Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #37

Malam penuh bayangan

Udara malam terasa lebih dingin saat Satria dan Tiara melangkah keluar dari ballroom. Suara musik perlahan tertinggal di belakang mereka, berganti dengan desiran angin dan gemerlap lampu taman hotel.

Langkah Satria sedikit melambat saat mencapai area drop-off. Danang sudah berdiri di dekat mobil, membukakan pintu dengan sigap.

Namun sebelum Satria masuk, suara lembut memanggilnya.

“Satria…”

Ia menoleh.

Tania berjalan mendekat, diikuti Surya di belakangnya. Wajah Tania terlihat berbeda, lebih lembut, lebih hangat, dan… lebih dalam dari sekadar hubungan profesional.

“Kamu langsung pulang?” tanya Tania pelan.

Satria mengangguk. “Iya, Bu. Sudah cukup untuk malam ini, terimakasih jamuannya.”

Tania menatapnya beberapa detik. Matanya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan.

“Sama-sama..." Jawab Tania,"Kamu… kuat?” tanyanya lagi, lebih pelan.

Satria tersenyum tipis. “Lebih kuat dari yang saya kira.”

Surya terkekeh kecil di sampingnya. “Dari dulu juga begitu. Keras kepala.”

Satria mengangguk ringan. “Mungkin itu salah satunya juga, kelebihan saya.”

Surya melangkah mendekat, menepuk bahu Satria pelan. “Besok saya ke rumahmu.”

Satria sedikit terkejut. “Besok?”

“Iya. Kita belum sempat bicara banyak. Ada hal yang perlu kita bicarakan… dengan tenang.”

Nada suara Surya tidak biasa. Ada keseriusan di sana.

Satria tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk.

“Baik, Pak. Saya tunggu.”

Tania masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Satria.

“Jangan terlalu dipaksakan,” katanya pelan. “Tubuhmu belum sepenuhnya pulih.”

Satria menatapnya. Ada sesuatu di dalam dadanya yang menghangat, sesuatu yang sulit ia jelaskan.

“Iya, Bu,” jawabnya singkat.

Tania tersenyum kecil.

Dan untuk sesaat… ia hampir mengulurkan tangan. Hampir menyentuh wajah Satria seperti seorang ibu.

Namun ia menahan diri.

“Pulanglah,” ucapnya akhirnya.

Satria mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Tiara sudah duduk di dalam, menatap ke arah Tania dengan sedikit rasa penasaran.

Pintu tertutup.

Mobil perlahan bergerak meninggalkan area hotel.

Tania tetap berdiri di sana, menatap mobil itu hingga menghilang.

Surya meliriknya. “Kamu terlalu terlihat,” katanya pelan.

Tania tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak bisa menahannya.”

Surya menghela napas.

“Mungkin memang sudah waktunya, kita tunggu surat itu keluar.”

Tania tidak menjawab. Namun dalam hatinya… ia tahu, malam ini bukan sekadar pertemuan. Ini awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

...

Di dalam mobil, suasana hening.

Lampu kota berpendar di kaca jendela. Jalanan mulai lengang. Hanya suara mesin mobil dan napas pelan yang terdengar.

Tiara duduk di samping Satria.

Tangannya masih terasa hangat dari genggaman tadi.

Namun kini… ada jarak kecil yang kembali muncul. Bukan karena menjauh.

Tapi karena keduanya sedang memikirkan terlalu banyak hal.

Lihat selengkapnya