KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #1

1. SKYE

Baling-baling kipas angin besi di sudut langit-langit itu berputar lambat. Udara Jakarta pukul dua pagi mulai mendingin, aroma sangit dari papan sirkuit komputer yang dipaksa menyala dua hari penuh menggantung di dalam kamar.

Skye memajukan tubuhnya. Sepasang matanya kemerahan menatap cahaya monitor yang menyinari wajahnya. Rambut hitamnya diikat asal-asalan, beberapa helai menempel di dahi akibat keringat tipis. Tangan kanannya memegang garpu plastik, menusuk gumpalan mi yang sudah membengkak dan kehilangan uapnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa dikunyah dengan benar.

Kursor di layarnya bergerak lambat, menyusuri baris-baris kalimat pada sebuah situs berita umum.

Kecelakaan Operasional Gudang di Muara Angke Berhasil Ditangani

Skye menurunkan pandangannya ke baris berikutnya. Jemarinya mengetuk permukaan meja kayu yang dilapisi stiker-stiker.

"...Juru bicara menyatakan tidak ada ancaman lanjutan bagi warga sekitar ataupun aktivitas logistik pelabuhan. Investigasi internal menyimpulkan adanya korsleting pada sistem panel listrik utama yang memicu percikan api kecil. Pihak pengelola berkomitmen melakukan pemulihan fasilitas dalam waktu singkat..."

Skye meletakkan garpu plastiknya ke dalam mangkuk styrofoam. Sudut kiri bibirnya tertarik ke atas. Ia meraih mangkuk, menempelkan pinggirannya ke bibir, lalu meneguk sisa kuah di dalamnya hingga tandas. Selesai menelan, ia menyeka dagunya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak minyak samar di kulitnya.

Matanya kembali menatap foto dokumentasi yang terlampir di bawah artikel. Dinding beton kelabu dengan atap seng yang melengkung akibat panas. Garis polisi kuning melintang di depan pintu besi yang hangus.

Jemari Skye berpindah ke atas papan ketik Satu tab baru terbuka, kemudian tab berikutnya. Dua belas kotak kecil berjejer rapat di bagian atas peramban webnya. Ia tidak mengetikkan kata kunci baru. Ia hanya menyalin satu frasa dari artikel pertama, tidak ada indikasi sabotase.

Jendela terminal hitam terbuka di monitor kedua. Skrip sederhana yang ia jalankan mulai memindai teks dari belasan portal berita berbeda yang sedang terbuka. Layar Skye mendadak berubah warna ketika sistem otomatisnya menandai kalimat-kalimat yang sama. Teks pada portal berita nasional, berita kriminal lokal Jakarta Utara, hingga unggahan ulang akun informasi di media sosial.

Skye menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia melipat kedua kakinya di atas dudukan kursi, memeluk lututnya sembari memperhatikan barisan warna kuning yang memenuhi seluruh permukaan monitornya.

"Koma," bisik Skye. "Bahkan posisi komanya gak bergeser satu senti pun."

Ia menurunkan kaki, meraih kertas catatan kosong dari bawah tumpukan modem, lalu menuliskan TEKS TUNGGAL dengan pulpen hitam.

Ia meletakkan pulpen itu kembali ke meja. Pandangannya beralih ke daftar tautan video yang ia simpan di dalam folder terenkripsi semenjak malam insiden itu terjadi, tepat satu bulan yang lalu.

Skye mengklik tautan pertama. Layar monitornya menampilkan "Halaman yang Anda tuju telah dihapus karena melanggar panduan komunitas."

Ia beralih ke tautan kedua, video berdurasi sepuluh detik yang diunggah oleh seorang buruh pelabuhan di platform video pendek. Hasilnya sama. Kotak hitam kosong dengan ikon rantai terputus. Skye terus mengklik, satu demi satu, hingga sepuluh tautan selesai diperiksa. Tidak ada satu pun yang menyisakan gambar.

Ia menarik laci mejanya, mengambil flashdisl, lalu mencolokkannya ke komputer. Menggunakan salinan data yang sempat ia tarik dari server penyimpanan sementara dua minggu lalu, ia membuka tangkapan layar dari kolom komentar. Komentar itu berasal dari akun tanpa foto profil bernama UcokAngke99.

"Woi ini bukan kebakaran biasa asli!! Gue liat sendiri sebelum api gede ada tiga mobil hitam masuk, orang-orangnya pake baju hitam-hitam ga ada logo polisi atau Damkar. Mereka masuk bawa box gede terus pas keluar langsung meledak itu gudang-"

Skye mengklik nama akun tersebut. Halaman berganti menampilkan teks Akun tidak ditemukan.

Skye meraih cangkir kopi yang sudah dingin di dekat tumpukan kabel LAN. Ia meminumnya sedikit, rasa pahit menempel di langit-langit mulutnya.

"Beli rokok di depan gang aja gak secepat ini hilangnya," gumamnya pelan.

Ia membuka direktori arsip gelapnya yang terdalam. Skye menekan tombol putar. Video itu bergoyang hebat. Rekaman diambil dari balik celah pembatas seng pembatas proyek. Suara angin pelabuhan bergemuruh masuk ke dalam mikrofon ponsel, diselingi suara teriakan beruntun orang-orang yang berlari tanpa arah. Di latar belakang, bangunan beton menyemburkan lidah api jingga pekat ke langit malam Jakarta yang kelabu.

Pada detik kesembilan, kamera bergeser ke kiri, menangkap sudut gerbang samping gudang yang runtuh. Dua mobil van besar hitam dop bergerak mundur dengan kecepatan tinggi. Kendaraan itu tidak memiliki plat nomor, tidak ada reflektor cahaya di bagian bumper, seluruh kacanya dilapisi lapisan hitam pekat. Mereka membelah kerumunan orang yang panik, lalu menghilang di balik tikungan jalan berlumpur.

Tepat sebelum rekaman itu terputus menjadi noise abu-abu, suara si perekam terdengar sangat dekat dengan mikrofon, terengah-engah dan bergetar. "Jangan dekat-dekat! Woi, jangan dekat! Itu bukan kebakaran biasa! Mereka bawa-"

Lihat selengkapnya