KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #7

7. MISI BARU

Sisa pembakaran solar dari cerobong pabrik di pinggiran Cilincing perlahan memudar, aroma tanah basah tercium saat sedan abu-abu tua merayap membelah kabut tipis pagi. Mobil berhenti di bahu jalan arteri yang sepi. Di sebelah kiri, pagar seng proyek yang berkarat berdiri kaku. Di sisi kanan, truk-truk kontainer sesekali melintas, deru mesin diesel menggetarkan kaca jendela kabin.

Di dalam kabin, hawa dingin perlahan merayap dari celah lantai bodi mobil. Kedua kaki Skye ditarik ke atas dudukan jok, lututnya mengapit tas ranselnya. Sudut laptopnya menyembul setiap kali bodi mobil bergetar. Wajahnya kusut, noda hitam samar dari debu bengkel las tertinggal di tulang pipinya, tangannya menggenggam botol air mineral, meremasnya pelan.

Baskara mengemudi dengan satu tangan di lingkar setir, tangan kanannya bertumpu di tuas transmisi. Pandangannya lurus, menyapu kabut fajar.

Bzzzz.

Perangkat komunikasi di dalam saku celananya bergetar pendek. Baskara menunggu hingga truk kontainer berikutnya lewat. Ia menarik perangkat, menyembunyikannya di bawah bayangan lingkar kemudi. Layar antipantulnya menyala samar.

Baskara membaca baris kalimat pendek di atas layar.

JANGAN AMBIL DATA.

IKUTI SUBJEK.

VALIDASI JALUR CHACHA.

LAPORKAN PERKEMBANGAN.

Gerakan jemari Baskara tertahan di atas tombol sensor.

Skye melirik samping wajah Baskara Ia menegakkan punggungnya. "Lo kalau mau main alat rahasia, minimal jangan pasang muka kayak orang baru dapet tagihan pinjol."

Tangan kiri Baskara bergerak pelan menekan tombol samping perangkat, lalu memasukkannya kembali ke saku celana. "Ngapain ngelirik?"

"Mata, mata gue, terserah gue ngeliat kemana," balas Skye cepat, bibirnya berkedut. Ia memajukan tubuhnya, kepalanya di samping bahu Baskara. "Muka lo itu lebih mencurigakan dari dua agen New Hydra semalem. Ada apa?"

"Bukan urusan lo," jawab Baskara pendek, matanya menatap lurus ke arah depan.

Skye mendengus, menyandarkan kembali punggungnya ke sudut jok mobil. "Jawaban standar cowok bermasalah yang isi kepalanya kalau gak utang judi, ya sindikat gelap. Klasik banget."

"Lo punya terlalu banyak komentar buat orang yang lagi diburu," kata Baskara datar, kakinya menekan pedal rem sedikit saat sedan mereka melewati gundukan aspal kasar.

"Dan lo punya terlalu banyak rahasia buat orang yang ngakunya cuma mau bagian jual data," suara Skye meninggi, menunjuk saku celana Baskara. "Semalam lo bilang lo mau komisi, lo mau duit dari barang ini. Tapi barusan? Muka lo gak kelihatan kayak orang yang lagi mikirin duit. Lo kayak lagi dapet perintah dari bos lo."

Baskara diam. Lingkar setir di genggaman tangan kirinya tidak bergeser.

Skye menyipitkan matanya, menatap samping wajah Baskara. "Diam lo tuh lebih nyebelin dari semua omongan taktis lo dari tadi. Lo beneran lagi ngerencanain sesuatu yang buruk buat gue, ya?"

Baskara melirik spion tengah, mengawasi warung klontong tutup di dekat bekas gudang semen yang terbengkalai seratus meter di depan mereka. Kaki kirinya menekan kopling, tangannya memindahkan gigi transmisi ke posisi rendah, mobil berbelok pelan menuju area bahu jalan yang lebih gelap, terlindung di bawah bayangan pohon angsana tua.

Di luar, hawa dingin Cilincing berbaur dengan bau semen lembap dari gudang tua. Baskara membuka pintu kemudi, ia melangkah keluar.

Tatapan Skye bergerak mengikuti tubuh Baskara. Kedua tangannya memeluk ransel di dadanya lebih erat.

Baskara berjalan lima langkah ke belakang mobil, berhenti di samping tiang listrik beton. Ia meraba saku celananya.

"Status lapangan, Operator," suara dari seberang sambungan menekan tanpa basa-basi.

"Perintah berubah. Data jangan diamankan sekarang," suara Baskara rendah, hampir berbisik.

"Konfirmasi diterima. Tetap di posisi pengawasan."

"Data sudah ada dalam jangkauan fisik saya," Baskara memotong cepat. "Subjek tidak memiliki kemampuan defensif. Saya bisa menyelesaikan evaluasi lapangan dan membawa modul penyimpanan ke pusat komando dalam waktu tiga puluh menit."

"Jangan."

Baskara terdiam. Tangannya mengetuk tiang listrik beton perlahan. "New Hydra masih melakukan pelacakan aktif melalui sektor BTS utara. Makin lama data ini di tangan warga sipil, risiko kontaminasi dan kebocoran informasi ke jaringan luar makin besar."

"Risiko itu sudah dihitung dan diterima pusat komando, Operator Baskara."

"Kenapa?"

"Subjek Sandra Asih mendeteksi adanya fragmen jejak digital Chacha di dalam metadata peladen New Hydra. Informasi itu akurat?"

"Akurat. Subjek mengonfirmasi pola indentasi dan penanda waktu yang cocok dengan arsip siber tahun 2020," jawab Baskara.

"Kalau begitu, perintah tetap tidak berubah. Chacha bukan target awal operasi ini, tapi sekarang nama itu menjadi prioritas utama agensi. Kami membutuhkan jalur akses fisik menuju entitas tersebut."

Baskara menoleh, ia menatap Skye mengusap ujung hidungnya. "Jika subjek melarikan diri dari rute pengawasan?"

"Jangan sampai hal itu terjadi. Itu adalah tanggung jawab fisikmu di lapangan."

"Jika subjek menolak bekerja sama setelah menyadari keberadaan saya?" tanya Baskara lagi, matanya menyipit melihat mobil boks bergerak lambat di kejauhan jalan arteri.

"Buat dia percaya kalau dia yang memegang arah pelarian ini. Biarkan dia merasa memimpin."

Baskara menarik napas panjang. "Jadi, subjek sengaja dipakai sebagai penunjuk jalan menuju target sekunder."

"Gunakan istilah apa pun yang membuatmu paham, Operator Baskara. Tugasmu memastikan dia tetap hidup, tetap merasa bebas, dan tetap berjalan menuju titik temu Chacha. Selesaikan evaluasimu dengan parameter baru ini. Operasi berlanjut."

Klik.

Sambungan terputus. Layar monokrom kembali mati, pantulan wajah kaku Baskara di atas permukaan kaca perangkat. Ia memasukkan kembali ke dalam sakunya.

Pintu sedan kembali terbuka. Baskara duduk ke kursi pengemudi. Tangannya bergerak merapikan letak perban di pergelangan tangan kanannya yang sedikit melonggar.

Skye memutar tubuhnya menghadap ke arah Baskara. Ranselnya dipeluk erat di depan dada, matanya menyipit, menatap tajamiwajah Baskara. "Siapa?"

Lihat selengkapnya