Skye menjerit pendek, memejamkan mata, mengayunkan tas ransel ke depan dengan seluruh sisa tenaga di tubuhnya. Ujung laptop di dalam tas menghantam pergelangan tangan pria pertama, alat kejut listrik terlepas ke dalam lumpur. Tangan kiri pria pertama mencengkeram kerah hoodie hitam Skye, menarik tubuhnya hingga terangkat dari atas tanah.
Bunyi beton menghantam daging logam beton terdengar jelas di tengah suara gemuruh hujan. Sebelum pria pertama menyentak tubuh Skye ke tanah, bayangan hitam lain melompat dari atas tepian pagar pembatas proyek. Baskara mendarat dengan kedua kaki yang menekuk sempurna di atas lumpur, ia melayangkan satu pukulan siku horizontal tepat ke arah tulang selangka pria pertama.
Bunyi retakan kecil terdengar samar, disusul tubuh pria pertama terlempar mundur menghantam dinding beton kosan lalu jatuh tidak sadarkan diri di dalam genangan air.
Baskara berputar di atas tumit kakinya, tangan kirinya mencengkeram lengan atas hoodie Skye, lalu menyentaknya ke arah belakang tubuhnya.
Skye ternganga, matanya terbelalak melihat pria berjaket taktis hitam tiba-tiba muncul dari kegelapan. "Hah?!"
Baskara tetap menghadap ke depan, kedua tangannya terangkat di depan dada. Matanya menatap pria kedua menarik sebuah pistol berperedam suara dari balik jasnya. "Lari."
"Apa lo bilang?!" Skye berteriak di antara suara petir yang menggelegar kembali.
"Sekarang," suara Baskara datar dan tenang.
"Lo siapa sialan?! Kenapa malam ini semua orang hobi banget muncul dari atas pager?!"
Baskara bergerak maju dua langkah. Ia menangkap pergelangan tangan pria kedua dengan satu gerakan tangan memutarnya ke bawah, pistol terjatuh ke dalam lumpur. Ia melayangkan satu tendangan lutut keras ke arah ulu hati pria kedua.
Pria kedua terbatuk keras, tubuhnya membungkuk, tangan kirinya mencoba menarik pisau lipat dari saku celana.
Baskara menoleh sedikit ke belakang, matanya menatap Skye dari balik tudung jaketnya yang basah. "Gue yuruh lo lari biar tetap hidup."
"Jawaban lo jelek banget buat ukuran pahlawan penyelamat!" Skye melangkah mundur menuju pintu keluar gang.
"Tapi masih lebih baik daripada nama lo ada di atas batu nisan besok pagi," Baskara mendorong tubuh pria kedua ke arah pagar seng hingga runtuh.
Baskara berbalik, menarik lengan hoodie Skye, memaksanya berlari membelah labirin gang-gang sempit pergudangan Muara Angke. Skye terengah-engah di belakangnya, kakinya menghantam kerikil tajam dan pecahan kaca.
"Lo... lo siapa?! Polisi?! Preman sewaan?! Atau malaikat pencabut nyawa versi ganteng dikit yang diutus bank buat nagih utang kosan gue?!" Skye berteriak, napasnya putus-putus.
"Hemat napas lo," sahut Baskara tanpa menoleh, matanya menyapu sudut-sudut jalan di depan mereka.
"Gue... gue lagi jaga keamanan informasi personal gue!" kata Skye, dadanya naik turun cepat.
"Lo bawel banget dah," balas Baskara, napasny masih teratur.
"Informasi penting kadang emang kedengaran kayak orang bawel buat orang yang kurang literasi digital kayak lo!" balas Skye, wajahnya basah air hujan memerah.
Langkah Baskara terhenti di pojok ruko tua, menahan dada Skye dengan tangan kanannya yang dibalut perban. "Belok kiri."
"Anjing, ngapain lo pegang toket gue!"
Baskara menatap langsung ke sepasang mata kemerahan Skye di bawah cahaya lampu merkuri ruko. "Goblog, udah mau mati masih mikirin toket."
"Iyalah! Jangan karena lo jadi penyelamat gue bisa ngobok-ngobok toket gue!"
"Gue nggak ngobok-ngobok toket lo!"
Skye terdiam, tenggorokannya tercekat melihat siluet tiga orang pria bergerak mendekat di ujung jalan gang.
"...Kiri sebelah mana?" bisik Skye dengan nada suara mendadak turun.
Baskara menyentak tubuh Skye masuk ke dalam celah sempit di antara dua dinding ruko kosong yang gelap gulita.
Mereka keluar dari celah ruko menuju area parkir liar di belakang pasar ikan lama. Di bawah bayangan pohon beringin tua, mobil sedan tua abu-abu terparkir, kondisi mesin sudah menyala pelan. Lampu utamanya dimatikan, lampu senja kuning kecil berkedip teratur di dekat bumper bawah.
Baskara melangkah cepat mendekati mobil, tangan kirinya membuka pintu kabin kemudi. "Masuk."
Langkah Skye terhenti tiga meter dari pintu mobil. Kedua tangannya memeluk tas ransel di depan dadanya. Matanya menyipit, menatap lurus Baskara.
Baskara berdiri di balik pintu mobil, air hujan membasahi wajahnya, ia menoleh, menatap Skye berdiri diam di tengah area parkir kotor. "Waktu kita kurang dari tiga puluh detik sebelum mereka menyisir area ini."