Brummmm! Brummmm!
Deru dua mesin sepeda motor trail memotong keheningan luar bengkel, berhenti melambat tepat di depan pagar bengkel.
Baskara berputar lurus menghadap ke arah pembatas ruangan, tangan kirinya mencengkeram erat gagang senjata pendek tersembunyi di balik jaketnya. Matanya menyipit, menatap bayangan tubuh di dekat meja kasir.
"Mereka sudah di depan," Baskara menoleh ke Skye lalu beralih ke Om Bewok.
Om Bewok bergerak menuju ke arah lemari arsipnya, menekan sekat kayu rahasia di samping bawah, pintu bergeser terbuka menuju ke arah jalur gang samping bengkel. "Keluar lewat jalur sini. Gue nggak mau bengkel gue ribut."
Baskara melangkah cepat merenggut lengan Skye. "Mulai dari detik ini... lo istri gue."
Skye tersedak ludahnya. "Apa lo bilang?! Istri?! Sialan lo ya, Bas!"
"Nggak usah bawel," sahut Baskara tanpa menoleh, tangannya membuka selot pintu besi samping.
"Lo itu kalau mau ngasih pengumuman... bisa pake sesi pemanasan dikit nggak sih bahasanya?!" bisik Skye, wajahnya memerah padam menahan kesal di bawah tudung hoodie-nya.
"Nggak ada waktu, Skye."
"Gue belum setuju buat nikah versi buronan bareng cowok kaku kayak lo ya, Bas! Catat itu!"
"Tugas kita cuma tinggal ribut di depan mereka nanti," Baskara mendorong tubuh Skye keluar dari celah pintu besi.
Langkah Skye berhenti di ambang gang, menatap wajah datar Baskara. "Tinggal ribut lo bilang?!"
"Pake nada suara yang itu," Baskara mengangguk. "Nadanya pas."
Skye mengepalkan kedua tangannya di tali tas, giginya menggertak keras. "Lo tuh ya... bener-bener jenis partner hidup yang paling bajingan...
"Lo berdua bisa lanjut ribut di luar bengkel gue," potong Om Bewok balik kegelapan ruangan. "Jangan bawa masalah masuk ke ruang belakang gue."
Baskara menarik lengan Skye, mereka melangkah cepat membelah labirin gang sempit berlumpur samping bengkel, keluar menuju ke arah trotoar jalan utama RC Veteran.
Begitu kaki mereka menapak di atas aspal trotoar yang basah, Skye langsung mengambil inisiatif drama dengan volume suara yang sengaja dikeraskan hingga memancing perhatian beberapa pejalan kaki di sekitar halte bus terdekat.
"Mas! Aku dibilang dari tadi ya! Motor segede dosa yang lo liat di internet itu gak usah dibeli!" teriak Skye saat mereka sampai di depan bengkel. "Uang belanja dapur kita bulan ini sudah habis buat bayar cicilan losmen, lo malah sibuk mikirin hobi moge lo yang gak berguna itu!"
Baskara berjalan di samping kanan Skye. "Motornya... nggak ada disini, Rina."
Skye memutarkan bola matanya, memajukan wajahnya ke arah bahu Baskara. "Ikutin aja plot ceritanya, bego! Jangan cuma ngeluarin kalimat kaku kayak gitu!"
"Akting drama lo... kelihatan jelek dan terlalu berlebihan," balas Baskara pelan, matanya bergerak mengawasi sudut warung kopi seberang jalan.
"Minimal gue udah usaha maksimal buat nyelametin nyawa kita berdua pake seni peran ya, Budi kaku!" ketus Skye.