KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #5

5. TARGET CEREWET

Bau solar sisa pembakaran pelat besi, dan dinginnya sisa hujan malam menyengat hidung saat fajar mulai membelah langit Cilincing. Di dalam bengkel las. Skye meringkuk miring di dalam kabin belakang sedan abu-abu. Kedua lututnya ditarik rapat ke dada, mengapit tas ranselnya yang robek seperti seorang anak yang mempertahankan mainan terakhirnya. Wajahnya kusut, noda hitam menempel di pipinya. Tudung hoodie-nya bergeser, rambut hitamnya mulai mengering.

Baskara duduk di atas kursi plastik dekat pintu dorong besi bengkel lima meter dari mobil. Jaket taktis hitamnya digantung di atas pipa las, kaus lengan panjang ketat menempel di lekuk otot bahunya. Matanya bergerak di celah bawah pintu besi, menatap pantulan genangan air jalanan, roda gerobak pasar yang mulai melintas, dan deru pelan mesin truk kontainer dari arah arteri.

Baskara mengalihkan pandangannya ke arah kaca kabin belakang sedan. Jemari Skye bergerak gelisah, mencengkeram kain ranselnya lebih dalam.

"Jangan..." Skye mengigau. "Jangan format... drive-nya..."

Sudut mata Baskara bergeser memperhatikan kerutan di antara kedua alis Skye.

"Charger gue..." Skye mengerang kecil, tubuhnya berputar mengubah posisi meringkuk menjadi telentang, pelukannya di ransel tetap tidak terlepas.

Baskara menatap langit-langit atap yang bocor, satu tetes air dingin jatuh menghantam punggung tangan kanannya yang dibalut perban medis.

"Prioritas hidup lo aneh," gumam Baskara.

Bzzzz.

Perangkat komunikasi di dalam saku celana bergetar. Kode panggilan digital berkedip di layar antipantul.

Baskara bangkit dari kursi plastik tanpa suara. Ia melangkah ringan, berjalan menuju sudut paling belakang bengkel di dekat meja perkakas pemotong besi, menjauh dari jangkauan pendengaran kabin sedan tua.

Ia menekan tombol sensor taktil di perangkat genggamnya, menempelkan mikrofon di belakang daun telinganya. "Status."

Desis statis terdengar sejenak sebelum suara manusia menyahut dari seberang sambungan. "Laporan lapangan, Operator."

"Target primer tidak lagi berada di simpul fisik New Hydra," Baskara menyapu seluruh sudut bengkel.

"Data?"

"Diambil pihak ketiga sebelum saya tiba di titik koordinat simpul."

"Identifikasi pihak ketiga."

Baskara menoleh sedikit, memandang sedan. "Alias digital Skye. Nama sipil dalam database kependudukan Sandra Asih. Target sipil tanpa latar belakang pelatihan taktis."

"Data dipastikan berada padanya?" suara dari seberang menekan dengan nada lebih rendah.

"Kemungkinan tinggi. Subjek mempertahankan media penyimpanan lokal berkapasitas besar di dalam jangkauan fisiknya sepanjang rute pelarian."

"Kemungkinan tidak cukup untuk memenuhi parameter operasi tunggal, Operator Baskara."

"Saya akan memastikan validitas isinya sebelum jendela waktu pelacakan sekunder tertutup," jawab Baskara.

"Ambil data tersebut dari tangannya."

Baskara terdiam beberapa detik. Matanya memperhatikan tetesan oli hitam jatuh dari mesin bubut tua di dekat kakinya. "Jika unit interseptor New Hydra memotong jalur kami lebih dulu?"

"Jangan biarkan parameter itu terjadi. Data tersebut tidak boleh jatuh ke jaringan publik." Suara di speaker telinganya berhenti sejenak. "Jangan terlibat lebih jauh dari kebutuhan operasi lapangan. Subjek adalah variabel organik yang bisa dieliminasi jika mengganggu prioritas pengamanan arsip."

"Jika target sipil mencoba melakukan penetrasi ulang ke dalam struktur arsitektur data saat berada dalam pengawasan?" tanya Baskara pelan.

"Dia bukan lagi target sipil biasa sejak jarinya menyentuh gerbang luar jaringan New Hydra. Amankan medianya. Selesaikan evaluasimu."

Baskara menatap lurus ke arah kaca depan sedan tua, di mana bayangan tudung hoodie hitam Skye mulai bergerak naik. "Dimengerti."

Klik.

Jalur komunikasi terputus. Layar monokrom di perangkat genggam Baskara kembali hitam.

Baskara memasukkan kembali ke dalam saku celananya. Ia berbalik kembali menghadap ke arah mobil, pintu penumpang belakang sedan tua bergeser terbuka.

Skye melangkah keluar, matanya sembab, menyipit menatap Baskara berdiri di kegelapan sudut meja perkakas.

Skye menarik ujung hoodie hitamnya ke bawah, menutupi bagian celana jinsnya yang kotor. Tangan kanannya mencengkeram erat tali ransel di pundak kirinya. Wajahnya kusut, rambutnya mencuat ke segala arah. Ia melangkah menjauhi mobil, menatap Baskara berjalan mendekat.

"Lo ngapain berdiri di situ pagi-pagi?" tanya Skye, suaranya parau.

"Jaga pintu luar," jawab Baskara singkat, berhenti tiga langkah di depan kap mesin sedan.

Skye mendengus, matanya menyapu langit-langit bengkel yang kelabu. "Jaga dari siapa? Jin penunggu bengkel?"

"Dari orang-orang yang ingin mau jantung lo berhenti sebelum jam makan siang."

Skye memijat pangkal hidungnya. "Gila ya. Pagi-pagi banget lo udah bikin obrolan ringan sehangat pembacaan berita duka cita di televisi."

"Lo yang nanya posisi gye," kata Baskara datar.

"Harusnya lo itu jawab Selamat pagi cantik, tidur lo nyenyak? atau Mau teh anget gak? kayak manusia normal yang punya silsilah keluarga, Mas," Skye melangkah memutari kap mesin, meregangkan otot-otot pinggangnya.

"Tidur lo nggak nyenyak," mata Baskara, mengikuti langkah kaki Skye. "Lo ngigo dua kali."

Lihat selengkapnya