Langit Ciputat perlahan disinari garis fajar berwarna jingga pucat. Di dalam bangunan kosong tempat mereka berteduh, udara subuh berangsur berganti menjadi kehangatan tipis. Di luar, suara kokokan ayam bersahutan dengan deru knalpot motor bebek tua milik tukang sayur keliling yang berderit di atas aspal rusak.
Pintu kayu berderit pelan saat didorong terbuka. Baskara melangkah masuk membawa dua bungkus kertas cokelat berminyak yang mengepulkan aroma gurih santan dan kunyit.
Di sudut ruangan, Skye masih meringkuk di lantai. Layar laptop hitamnya menyala terang, memantulkan lingkaran hitam pekat di bawah kedua matanya yang merah.
Baskara melempar satu bungkus kertas ke pangkuan Skye. "Makan dulu."
Skye mengerjap lambat, merobek bungkusan kertas. Kepulan uap nasi kuning tipis membubung. Ia terdiam beberapa detik, menunduk menatap isi porsinya, lalu mendongak menatap wajah datar Baskara di hadapannya. "Mana ayamnya?"
Baskara menunjuk isi bungkusan dengan dagunya. "Itu."
Skye melongo, mendekatkan hidungnya ke nasi. "Itu mah serpihan."
Baskara melirik sekilas ke piring kertas Skye. "Suwir ayam."
"Gue minta ayam," protes Skye, nada suaranya meninggi.
"Itu ayam."
"Itu bekas ayam."
Baskara menyuap sesendok nasi ke mulutnya tanpa tergesa. "Lo nggak bilang ayam paha. Lo juga nggak bilang dada."
Skye menunjuk sehelai suwiran daging kecil yang terselip di antara butiran beras kuning. "Ini mah ayamnya mungkin cuma lewat doang di wajan."
Baskara menelan makanannya. "Protein tetap protein."
Skye menggeleng pelan, menatap Baskara. "Gue yakin, ya... kalau lo nikah nanti, lo bakal ngasih cincin ke istri lo dari bungkus permen."
Baskara mengunyah pelan. "Kalau dia nggak bilang bahannya."
Skye berhenti menyuap. Sendok plastik di tangannya tergantung di udara. Ia menatap lurus wajah Baskara. "Lo nyebelin banget."
Suasana di ruangan melunak seiring habisnya sarapan pagi mereka. Baskara melipat bungkus kertas bekas makannya, lalu meletakkannya di samping sepatu botnya. "Langkah selanjutnya."
Skye mendengus keras, tangannya bergerak menutup layar laptopnya separuh. "Buat apa nanya?"
Baskara diam, menunggu.
"Ntar juga dimentahin," gerutu Skye.
"Kenapa?"
"Karena logika gue selalu kalah sama logika lo."
"Tujuannya dari lo." Baskara mengambil ranting kecil dari lantai, memutar-mutarnya di antara jemarinya. "Caranya dari gue."
Skye menghela napas panjang, bahunya merosot. "Lo tau nggak sih..."
"Apa?"
"Kalau ngomong manis dikit tuh nggak bakal bikin dosa tau."
Baskara menarik laptop Skye mendekat. "Tentuin tujuannya."
Skye mendengus, kembali menarik laptopnya, menunjuk satu nama. "Yang paling dekat."
Baskara menggeleng. "Bukan."
"Kenapa lagi?"
"Itu data 2019."
"Emang kenapa kalau 2019?"
"Sudah tujuh tahun, Skye. Jejak dingin. Informasi basi."
Skye mendesis. "Terus kita mau ngejar data kapan? Abad pertengahan?"
Baskara mengambil selembar kertas bekas dari saku jaketnya. Ia menggambar sebuah garis lurus, lalu menuliskan angka tahun di atasnya. "Ini 2018." Ujung bolpoinnya bergeser. "2019."
Skye melirik sekilas. "Terus?"
Baskara memberi tanda silang di ujung garis. "Identitas pasar gelap itu ada umur pakainya."
Skye mendengus. "Emang SIM?"
"Kurang lebih." Baskara mengetuk angka 2019 dengan ujung bolpoin. "Semakin lama identitas dipakai, semakin besar kemungkinan jejaknya dibersihkan."
"Dibersihin siapa?"
"Orang yang bikin."
"Kalau nggak dibersihin?"
"Mereka ketahuan."
Skye melipat kedua tangannya di depan dada. "Menurut gue justru identitas lama lebih menarik."
"Kenapa?"
"Karena orang selalu fokus nyari jejak terbaru."
"Dan pelakunya juga tahu orang bakal mikir begitu."
Skye terdiam sesaat, lalu menunjuk nama Siska di layar laptopnya. "Dan cuma dia yang punya alamat jelas."
"Data lima tahun lalu. Presiden aja udah ganti."
"Nah, akhirnya..."
Baskara mengernyit. "Kenapa?"
"Lo bisa ngelawak."
Baskara menyilangkan tangan, mengabaikan sindiran Skye. "Siska cuma petunjuk lama."
"Petunjuk lama tetap petunjuk."
"Belum tentu relevan."
"Belum tentu nggak relevan juga."
Baskara terdiam sesaat.
Skye menyeringai. "Sekarang lo kena senjata sendiri."
Baskara mengembuskan napas pelan. "Oke."
Skye mengangkat sebelah alis."Oke?"
"Kita cek Siska dulu."
Senyum tipis muncul di wajah Skye. "Nah, gitu dong."
Baskara melipat kembali kertas itu. "Tapi kalau alamatnya kosong..."
Skye mengangkat telapak tangannya. "Iya, iya. Gue yang salah."
"Belum."
"Lho?"
"Kalau kosong, baru gue bilang lo salah."
Skye memijat pelipisnya pelan. "Sumpah ya... suatu hari nanti gue pengen banget menang debat sama lo."
Baskara berdiri sambil mengambil kunci mobil. "Mustahil."
"..."
"Anjing."
Matahari pagi sepenuhnya naik, menghangatkan jalanan lingkungan perumahan lama yang masih lengang. Baskara mengintip dari balik kusen pintu, memastikan kondisi luar aman sebelum melangkah keluar. Skye mengekor di belakangnya, ransel hitamnya tersampir di satu bahu.