surya, dan Tania juga Tiara.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti orang luar.

Tania terus memperhatikannya diam-diam.

Sesekali tangannya bergerak, mendorong gelas air ke arah Satria.

“Minum dulu,” katanya pelan.

Satria menurut tanpa banyak bicara.

Surya tersenyum kecil melihat itu.

“Kamu ini… masih saja diawasi,” godanya ringan.

Satria menghela napas. “Saya tidak keberatan.”

Bramono mengetuk tongkatnya pelan ke lantai.

“Bagus. Kalau kamu keras kepala lagi, saya sendiri yang kirim kamu ke rumah sakit.”

Tiara yang duduk di samping Satria menahan senyum.

Ia sedikit menunduk, lalu berbisik pelan.

“Sesak?”

Satria menggeleng.

“Masih aman.”

“Kamu jangan bohong.”

Satria menoleh, menatapnya sebentar.

Ada ketenangan yang aneh di sana.

“Aku janji… kalau sudah tidak kuat, aku bilang.”

Tiara mengangguk pelan, tapi tangannya tetap berada dekat, siap jika sewaktu-waktu Satria membutuhkan pegangan.

Tania memperhatikan itu semua.

Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum… bukan sebagai atasan.

Tapi sebagai seorang ibu.

...

Di sisi lain ruangan, Annisa berdiri dengan wajah yang sulit disembunyikan.

Tatapannya terus mengarah ke meja VIP.

Ke arah Satria. Ke arah bagaimana Bramono memperlakukannya.

Ke arah bagaimana Tania memperhatikannya.

“Lihat itu,” bisiknya tajam pada Tommy. “Seolah-olah dia anak emas.”

Tommy menyipitkan mata.

“Dia memang selalu jadi masalah.”

Annisa tersenyum tipis, dingin.

“Tidak lama lagi.”

Dari ujung ruangan, seorang pria muda melangkah mendekat.

Lihat selengkapnya