Bunyi gesekan wiper beradu dengan rintik hujan yang mulai rapat mendera atap logam kabin. Di luar, jalur arteri yang menghubungkan pinggiran Bintaro menuju koridor Ciputat tampak kelabu. Aspal basah memantulkan sorot lampu merah dari truk-truk logistik dan motor-motor bebek yang melipir di bawah jembatan layang. Hawa dingin sisa hujan perlahan merembes masuk lewat celah karet pintu mobil,
Skye duduk di jok belakang. Kedua lututnya ditarik rapat ke atas dudukan, mengapit tas ranselnya seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk. Wajahnya menatap lurus ke arah jendela samping, menempelkan keningnya ke kaca yang berembun.
Baskara mengemudi dengan tenang. Kedua tangannya berada di posisi jarum jam sepuluh dan dua pada lingkar setir. Sesekali, ia melirik ke arah Skye, memantau pergerakan pupil matanya, lalu beralih ke spion samping, memastikan tidak ada siluet motor trail New Hydra yang membuntuti mereka dari arah belakang.
Skye menarik napas panjang, dadanya naik turun. "Lo tahu bagian paling nyebelin dari semua ini?"
Baskara memindahkan tuas transmisi ke posisi gigi dua "Banyak."
Skye mendengus, tangannya menghantam bodi tas ransel. "Jangan jawab dulu sebelum gue selesai dramatis, bisa nggak sih? Potong momentum banget lo."
"Silakan," Baskar menatap lampu rem mobil boks di depannya.
"Nama asli legenda siber paling serem di forum Nusantara-X... nama orang yang bikin satu negara takut salah ketik kode peladen... ternyata cuma Anisa Agustina."
"Nama normal," Baskara menekan pedal kopling perlahan saat arus lalu lintas di depan mulai melambat.
Skye memiringkan tubuhnya, menumpukan dagunya di atas sandaran jok pengemudi, tepat di samping telinga kiri Baskara. "Justru itu masalah utamanya, Budi kaku! Nama itu terlalu normal buat orang yang rekam kodenya bisa bikin sistem Dishub mati total empat tahun lalu. Harusnya namanya tuh yang punya aura gelap, kayak... CyberGhost, atau minimal yang ada angka heksadesimalnya di belakang."
"Atau karena dia memang manusia biasa," Baskara melirik ke dalam sepasang mata kemerahan Skye yang menyipit. "Bukan karakter fiksi di dalam forum lo."
Skye menarik tubuhnya kembali. "Bas, lo kalau disuruh jagain lilin ulang tahun anak kecil, pasti lo tiup sebelum lagunya selesai kan? Biar efisien?"
"Kalau lilinnya berpotensi ngebakar taplak meja dan membahayakan ruangan, iya," jawab Baskara tanpa perubahan intonasi sedikit pun.
"Nggak semua hal di dunia nyata ini berbentuk ancaman fisik atau parameter bahaya, Bas," Skye memutar bola matanya.
Baskara memutar setir ke kiri, mengarahkan moncong mobil keluar dari jalur arteri utama menuju jalan lingkungan yang lebih sempit. "Sejak gue ketemu lo di gang kosan semalam... statistik ancaman itu berubah jadi seratus persen."
Sedan abu-abu tua merayap masuk ke dalam koridor padat sewaktu memasuki wilayah Ciputat. Di kanan dan kiri jalan, deretan ruko tua berlantai dua berdiri kaku. Warung-warung makan tenda biru mulai menggelar terpal mereka di atas trotoar, beradu dengan papan-papan nama hotel murah berlampu neon yang berkedip-kedip di bawah guyuran hujan tipis.
Skye menguap, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Baskara melirik sekilas.
Mobil sedan melambat, lalu berbelok patah ke arah halaman parkir bangunan berlantai tiga. Di bagian depan teras, papan nama kayu tergantung miring dengan tulisan Hotel Melati Indah.
Skye melongokkan kepalanya ke luar jendela, menatap papan nama hotel. "Jangan bilang itu tempat aman versi lo, Bas."
Baskara mematikan mesin mobil. "Itu tempat aman versi situasi finansial dan status buronan kita sekarang."
"Bas, itu papan namanya aja kelihatan kayak bangunan yang udah nyerah sama hidup dari zaman krisis moneter," Skye menunjuk ke arah lampu teras hotel yang berkedip-kedip. "Gue mending tidur di dalam mobil ini daripada harus masuk ke tempat yang punya potensi tinggi jadi lokasi syuting film dokumentasi kriminal siber."
Baskara membuka sabuk pengamannya. "Bagus. Orang-orang dari unit New Hydra juga nggak akan banyak periksa tempat yang penampilannya kelihatan menyedihkan begini. Ini namanya manajemen jejak visual."
Skye mendengus, melompat keluar dari kursi belakang sambil mendekap tasnya erat-erat. "Gue emang pernah ngekos di tempat yang temboknya rembes air hujan tiap malam, Bas. Tapi hotel ini... ini punya aura kriminal pajak bumi dan bangunan yang kuat banget asli. Kalau kita digerebek satpol pp di dalam, reputasi gue sebagai peretas gelap langsung hancur total."
"Kita cuma butuh waktu beberapa jam buat bersihin data lo," Baskara melangkah memutari kap mesin, sepatunya menapak di atas bagian tanah yang agak kering. "Nggak usah mikirin reputasi forum."
"Beberapa jam di tempat kayak gini bisa mengubah seluruh struktur kepribadian manusia normal jadi psikopat kaku kayak lo, tahu gak?" Skye berjalan cepat mengekor di belakang bahu lebar Baskara, mencoba berlindung dari rintik hujan di bawah naungan jaketnya.
Baskara berhenti tepat di depan pintu kaca lobi, lalu menoleh sedikit ke arah Skye. "Kepribadian lo dari awal lo nyentuh file server semalam emang sudah bermasalah, Skye. Nggak ada yang perlu diubah lagi."
Skye ternganga, wajahnya memerah padam di bawah tudung hoodie-nya. "Lo... lo sekarang mulai berani ya ngeluarin kalimat hinaan personal yang panjang kayak gitu."
"Fakta, Skye" sahut Baskara pendek, tangannya mendorong pintu kaca lobi. "Ingat nama palsu lo waktu di dalam. Rina."
Lobi hotel melati tidak lebih besar dari kosan Skye yang berantakan. Lampu bohlam putih berdaya rendah menggantung kaku di langit-langit, memancarkan cahaya redup. Udara di dalam ruangan didominasi aroma pewangi ruangan semprot rasa jeruk, bercampur dengan bau asap rokok yang menempel di sofa kulit sintetis. Kipas angin besi terpasang di dinding sudut.
Di balik meja resepsionis, seorang wanita muda berusia awal dua puluhan duduk dengan posisi menopang dagu. Wajahnya kusut, rambutnya diikat asal-asalan, dahinya mengkilap oleh minyak. Matanya yang setengah mengantuk langsung terbuka penuh, memancarkan tatapan curiga yang tajam saat melihat tubuh Baskara yang tinggi tegap dengan rahang memar, diikuti Skye yang penampilannya acak-acakan dengan ranse.
Baskara melangkah maju, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja resepsionis. "Ada kamar kosong?"
Wanita resepsionis melirik pakaian hitam Baskara, lalu beralih menatap Skye menarik tudung hoodie-nya ke bawah. "Mau berapa kamar, Mas?"