Embun tipis masih membungkus pucuk-pucuk pohon di luar jendela kaca kamar hotel saat suara shower di kamar mandi berhenti berderu. Di atas ranjang empuk nomor 203, Skye masih meringkuk tenggelam di balik selimut tebal, rambutnya berantakan menutupi bantal. Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi berderit terbuka, mengeluarkan uap hangat bercampur aroma sabun hotel. Baskara melangkah keluar dengan handuk kecil tersampir di leher, mengenakan kaus hitam polos dan jaket taktis yang belum dikancingkan.
Baskara menyambar kunci dan dompet dari atas meja, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya berhenti di depan pintu. Ia menatap Skye yang masih tertidur pulas di balik selimut. Laptop hitam masih terbuka di samping bantal, baterainya hampir habis. Baskara meraih kabel pengisi daya, menyambungkannya ke stop kontak tanpa membangunkan Skye, lalu baru melangkah keluar kamar.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, daun pintu kembali berderit pelan saat Baskara masuk membawa barang belanjaan. Baskara meletakkan kantong kertas belanjaan di atas meja nakas kecil dekat tempat tidur. Ia mengeluarkan dua mangkuk bubur ayam hangat dengan bumbu kuah kuning yang harum, dua butir telur rebus matang sempurna, dua kotak susu UHT rasa cokelat, serta wadah plastik kecil berisi potongan buah pepaya dan melon segar. Sederhana, namun bernutrisi tinggi.
Skye mengintip perlahan dari balik selimut. Ia mengernyitkan dahi, menatap kantong kertas itu, lalu mendongak menatap Baskara. "Anjir..."
Baskara menarik kursi, duduk di samping meja. "Bangun. Sarapan."
Skye duduk, menyibak selimut. Ia menunjuk bungkusan di atas meja dengan dagunya. "Lo... dirasuki siapa, Bas? Ini beneran lo yang beli?"
"Sarapan," jawab Baskara singkat.
"Biasanya gue cuma dibeliin nasi uduk atau nasi kuning, ini mah gizi lengkap, Bas."
"Lo butuh protein," Baskara membuka tutup mangkuk bubur.
Skye tertawa kecil. "Lo belajar cara merawat manusia dari internet, ya?"
Mereka duduk berhadap-hadapan di meja kamar hotel, menikmati sarapan tanpa terburu-buru.
"Lanjut," ucap Baskara datar, menutup bungkus bubur.
Skye mengangkay sebelah alis sambil menyedot susu kotaknya. "Apanya yang lanjut?"
"Analisa."
Skye mengelap bibirnya dengan tisu, lalu bergeser mengambil laptop yang tergeletak di atas kasur. Ia membukanya, menatap deretan data mentah yang semalam mereka kumpulkan dari Pasar Bangkai.
"Kenapa sekarang jadi lo yang paling ngotot nyari mereka?" Skye menatap Baskara lekat-lekat.
"Gue nggak tahu," Baskara menatap layar laptop yang menampilkan diagram jaringan data. "Tapi kalau New Hydra rela ngejar lo buat data itu..." Jeda sejenak. "...berarti ada sesuatu di dalamnya yang nggak boleh diketahui."
Skye menyimak, matanya menyipit menangkap perubahan nada bicara Baskara.
"Gue cuma mau tahu isinya," lanjut Baskara, suaranya terdengar makin rendah. "Semua orang, dari Om Bewok sampe Cokro bereaksi sama terhadap ancaman data itu. Mereka nggak peduli sama kita. Mereka cuma peduli arsip itu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Skye memperhatikan wajah Baskara, lalu beralih ke monitornya. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik.
"Nggak ada petunjuk baru lagi di file lokal," Skye menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Lo ingat kata Cokro semalem, kan? Kita nggak bakal bisa nemuin mereka kecuali mereka sendiri yang mau ditemuin."
Baskara berdiri, melangkah mendekati meja, menatap layar. "Nggak ada pertahanan yang nggak bisa dibobol."
"Maksud lo?"
"Mereka pasti punya celah."
Skye mendengus, kembali menarik trackpad laptopnya. Ia membuka lembar kerja kosong, mulai membuat mind map digital. Jemarinya mengetik cepat, merangkai nama-nama yang mereka temui. Chacha, Rizal, Gilang, Om Bewok, Pasar Bangkai, Kerusuhan, Bandung, Parung
Ia menarik garis merah menghubungkan satu titik ke titik lainnya. Lalu menghapusnya, Ia menggambar ulang garis baru. Menghapusnya lagi. Nama demi nama memenuhi layar. Tanggal, lokasi, nomor perkara, hingga potongan artikel koran lama saling terhubung seperti jaring laba-laba digital. Semakin banyak benang yang ia gambar, semakin jelas semua jalur berakhir di ruang kosong.
"Kayak nyusun kepingan puzzle seribu biji tapi setengah gambarnya ilang," Skye memijat pelipisnya.
"Terus?" panggil Baskara dingin dari belakang.