KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #15

15. MANTAN SALES

Matahari menjelang siang menyengat aspal jalan utama Ciputat. Di dalam lantai showroom Yamaha Deta, pendingin ruangan berembus dingin, aroma kertas brosur baru, wangi kopi instan, dan alunan musik pop komersial yang diputar pelan dari pengeras suara gantung bercampur di udara showtoom. Di antara jajaran motor matic berkilau yang dikelilingi kerumunan pembeli, seorang anak kecil asyik menepuk-nepuk jok motor display, berderit pelan menyuarakan kesibukan dealer.

Pintu kaca otomatis bergeser terbuka. Baskara melangkah masuk lebih dulu, diikuti langkah Skye di belakangnya. Seorang sales counter berjas rapi langsung menyambut dengan senyum terbaiknya.

"Selamat pagi, Pak, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa sang Sales Counter ramah.

Skye mengangkat kedua tangannya, matanya melebar. "Eh tunggu, Mbak. Saya belum nikah."

Sales Counter itu mengerjap sesaat, salah tingkah, senyumnya berubah canggung. "Ah... mohon maaf, Kak."

Baskara merogoh saku jaketnya, menarik keluar dompet membentangkan kartu identitas yang sama seperti bertemu dengan Pak RT di hadapan mata sang sales.

Raut wajah sales counter itu menegang. Senyum formalnya lenyap.

"Kami mencari seseorang," suara Baskara datar.

Sales Counter itu menelan ludah, mengangguk cepat. "Siapa ya, Pak?"

"Hendi."

Wanita itu terdiam sesaat, keningnya berkerut. "Oh... Pak Hendi? Wah, beliau sudah lama sekali tidak bekerja di sini, Pak."

"Kami butuh beberapa informasi dari tempat kerjanya dulu," sambung Baskara.

"Saya kurang tahu detailnya, Pak. Kalau Bapak dan Ibu berkenan menunggu sebentar..." Sales Counter itu melirik ke arah ruangan kaca di sudut belakang. "...saya panggilkan Branch Manager kami."

Baskara mengangguk. "Silakan."

Mereka diarahkan duduk di sofa tunggu berbahan kulit sintetis yang dingin. Di hadapan mereka, televisi LED menggantung di dinding memutar iklan berulang tentang ketangguhan mesin injeksi terbaru. Para sales berlalu-lalang membawa map brosur dengan langkah cepat.

Skye melipat tangan di dada, matanya melirik ke arah deretan motor matic berukuran besar yang berjajar rapi di dekat pilar.

"Bas," panggil Skye tanpa menoleh. "Kalau nanti gue kaya..." Ia menopang dagunya di punggung tangan. "...gue bakal beli motor NMAX ini."

Baskara melirik sekilas dari balik kacamata hitam tipisnya. "Kenapa?"

"Biar kelihatan mapan. Biar kalau nongkrong di lampu merah, orang ngira gue bos rental."

Baskara menatap lurus ke depan. "Mobil kita harganya sepuluh kali lipat dari motor itu."

Skye terdiam. Melirik ke arah pintu luar tempat SUV hitam mereka terparkir, lalu kembali menatap Baskara.

"...Iya juga ya."

Di ujung lorong, di balik pintu bertuliskan Restroom, suasana berubah senyap. Hanya terdengar dengung halus suara exhaust fan yang berputar di langit-langit kecil.

Baskara mendorong pintu bilik paling ujung, menguncinya rapat dari dalam. Ia merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan perangkat komunikasi taktis. Jemarinya mengetik laporan.

SUBJEK MENDETEKSI ORGANISASI TANPA KEPALA CENTIPEDE MENUJU JALUR CHACHA.

Tidak butuh lama setelah laporan terkirim, perangkat komunikasi di tangan Baskara bergetar.

"Lapor," suara berat dari seberang sambungan.

"Subjek mendeteksi keterlibatan organisasi Centipede dalam jalur pencarian target Chacha," lapor Baskara tenang, tanpa ekspresi.

"Centipede. Informasi valid"

"Valid."

"Dasarnya?"

"Pola identitas," jawab Baskara singkat. "Minimal dua subjek menggunakan struktur pergantian identitas yang identik."

"Lanjutkan," perintah Operator pusat dengan nada dingin. "Jika Centipede benar-benar berada di jalur ini... kita tidak hanya akan menemukan Chacha. Kita menemukan siapa arsitek yang beberapa tahun terakhir mengacaukan negara kita."

"Dimengerti."

"Baskara."

"Ya."

"Ada kemungkinan besar Gilang. Operator Alpha terdahulu masih hidup di dalam jaringan mereka."

Baskara terdiam. Tatapannya terpaku ke pantulan wajahnya sendiri di cermin wastafel di luar bilik.

"Kalau kamu bertemu dengannya di lapangan... jangan menahan diri."

Lihat selengkapnya