Senja kelabu di atas kawasan industri Cakung. Hujan rintik-rintik yang baru saja reda menyisakan genangan minyak bercampur jelaga di sepanjang jalan. Bau solar, besi berkarat, dan belerang menggantung tebal di udara, berpadu dengan deru truk kontainer bermuatan berat lalu-lalang tanpa henti. Di sisi jalan, para preman berjaket kulit duduk santai di warung remang-remang, anak-anak kecil bertelanjang dada mengejar layangan putus di antara tumpukan rongsokan mobil.
Baskara mematikan lampu besar SUV, membiarkan kendaraan itu merayap pelan di antara kerumunan manusia.
Skye menatap keluar jendela, matanya menyapu sekeliling dengan ngeri takjub. "Ini..." bisiknya pelan. "Ini masih Jakarta, kan?"
"Masih," jawab Baskara singkat.
Mereka turun dari mobil. Udara lembap menghantam wajah begitu pintu ditutup.
Mereka berjalan menyusuri lorong sempit berdebu.
Skye berhenti melangkah sejenak. Di sebelah kiri, Alphard hitam tanpa pelat nomor sudah tinggal kerangka. Lima orang membongkar dashboard dan mesin seolah sedang mengupas buah. Beberapa meter di depannya, Mercedes putih dinaikkan ke atas dongkrak. Velg, pintu, hingga jok kulitnya berpindah tangan dalam hitungan menit.
"Ini..." gumam Skye lirih. "Cepat juga."
"Itu baru mobil."
Pandangan Skye bergeser. Di bawah tenda biru lusuh, seorang perempuan bergaun ketat duduk santai sambil tertawa bersama pria berambut cepak yang masih mengenakan sepatu dinas. Tak jauh dari mereka, dua pria berpotongan rambut militer bermain kartu bersama beberapa preman bertato.
Beberapa anak kecil berlarian mengejar bola plastik. Bola itu memantul hingga berhenti tepat di depan sebuah bengkel yang dipenuhi laras senjata rakitan dan potongan besi.
Baskara terus berjalan tanpa menoleh. "Di sini semua orang tahu profesi semua orang."
Skye menoleh. "Bahkan tahu siapa yang nyamar."
"Kenapa nggak ada yang saling laporin?"
"Semua orang pura-pura nggak tahu." Baskara melirik sekilas, lalu berbisik tanpa menoleh, "Jangan natap mata orang terlalu lama."
"Kenapa?" tanya Skye lirih.
"Di sini, itu dianggap menantang."
Skye mengembuskan napas pelan. "Jakarta ternyata punya negara sendiri."
Di ujung jalan, plang kayu usang bertuliskan The Last Stop tergantung di atas pintu bar. Mereka melangkah masuk.
Ruangan bar remang-remang, pengap oleh kepulan asap rokok kretek, bau alkohol, dan keringat manusia. Musik dangdut berirama lambat mengalun dari speaker di sudut ruangan. Beberapa pria duduk membungkuk di meja kayu, menenggak minuman keras lokal.
Di balik meja bar yang terbuat dari papan triplek bekas, seorang pria berbadan tegap dengan tato melingkar di lengannya sedang mencuci gelas.
Skye menghampiri meja bar. "Mas."
Cokro menuang cairan ke dalam gelas dengan tenang, menyerahkan pesanan ke pelanggan.
Skye melirik Baskara. "Dia budek?"
"Enggak."
"Terus?"
"Lagi kerja."
Skye mengangguk. "Mas."
Cokro mengangkat kepala sebentar. "Apa?"
Skye membuka laptopnya, menampilkan foto Chacha di layar. "Kami lagi nyari Mbak Siska."
Cokro melirik sekilas ke layar laptop. "Gue kenal."
Wajah Skye berubah cerah. "Berarti Mas tahu dia di mana?"
Cokro kembali mengelap gelas di tangannya. "Gue juga kenal Presiden."
Skye berkedip. "Terus?"
"Emang berarti gue tahu beliau lagi di mana?"
Baskara menunduk pelan, menyembunyikan sudut bibirnya yang nyaris terangkat.
Skye mendecak pelan. "Mas nyebelin juga ya."