Kisah Protokol X

Penulis N
Chapter #20

20

Malam itu, setelah meninggalkan kantor Profesor Rendra, suasana semakin terasa mencekam. Naura, Amara, dan Zio berjalan perlahan di sepanjang lorong kampus yang sunyi. Tiap langkah mereka teredam dalam kesunyian yang semakin berat, seakan-akan kampus ini bukan tempat yang dulu mereka kenal.

"Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Titik Balik yang disebutkan profesor tadi," kata Amara dengan suara serius, menghentikan langkahnya sejenak.

Naura mengangguk, merasakan ketegangan yang sama. "Aku nggak tahu kenapa, tapi aku merasa semakin dekat dengan sesuatu yang sangat besar. Seperti ada sesuatu yang sedang menunggu kita."

Zio yang berjalan di samping mereka menoleh, menatap Naura dengan mata yang serius. "Apa yang kita hadapi kali ini jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa kita bayangkan. Tapi kita nggak bisa mundur sekarang, kan? Kita sudah sampai sejauh ini."

Amara menghela napas. "Betul. Kalau kita berhenti sekarang, semua yang sudah kita hadapi akan sia-sia. Kita harus terus maju."

Mereka berhenti sejenak di depan sebuah gedung tua yang terletak di ujung kampus. Gedung itu tampak sepi dan gelap, namun ada sesuatu di dalamnya yang menarik perhatian mereka. Sebuah pintu terbuka sedikit, seakan mengundang mereka untuk masuk.

"Apakah kita masuk ke dalam?" tanya Naura, matanya berpindah antara pintu dan kedua temannya.

Zio menatap pintu itu, kemudian mengangguk. "Kita nggak punya pilihan lain. Mungkin ada sesuatu di dalam yang bisa membantu kita."

Mereka berempat melangkah masuk, suasana di dalam gedung terasa dingin dan lembap. Udara di sini penuh dengan aroma debu dan sejarah yang terlupakan. Mereka berjalan menyusuri lorong yang gelap, hanya disorot oleh cahaya lampu senter yang mereka bawa.

"Apa sebenarnya yang kita cari di sini?" tanya Amara, suaranya bergema pelan di lorong sempit.

Naura menjawab pelan, "Aku tidak tahu, tapi aku merasa ini bagian dari petunjuk yang harus kita temukan. Entah apa, tapi... aku merasa kita semakin dekat."

Mereka terus melangkah, hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan yang tampak lebih terang dibandingkan dengan yang lain. Ruangan itu penuh dengan rak buku tua, dan di tengahnya terdapat sebuah meja kayu besar yang tampak sudah berumur. Di atas meja itu, terdapat sebuah buku besar yang tergeletak terbuka.

"Ini dia," kata Zio sambil mengangkat buku itu. "Sepertinya ini adalah bagian dari petunjuk yang harus kita temukan."

Naura memandang buku itu, merasakan getaran yang aneh di dalam dirinya. "Apa ini? Buku ini terlihat sangat tua."

Amara mendekat, matanya meneliti tulisan yang tertera di halaman pertama. "Ini... ini berbahasa kuno. Aku tidak bisa membaca semuanya, tapi ada beberapa kata yang familiar."

Naura mengamati lebih dekat. "Apa itu 'Titik Balik'?"

Zio menyentuh bagian halaman yang terbuka dan menemukan lebih banyak tulisan. "Sepertinya ini adalah bagian dari teks yang mencatat sejarah Pengendali Takdir. Mereka menggunakan takdir untuk mengubah jalannya kehidupan manusia. Tapi... tidak semua orang bisa terhubung dengan kekuatan itu."

Naura menatap Zio. "Lalu bagaimana kita bisa melawan mereka? Bagaimana kita bisa mengubah takdir yang mereka tentukan?"

Zio memandangi buku itu dengan ekspresi serius. "Mungkin ada cara. Jika kita bisa menemukan titik baliknya—momen kritis dalam takdir—kita bisa mengubah semuanya. Tapi kita harus sangat hati-hati. Ini bukan sesuatu yang bisa kita atur dengan sembarangan."

Amara mengerutkan kening. "Tapi apa artinya bagi kita? Apa yang harus kita lakukan?"

Naura menatap buku itu dengan penuh tekad. "Kita harus mencari tahu lebih dalam. Ini adalah kunci untuk mengalahkan Pengendali Takdir. Kita tidak bisa menyerah sekarang."

Ketiganya sepakat, dan mereka mulai memeriksa lebih lanjut isi buku tersebut. Setiap halaman mengungkapkan lebih banyak tentang sejarah gelap kampus ini dan takdir yang dikendalikan oleh mereka yang lebih kuat dari manusia biasa. Mereka harus menemukan cara untuk memanfaatkan titik balik yang tercatat dalam buku ini, namun mereka juga tahu bahwa langkah mereka semakin berbahaya.

Ketika mereka hampir selesai memeriksa buku itu, sebuah suara terdengar dari belakang mereka. "Tolong jangan lanjutkan."

Ketiganya langsung menoleh dan melihat seorang pria berdiri di pintu masuk ruangan. Sosoknya tampak familiar—pria itu adalah salah satu anggota dari organisasi yang mereka kenal.

"Ansel," ujar Naura dengan nada tegas. "Apa yang kamu inginkan?"

Ansel tersenyum tipis. "Aku datang untuk memastikan kalian tidak terlalu jauh melangkah. Apa yang kalian cari bisa berbahaya, dan lebih baik kalau tidak ada yang tahu."

Zio berdiri lebih tegak, matanya tajam. "Kita nggak peduli. Ini masalah kita sekarang."

Ansel tertawa kecil. "Kalian pikir kalian bisa mengubah takdir? Kalian hanya sekelompok anak muda yang sedang bermain-main dengan hal yang jauh lebih besar dari yang kalian bayangkan."

Naura menatapnya dengan penuh tekad. "Kami tidak akan berhenti, Ansel. Kami akan melawan."

Ansel mendekat, matanya berkilat tajam. "Kalau begitu, kalian harus siap menghadapi konsekuensinya. Tidak ada yang bisa mengubah takdir. Tidak ada yang bisa lari dari takdir mereka."

Lihat selengkapnya