KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #22

22. TITIPAN

Suara dengung kipas angin gantung berputar malas di langit-langit bengkel, berpadu dengan aroma oli baru dan besi terbakar yang menempel di udara.

Baskara membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri sisa sengatan tegangan tinggi yang melumpuhkan sistem sarafnya beberapa jam lalu. Ia menggerakkan tangannya yang tidak terikat, meraba ke arah pinggang, pistol miliknya sudah tidak ada di di sarungnya. Di luar bengkel, suara deru mesin gerinda masih terdengar berisik memercikkan bunga api.

Kesadaran Baskara melonjak. Ia bangkit sambil memegang kepalanya. Matanya mengerjap beberapa kali lalu menyusuri ruangan.

Pandangannya berhenti di sudut teras, Skye duduk tenang di atas bangku kayu panjang. Kedua tangannya bebas, memegang segelas kopi hangat bercap logo lokal.

Skye bangkit dari duduknya, meletakkan gelas kopinya di atas kursi.

"Bas!" panggil Skye. "Mereka... mereka nggak nyakitin gue."

Beberapa meter dari mereka, Aban masih membungkuk mengelas rangka motor menggunakan kacamata pelindung.

"Akhirnya bangun juga," seru Aban di tengah suara mesin las yang menderu pelan.

Aban mematikan gerinda, membuka pelindung wajahnya, lalu mengelap tangannya dengan kain majun kotor. Ia menatap Baskara yang baru saja berdiri tegak.

"Tadi refleks lo lumayan."

Baskara diam, mengamati gerak-gerik Aban tanpa bersuara.

"Kalau orang biasa..." Aban mengangkat alat kejut listrik di atas meja, "...mungkin udah kencing di celana dari tadi."

Skye menoleh sekilas ke arah Baskara. "Bas..."

Baskara tetap mengamati gerak-gerik Aban, sesekali menoleh ke beberapa orang di sekitar mereka.

Aban melempar kain lapnya ke atas meja, lalu berjalan mendekat. "Otoritas sekarang hobi banget ya, ngirim anak muda model gini buat nyari-nyari Renggo?"

Kening Skye berkerut dalam. "Otoritas?"

"Skye. Diam." potong Baskara.

Skye tertegun menatap Baskara. "Bas... Apaan sih? Apa itu Otoritas?"

Baskara menatap lurus wajah Aban. "Jangan dengerin dia, Skye."

"Gue udah denger kata itu dua kali ya, Bas. Semalem Cokro ngomong itu dan sekarang dia..." Skye menunjuk ke arah Aban. "...juga nyebut Otoritas."

Aban tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat sebelah. "Lumayan."

"Lumayan apa?" desak Skye makin bingung.

"Masih bisa mikir jernih setelah dikasih setruman lima puluh volt," jawab Aban ringan. "Lo panik, ya?"

"Kalian lagi ngomongin apaan sih?" Pandangan Skye bergerak dari Aban ke Baskara.

Aban berbalik, meraih ceret air panas di atas kompor kecil, lalu menuangkannya ke dalam dua gelas kaleng. Ia mendorong salah satu gelas itu meluncur di atas meja kayu, tepat berhenti di hadapan Baskara.

"Minum."

Baskara melirik gelas itu.

Aban terkekeh pelan. "Takut diracun?"

"Kalau mau ngebunuh gue..." Baskara melirik sekilas ke arah stun gun di atas meja, "...nggak perlu repot-repot pakai kopi."

Aban tertawa, suaranya bergema di sudut bengkel. "Jawaban bagus." Ia kembali menatap Baskara. "Lo orang Otoritas?"

"Sebelum kalian ngomong lebih jauh. Kasih tau gue apa itu Otoritas." Skye memotong pertanyaan Aban.

Baskara menoleh ke Skye, lalu beralih ke Aban. "Kalau gue benar-benar orang Otoritas... gue nggak bakal buang waktu muterin lima belas bengkel kumuh di Parung cuma buat nyari satu nama."

Aban menatap Baskara cukup lama. "Cerdas."

"Gue nanya dari tadi nggak ada yang jawab?!" suara Skye meninggi. "Hebat. Kalian berdua ngobrol, gue yang kayak orang bego di sini.".

Aban berbalik, melangkah masuk ke dalam ruang belakang bengkel yang remang-remang. Suaranya terdengar menggema dari balik tirai kain.

"Renggo itu emang nyebelin," suara Aban terdengar menggerutu ringan.

Skye melirik Baskara, pandangan Baskara menatap tirai.

Aban keluar membawa sebuah kaleng biskuit bekas. Ia berjalan santai menghampiri meja, lalu membuka tutup kaleng tersebut. "Semalem dia mampir ke sini," ia mengaduk-ngaduk isi kaleng.

Lihat selengkapnya