Naura dan Zio bersembunyi di balik tirai tebal balkon gedung serbaguna, napas mereka tertahan mendengar rekaman dari mic kecil yang tersambung ke ponsel Zio.
"Gue udah bilang, semua file sesi simulasi terakhir harus dihapus. Termasuk rekaman percakapan antara Alfred dan subjeknya."
Itu suara Davin. Suara yang selama ini terdengar sopan dan tenang di kelas, sekarang terdengar dingin dan mengancam.
Naura menelan ludah. "Subjek? Maksudnya... manusia?"
Zio mengangguk pelan. "Kemungkinan besar, iya."
Mereka berdua saling bertatapan. Dunia yang sedang mereka hadapi ini ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal.
Setelah acara alumni selesai, Zio mengikuti Davin diam-diam. Naura menunggu di luar sambil memantau lewat kamera ponsel. Davin berjalan cepat menuju gedung lama fakultas psikologi. Gedung itu sudah lama tak dipakai karena renovasi yang tak kunjung selesai.
Zio melaporkan lewat earphone kecil.
"Dia masuk ke ruang bawah tanah. Yang dulu katanya bekas laboratorium eksperimen."
Naura terdiam.
Tempat itu pernah disebut Alfred satu kali, sebelum ia meninggal.
"Kalau kamu benar-benar mau tahu, Naura... cari di bawah tanah fakultas. Semua kebenaran dimulai dari sana."
Zio menyelinap perlahan, mengikuti Davin yang menyalakan panel tersembunyi di dinding. Pintu geser terbuka pelan, dan tampak sebuah ruangan putih dengan kaca dua arah.
Zio menyembunyikan dirinya di balik lemari besi tua. Dari celah kecil, ia melihat Davin berbicara dengan seseorang. Sosok itu tak terlihat jelas, tapi suara beratnya mengisi ruangan:
"Alfred terlalu banyak tahu. Dia bukan cuma subjek, dia mulai mengacaukan sistem."
"Makanya dia dibunuh?" tanya Davin.
"Bukan dibunuh. Dia dikorbankan."
Zio memejamkan mata sejenak.
"Naura," bisiknya di earphone, "Alfred bukan bunuh diri. Dia dijadikan tumbal untuk nutupin eksperimen gagal. Dan ada seseorang lagi di balik ini semua."
Sementara itu, Naura menunggu di luar dengan gelisah. Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal:
"Berhenti sebelum kamu ikut jadi korban berikutnya."
Dada Naura mencelos. Ia menatap layar, mencoba menenangkan diri, tapi tak berhasil. Ini bukan sekadar drama kampus. Ini sudah masuk ke ranah yang sangat berbahaya.
Dan kini, mereka tinggal selangkah lagi dari kebenaran...
Setelah kabar yang Zio sampaikan lewat earphone semalam, Naura tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar-putar memikirkan Alfred, rekaman yang belum sempat mereka bongkar, dan pesan ancaman misterius itu.
Pagi ini, Zio mengajak Naura ke perpustakaan pusat kampus. Bukan untuk cari buku, tapi mencari akses ke ruang arsip lama di lantai bawah.
"Aku dapet info dari kakak tingkat. Dulu sebelum digitalisasi, semua laporan eksperimen, terutama yang bersifat sensitif, disimpan di arsip ini," kata Zio sambil membuka pintu tua dengan kunci pinjaman.
Naura mengikuti dengan hati-hati. Lorongnya gelap, berdebu, dan sepi. Lampu neon berkelip-kelip di langit-langit, menambah suasana mencekam.
"Ini kayak ruang tahanan di film," gumam Naura, berusaha bercanda walau wajahnya tegang.
Di ujung lorong, mereka menemukan lemari arsip bertanda "Confidential". Di dalamnya, puluhan map cokelat tua tersusun rapi. Beberapa sudah menguning dan sobek di pinggirnya.
Zio menarik satu berjudul Simulasi Kesadaran Subjek 31 – Alfred Ramadhan.
"Ini dia," bisiknya.