Sore menjelang senja. Di pelataran bengkel moge Om Bewok, udara dipenuhi bau pekat oli, debu besi, dan sengatan panas. Suara alunan musik dangdut lawas yang mengalun malas dari radio di pojok ruangan. Dua unit moge sedang dibongkar total di atas dongkrak.
SUV hitam besar itu berbelok memasuki area bengkel, Baskara menyipitkan mata. Di seberang jalan, tepat di dekat pangkalan ojek kumuh, dua orang pria duduk nongkrong di warung kopi. Pandangan mereka tidak lepas dari arah gerbang bengkel.
Baskara menekan pedal gas sedikit lebih dalam, SUV hitam merangsek masuk ke bagian dalam pelataran bengkel, tertutup bayangan bangunan utama.
Om Bewok menoleh ke arah kedatangan mobil. Ia melangkah mendekat sambil melemparkan kain lap ke atas meja kerja.
"Mobil baru?" sapa Om Bewok dengan nada meledek.
Skye membuka jendela penumpang, menunjuk ke arah Baskara. "Dia orang kaya, Om. Tapi pelitnya minta ampun."
Baskara menarik tuas rem tangan. "Efisien."
Om Bewok terbahak keras, memukul kap mesin SUV itu dua kali. "Tuh, dengar. Pelit bilang pelit aja, sok-sokan pakai istilah efisien."
Skye mengangguk "Nah! Akhirnya ada manusia waras di bumi ini yang sependapat sama saya."
Tawa Om Bewok perlahan surut. Ia menurunkan kedua tangannya dari kap mesin, menyipitkan mata menatap ke arah dalam kabin.
"Ngapain lagi kalian balik ke sini?" tanya Om Bewok, suaranya berubah berat.
Skye mendorong pintu mobil hingga terbuka, lalu melangkah turun. "Om... kita langsung to the point aja. Om tahu kan kalau Chacha sebenarnya masih hidup?"
Om Bewok membeku. Jemarinya yang memegang puntung rokok berhenti bergerak di udara.
Skye melangkah mendekat, membuka layar laptop hitamnya yang masih menyala, lalu menaruhnya di atas kap mesin mobil. berantakan di hadapan Om Bewok.
"Om jangan bilang kalau Om masih percaya sama plakat kematian dan akta kuburan fiktif yang kemarin itu," ujar Skye tajam.
Om Bewok menatap layar laptop yang menampilkan deretan data dan foto-foto lama. "Lo nggak percaya sama buktinya?"
"Saya percaya plakatnya," jawab Skye. "Yang saya nggak percaya... kematiannya."
Om Bewok mengerutkan kening. "Kenapa?"
Skye mengetuk layar, memperbesar satu file tangkapan layar CCTV digital. "Karena dia masih kelihatan jalan bareng Rizal Biantara."
Puntung rokok di antara jemarinya memanjang beberapa senti sebelum abu-abu itu patah sendiri jatuh ke lantai.
Pupil mata Om Bewok melebar, ia menatap Skye lama, lalu tersenyum pahit. "Lo keras kepala juga ya."
Skye menegakkan dagunya. "Saya cuma nggak gampang dibodohin sama administrasi negara."
Om Bewok mengembuskan napas panjang. Ia berbalik menuju pintu kecil di belakang bengkel. "Ikut gue."