KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #6

6. LAPORAN

Baskara memperhatikan jemari tangan kanan Skye bergetar. Skye melirik tatapan mata Baskara tertuju ke jemarinya, ia menarik tangannya masuk ke saku depan hoodie hitamnya, memeluk bodi laptopnya lebih rapat ke dada.

Tangan Baskara bergerak mengambil botol air mineral dari dalam kantong pintu kemudi sedan, lalu menggeser perlahan di atas kap mesin ke depan siku tangan Skye.

Skye melirik botol plastik dengan sudut matanya. "Gue gak biasa nerima jenis makanan atau minuman dari pria asing."

"Terus kenapa tadi tetep makan nasi uduk?" suara Baskara.

"Gue laper," ketus Skye.

"Bedanya sama air ini?" Baskara meraih satu botol air mineral cadangan lain dari dalam mobil, lalu meminumnya. "Kalau gue mau bunuh lo, udah dari semalem pas lo tidur di dalem mobil."

Skye terdiam, memandangi botol plastik bersegel di depannya. "Kalimat lo barusan... harusnya gak bikin perasaan gue ngerasa lebih tenang ya. Tapi anehnya... kalimat lo barusan agak masuk akal."

Ia menarik tangan kanannya dari kantong hoodie, meraih botol plastik. "Gue tetep gak percaya sama lo ya,. Catat itu." Skye meminum air mineral hingga separuh.

"Itu tindakan yang bagus," kata Baskara pendek.

"Bagus?" Skye mengerutkan dahi.

"Kalau lo terlalu cepet percaya. Lo gampang buat dieliminasi." Baskara melirik ke perangkat komunikasinya yg bergetar di dalam saku.

Baskara melangkah maju, tangan kanannya menjulur lurus ke arah engsel layar laptop Skye. "Kita cabut. Gelombang radio mereka sudah ngunci tempat ini."

"Bentar dulu sialan! Gue hampir dapet pola urutan baris kode pembuka lapisan kedua!" Skye berteriak, menahan pergerakan tangan Baskara.

Baskara menekan bagian atas layar laptop Skye, melipat laptopnya tertutup. "Mereka juga hampir nemuin lokasi lo kalau komputer lo tetep hidup."

Wajah Skye memerah, ia merebut kembali laptopnya dari cengkeraman Baskara. "Bisa gak sih, lo itu ngasih berita buruk setelah gue selesai sarapan dan beres-beres dengan tenang?!"

"Kita lagi dikejar, Skye," tangan kiri Baskara bergerak memasukkan laptop Skye ke dalam ransel.

Skye menghentakkan kakinya ke lantai. "Gue berani sumpah demi apa pun ya... lo... lo waktu masih bayi pasti kalau nangis minta susu pake jadwal yang ketat banget!"

Baskara menghentikan gerakannya di depan pintu kemudi mobil, menatap wajah kesal Skye. "Rapihin barang-barang lo, jangan sampe ada yang ketinggalan. Cerewet."

Skye membeku di dekat pintu penumpang, matanya membelalak menatap Baskara. "Apa lo bilang?!"

Baskara membuka pintu mobil, menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi kemudi yang dingin. "Buruan masuk, atua gue tinggal."

Skye merenggut ranselnya lalu duduk di kursi penumpang. Ia menarik ritsleting tasnya setengah terbuka kembali, memastikan ujung hard disk eksternalnya tidak rusak akibat gerakan kasar Baskara, lalu menutup kembali.

Gerakan tangannya berhenti, pandangannya lurus ke layar monitor kecil komputer Skye dalam mode sleep berkedip sekali menampilkan sisa log baris perintah terakhir yang sempat diproses skrip pembongkar enkripsinya beberapa detik lalu.

Matanya menatap tanpa berkedip ke tiga baris potongan tanda tangan digital tersembunyi di bagian paling bawah baris kode metadata New Hydra. Itu bukan deretan angka heksadesimal acak yang dibuat oleh mesin, bukan pula pola enkripsi kaku berspesifikasi militer milik organisasi kriminal.

Alis Skye bertaut. "Ini bukan deretan angka heksadesimal acak yang dibuat mesin."

Baskara menoleh, menatap samping wajah Skye. "Maksudnya?"

Sandra menelan ludahnya. "Enggak... enggak mungkin..."

Alis Baskara bertaut, matanya menyipit. "Lo kenapa?"

"Ini bukan pula pola enkripsi militer organisasi kriminal."

Lihat selengkapnya