KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #9

9. JEJAK

Matahari siang tertutup rapat lapisan awan mendung, menggantung di atas langit Bintaro. Udara pengap oleh kelembapan tinggi yang berbaur dengan aroma sisa pembakaran bensin oktan tinggi, oli mesin pekat, dan asap rokok kretek dari bengkel motor gede tua.

Sedan abu-abu Baskara berhenti di bahu jalan, lima meter dari gerbang bengkel. Baskara mematikan mesin, menoleh ke arah Skye. "Ingat... kedok kita."

"Iya, iya, Budi kaku! Gue tahu tugas gue!" Skye membetulkan ritsleting hoodie hitamnya.

Mereka turun dari mobil bersamaan. Skye melangkah masuk lebih dulu, tas ranselnya tersampir di pundak kiri.

Di balik meja kasir, seorang pria tua berusia akhir lima puluhan duduk di atas kursi. Sepasang matanya mengunci pergerakan Skye dan Baskara sejak mereka melewati ambang pintu besi bengkel.

Tangannya memegang cangkir seng berisi kopi hitam pekat berhenti di udara, asap tipis dari rokok kretek terselip di antara jari telunjuknya bergerak lambat naik ke langit-langit.

"Mau servis apa?" tanya Om Bewok, suaranya berat.

Skye melangkah menuju meja kasir. "Mau servis... motor, Om."

Om Bewok menurunkan cangkir ke atas meja. Matanya bergerak perlahan melewati bahu Skye, menatap lurus ke luar pintu gerbang. "Motornya mana?"

Skye menelan ludah, jarinya bergerak di tali tas ranselnya. "Ada... Om."

Om Bewok kembali mengalihkan pandangannya ke arah wajah Skye, alisnya bertaut. "Di mana? Datang ke bengkel motor gede tapi nggak bawa motornya sama sekali. Terus kalian berdua mau apa di sini? Mau servis mesin mobil sedan tua itu di bengkel gue?"

Baskara melangkah maju berdiri di samping kiri Skye. "Maaf, Om. Kami ke sini cari informasi orang yang dulu pernah terhubung di tempat ini."

Om Bewok melirik ke tubuh Baskara. "Polsek Bintaro ada di ujung jalan setelah perempatan," tangannya kembali meraih rokok kreteknya. "Kalau kalian bawa masalah atau urusan utang piutang, jangan masuk ke pintu bengkel gue."

"Kami cuma butuh informasi pendek, Om."

Om Bewok mengembuskan asap rokoknya melintasi ruang kosong di antara mereka. "Orang yang datang ke sini sambil bilang kata cuma... biasanya selalu bawa masalah yang ukurannya jauh lebih besar dari pintu bengkel gue."

Skye menarik napas pendek. Ia memajukan wajahnya, menatap langsung ke dalam mata Om Bewok. "Saya... nyari orang yang pernah kerja di bengkel ini, Om."

Mata Om Bewok menyipit. "Namanya?"

Skye melirik Baskara melalui sudut matanya. "Chacha."

Om Bewok menurunkan rokoknya, meletakkan di pinggiran asbak. "Chacha siapa?"

"Saya nggak tahu nama aslinya, Om. Saya cuma tahu jejaknya pernah ada di bengkel ini."

Om Bewok mendengus pendek. "Anak-anak zaman sekarang... kalau sudah nemu satu nama... langsung ngerasa pintar dan nekat dateng ke pintu rumah orang tanpa mikir risiko."

Skye menunduk. "Saya ngerti tindakan saya ini lancang banget, Om. Tapi saya datang ke sini bukan buat ganggu atau bawa masalah ke bengkel Om. Saya cuma butuh tahu... sosok Chacha yang saya cari itu... pernah benar-benar ada di sini atau nggak."

Om Bewok bangkit berdiri dari kursi perlahan.

Ia mematikan rokok kreteknya, lalu melirik ke arah Baskara dan Skye bergantian. "Ikut gue ke belakang." Om Bewok berbalik, melangkah ke bagian belakang bengkel.

Ruangan belakang bengkel dipenuhi oleh aroma sisa kopi pahit yang berbaur dengan bau kertas-kertas karton map lama. Lemari arsip tua kayu jati berdiri di sudut ruangan, dipenuhi tumpukan foto-foto kusam berbingkai hitam dari komunitas motor tahun sembilan puluhan.

Lihat selengkapnya