Ujung jari telunjuk Skye masih menempel di atas tombol Enter, baris kode pertama di monitor utamanya melesat runtuh. Cahaya hijau neon memantul di pupil matanya yang melebar, menerangi kerutan tipis di antara kedua alisnya.
Layar monitor kedua berganti menampilkan jam digital peladen target yang menghitung mundur dengan warna merah menyala.
00:09:00
Sembilan menit, jendela waktu yang terbuka sebelum peladen sementara New Hydra mengubah seluruh arsitektur enkripsinya.
Skye meletakkan kedua telapak tangannya di atas papan ketik. Matanya bergerak cepat memindai struktur direktori yang muncul satu per satu di layar. Struktur itu tidak seperti database kriminal yang biasa ditemukan di forum gelap. Tidak ada daftar nama samaran, tidak ada catatan transaksi logistik yang rapi, atau file excel berisi nomor rekening. Direktori yang terbuka di depannya dipenuhi folder tanpa nama, rangkaian angka heksadesimal panjang yang dilindungi lapisan enkripsi bersandi bertingkat.
Skye menarik napas pendek melintasi tenggorokannya yang kering. Fokusnya terkunci sepenuhnya di bilah kemajuan transfer data yang merayap di layar kanan.
"Masuk dikit doang, katanya," bisik Skye, suaranya parau. Matanya menatap angka ukuran file yang terus membengkak melewati batas perkiraan. Jari-jarinya bergerak cepat. "Ambil sampel aja."
Bilah kemajuan di layarnya bergerak ke angka empat puluh persen. Jam merah di monitor kedua terus menyusut.
00:03:12
Skye menelan ludah, lehernya menegang. Jari-jarinya mencengkram erat tepi meja. "Ini bukan sampel. Ini namanya nyolong satu lemari arsip beserta isi-isinya."
00:00:14
00:00:08
00:00:03
Bilah hijau di layar monitor utama menyentuh ujung kanan bersamaan dengan bunyi klik pendek dari mesin hard disk eksternal. Skye menyentak kabel LAN dari lubang laptopnya, memutus koneksi sebelum peladen New Hydra mengirimkan paket data pelacak balik. Ia melempar kabel itu ke lantai, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ujung jarinya sedikit gemetar meraih cangkir kopi dingin.
Skye menatap folder baru yang tergeletak di dalam drive lokalnya. Ukurannya terlalu besar untuk satu transfer data berdurasi sembilan menit. Ia tertawa pendek, lalu mengetuk kanan folder tanpa nama, menggantinya dengan deretan huruf kapital JACKPOT_APA_KUBURAN.
"Selamat pagi, Sandra Asih," gumamnya ke pantulan dirinya di layar pelindung monitor. Matanya sayu sedikit menyipit di bawah cahaya keperakan. "Sepertinya hari ini kita resmi naik kasta dari hacker kere jadi target pembunuhan kelas premium." Ia melirik ke arah kertas tagihan kosan yang tergeletak di bawah meja. "Semoga premium juga bayarannya."
Skye memajukan tubuhnya kembali, mengetuk ganda di folder JACKPOT_APA_KUBURAN. Kotak dialog putih muncul di tengah layar dengan tanda silang merah.
ACCESS DENIED. ENCRYPTION KEY NOT FOUND.
Skye menggerakkan mouse-nya lebih cepat, membuka konsol dekripsi mandiri miliknya, memasukkan beberapa skrip pembongkar sandi yang biasa ia gunakan untuk menembus proteksi data curian dari situs pemerintahan.
Layar monitornya kembali menampilkan teks penolakan yang sama.
Ia membedah struktur metadata luar dari file tersebut, mencari celah bagian baris kode pelindung. Deretan folder kosong memiliki ukuran file yang sangat besar. Di beberapa bagian ujung kode, potongan instruksi administratif dengan penanda tanggal mundur hingga beberapa tahun ke belakang, jauh sebelum insiden Muara Angke terjadi.
Istilah-istilah kaku seperti Operator Lapangan dan Protokol Pembersihan yang tertanam di dalam metadata ditulis dengan kode alfanumerik yang tidak ia kenal. Skye meletakkan kedua telapak tangannya di dahi, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut.
"Oke. Lo bukan database mafia," Skye menatap pola enkripsi yang terus berubah bentuk di layar monitor tengah.
Ia mencoba menjalankan skrip pemindai ketiga. Hasilnya tetap nihil.
"Lo juga bukan file excel," bisiknya lagi, sudut bibirnya berkedut. "Dan lo jelas bukan sesuatu yang seharusnya gue sentuh jam empat pagi dengan saldo empat puluh dua ribu di rekening."
Monitor ketiganya di sisi paling kanan berkedip dua kali. Bilah dasbor akun cadangan Skye di forum Nusantara-X mendadak berubah warna abu-abu. Teks sistem otomatis muncul di tengah layar. Sesi Anda telah berakhir. Pengguna telah keluar.
Skye mengerutkan dahi, jarinya bergerak mengetik kembali kata sandi akun cadangannya. Layar menolak akses dengan peringatan Akun tidak aktif atau tidak ditemukan.
Monitor utama ikut berkedip. Satu per satu akun email buangan yang ia gunakan untuk verifikasi jaringan memunculkan notifikasi pemutusan hubungan. Dasbor pribadi tempat ia mengawasi arus lalu lintas proksinya menampilkan grafik merah yang melonjak tajam.
Dompet digital anonim tempat ia menyimpan sisa Bitcoin hasil kerjaan dari Bagas_99 mendadak memunculkan logo gembok kuning.
Akses ditangguhkan karena aktivitas mencurigakan.
Jalur komunikasi terenkripsi yang ia gunakan untuk menghubungi Kancil beberapa menit lalu terputus. Seluruh log obrolan di dalamnya terhapus otomatis, berubah menjadi deretan kode acak yang tidak terbaca.
Jari Skye menghantam papan ketik, mencoba memutus koneksi internet kosannya melalui perintah terminal, sistem menolak perintahnya. "Enggak. Enggak, enggak, enggak," napasnya mulai memburu. Ia mencoba membuka paksa folder dompet digitalnya sekali lagi.
ACCESS DENIED.
"Anjing," giginya menggertak keras.
Ia berpindah ke monitor kiri, mencoba mengamankan file proyek lokalnya.
SESSION EXPIRED.