Senja perlahan turun menjadi malam basah di atas aspal Cakung. Lampu-lampu sorot truk kontainer menyala merah dan kuning, memantul di atas genangan air hujan yang belum sepenuhnya kering. SUV hitam meluncur keluar perlahan dari balik gerbang Zona Merah, meninggalkan dunia kotor Pasar Bangkai di belakang.
Di kaca spion, plang The Last Stop semakin mengecil sebelum akhirnya lenyap ditelan tikungan jalan. Deretan kontainer, rel kereta, dan bangunan-bangunan kusam berganti menjadi jalan raya yang lebih ramai.
Skye beberapa kali membuka resleting ranselnya, menyentuh ujung laptop hitamnya, lalu menutupnya kembali tanpa mengeluarkannya. Baskara tetap memegang kemudi dengan kedua tangan, tatapannya tidak pernah lepas dari lajur di depan.
Di dalam kabin, Skye memeluk ranselnya erat-erat di pangkuan, kepalanya bersandar ke kaca jendela yang dingin.
"...jadi?" Skye memecahkan kesunyian.
Baskara fokus memandang jalanan malam di depan.
"Kita sekarang mau nyari siapa?" lanjut Skye.
Baskara terdiam sesaat. "Nggak tahu."
Skye menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis. "Kirain lo selalu tahu segalanya."
Lampu merah memaksa SUV berhenti. Baskara mengembuskan napas pelan yang nyaris tidak terdengar. Sarung tangan taktis di tangan kanannya dilepas perlahan, jemarinya menggenggam lalu membuka beberapa kali sebelum telapak tangannya mengusap singkat tengkuk yang mulai kaku.
Lampu lalu lintas berubah hijau, Baskara membelokkan mobil ke bahu jalan.
Skye mengerjap, menegakkan duduknya. "Kenapa berhenti?"
"Kita istirahat."
"Mobil rusak?"
"Bukan."
"Terus?"
"Gue capek."
Kedua mata Skye melebar menatap Baskara. "Lo? Capek?"
"Iya."
Skye menggeleng. "Bukannya lo terminator?"
Baskara menoleh. "Gue juga manusia, bukan produk rakitan pabrik senjata." Ia menyandarkan kepalanya ke kursi pengemudi.
Udara malam berembus pelan lewat celah kaca jendela mobil yang diturunkan sedikit, aroma aspal basah dan sisa uap knalpot kota memenuhi kabin. Baskara kembali menginjak pedal gas, SUV hitam kembali merayap membelah kesunyian jalanan pinggiran yang mulai lengang dari lalu-lalang truk berat.
Setengah jam kemudian, mereka berhenti di jalur drive-thru sebuah restoran cepat saji 24 jam. Lampu menu digital memantulkan cahaya putih ke wajah mereka.
Skye menoleh ke Baskara. "Boleh nebak?"
"Boleh."
"Lo pasti pesen air mineral."
"Iya."
"Nggak pernah berubah."
"Kenapa harus berubah?"
"Soalnya hidup itu dinamis, Bas."
"Air tetap air."
Skye menggeleng pasrah. "Gue yakin kalau dunia kiamat pun lo masih sempat pesen air mineral botol."
Baskara menoleh sekilas. "Iya."
"Boring banget hidup lo."
Skye membuka bungkus makanannya, menatap laptop hitam di sampingnya, lalu menutupnya kembali dengan helaan napas panjang. "Tiap kita dapet petunjuk..." ia mengunyah makanannya. "...ujungnya selalu buntu."