Baskara memarkir mobil di bawah bayangan kanopi ruko yang masih tutup di pinggiran jalan arteri timur. Di seberang jalan, kasir minimarket melayani satu-satunya pelanggan.
Ia mematikan mesin mobil, memutar tubuhnya sedikit menghadap ke arah Skye. "Nama asli lo... udah nggak aman. Itu artinya kita nggak bisa gerak di ruang publik, losmen, atau bahkan nanya di bengkel Bintaro nanti pake identitas asli lo atau Skye."
Skye meletakkan ponsel cadangannya di atas dasbor, melipat kedua tangannya di depan dada. "Oke. Nama samaran gue untuk operasi siber kali ini adalah..." ia mengangkat dagunya. "Vanessa Aurelia Maheswari."
Baskara menatap Skye datar tanpa berkedip. "Nggak."
"Kenapa nggak?!" protes Skye, suaranya meninggi satu oktav. "Nama itu kedengaran mahal banget dan mewah. Punya branding karakter yang kuat kayak anak ekspatriat yang tinggal di apartemen kawasan Sudirman!"
Baskara menggeser genggaman tangannya di atas lingkar setir. "Lo nggak cocok."
Wajah Skye memerah padam. Ia memajukan tubuhnya, ujung hoodie-nya bergeser menyentuh tepian dasbor. "Maksud lo nggak cocok, gue jelek?!"
"Gue nggak bilang lo jelek. Gue bilang nggak cocok."
"Sama aja!"
"Beda."
"Apanya?!" Skye menghentak punggungnya kembali ke sandaran jok.
Baskara mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menunjuk papan nama neon minimarket di seberang. "Tujuan nama samaran bikin profil lo tenggelam, bukan malah mencolok kayak lampu neon."
Skye mencibir, sudut bibirnya tertarik ke atas. "Alesan lo nggak nyambung."
"Oke. Lo yang bilang sendiri nama itu mahal dan mewah," Baskara menurunkan pandangan matanya, memindai Skye dari atas ke bawah. "Coba lo ngaca, rambut acak-acakan. Pake hoodie bukan blazer. Sendal jepit bukan heels."
"Gue bisa dandan!" potong Skye. Tangannya meremas kain hoodie-nya.
"Nggak perlu. Kita bukan mau jual produk kecantikan, Skye." balas Baskara lempeng.
"Fine! Terserah lo deh yang paling tahu soal dunia hitam!" Skye mencibir, melemparkan pandangannya ke luar jendela. "Terus lo sendiri mau pake nama apa? Budi? Atau joko?"
"Budi," jawab Baskara pendek. "Itu nama yang cukup aman."
Skye menoleh kembali, menatap wajah Baskara. "Ya Tuhan... lo bener-bener bentuk kriminal nyata terhadap seni penyamaran karakter, Bas! Muka lo kaku kayak batu nisan begini mau dikasih nama Budi? Gak ada korelasinya sama sekali!"
"Nama yang membosankan itu nama yang paling aman. Orang nggak akan inget nama Budi setelah denger lima nama lain dalam waktu yang sama."
"Kalau lo tetep kekeh mau pakai nama Budi sepanjang perjalanan... gue nolak mati bareng lo di dalam mobil ini, Bas. Catat itu," Skye mendengus.
Ujung jari Baskara mengetuk lingkar setir. "Mulai sekarang kita jadi pasangan."
"Eh apaan?!" Skye menoleh cepat, beberapa helai rambutnya mencuat keluar dari tudung hoodie. Matanya melotot menatap wajah Baskara. "Kalo mau nembak gue minimal romantis dikit napa."
Ketukan jari Baskara berhenti. Ia menoleh, tatapannya bertemu dengan mata Skye. "Penyamaran, Skye."
"Kenapa harus pasangan?" Alis Skye berkerut.
Baskara kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap genangan air jalanan yang bergetar setiap kali dihempas angin arteri. "Kedok penyamaran paling aman dan gampang ya jadi pasangan."
"Kedok aman menurut siapa? Menurut standar operasional KUA cabang neraka?!" cetus Skye, dadanya naik turun cepat.
"Menurut standar orang yang nggak mau ditanya terlalu detail."
"Nggak mau!" Skye menghentak tumit sandal jepit karetnya ke lantai pelat mobil.