KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #23

23. PENGEJARAN

Sore turun meninggalkan sisa warna merah bata di balik deretan pohon pinggir jalan raya Parung. SUV hitam melaju tenang, membelah arus lalu lintas yang berangsur renggang. Di kursi penumpang, Skye memutar-mutar benda kecil di antara jemarinya. Flashdisk itu bergesek pelan.

"Jadi... ini kira-kira isinya apa ya, Bas?" tanya Skye, matanya menatap lekat benda di tangannya.

Baskara menatap lurus ke depan. "Nanti."

"Nanti tuh kapan?"

"Kalo udah aman."

Skye mendesah panjang, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. "Lo kalau jadi petunjuk jalan pasti dibenci orang."

Mereka melewati SPBU di sisi kiri jalan. Baskara melirik spion tengah, sepeda motor matic hitam membuntuti di jarak yang aman.

Beberapa kilometer kemudian, mobil mereka berpindah jalur di persimpangan yang lebih sepi, motor matic itu masih terlihat di belakang mereka. Lalu, bayangannya lenyap di tikungan.

Tiga menit berselang, motor itu muncul lagi di spion samping kanan. Jari telunjuk Baskara mengetuk lingkar kemudi.

SUV berhenti di lampu merah yang panjang. Skye membuka ritsleting tasnya, mengeluarkan laptop, lalu menatap flashdisk di tangannya. "Lima detik doang, Bas. Colok dikit, lihat kodenya, habis itu cabut."

Baskara menoleh. "Jangan."

"Yaelah."

"Jangan, Skye."

"Kenapa sih?" Skye mendengus. "Takut ketahuan intelijen?"

"Bukan sekarang."

Skye melipat tangan di dada. "Lo tuh ya... hobi banget bikin orang penasaran setengah mati."

Ibu jari kiri Baskara mengusap pelan bekas goresan di lingkar kemudi. Lampu sein berkedip teratur. Matanya berpindah dari kaca depan ke spion tengah, lalu ke spion kanan, kembali lagi ke depan.

Lampu berganti hijau. SUV kembali melaju membelah kota kecil yang mulai basah oleh embun malam. Mobil Avanza putih menyalip dari sisi kiri, lalu mengambil lajur tepat di depan mereka. Baskara memindahkan SUV ke jalur kanan, Avanza itu ikut bergeser ke kanan.

Dua kilometer kemudian, pick up tua bermuatan sayur melambat di depan mereka. Baskara menurunkan kecepatan, motor matic hitam tadi kembali muncul merayap di spion kiri.

Baskara menghafal nomor pelat kendaraan yang berulang kali bergantian melintas di sekitar mereka. Tangannya tetap mencengkram erat kemudi, matanya lebih sering melirik spion ketimbang melihat jalan di depan.

Sebuah truk boks memotong pandangan sesaat. Ketika badan truk itu lewat, motor matic hitam sudah berada tiga mobil lebih dekat.

Menjelang magrib, Baskara memutar kemudi, mobil mereka berbelok masuk ke halaman warung kopi pinggir jalan yang cukup ramai. Deretan bangku dan meja panjang dipenuhi pengunjung. Sopir truk, buruh pabrik, dan beberapa pengendara motor yang berteduh. Televisi tabung di sudut ruangan menyiarkan pertandingan sepak bola. Asap rokok mengepul, beradu dengan aroma kopi tubruk dan mangkuk mi instan.

"Akhirnya." Skye meregangkan bahunya begitu turun dari mobil. "Gue udah pegel banget duduk seharian."

"Sepuluh menit," Baskara melangkah mendahului masuk ke area warung.

Mereka melangkah menuju area kasir. Penjual ternyum ramah ke arah mereka.

"Mas, pesan apa?"

Skye langsung menjawab. "Satu mi rebus pakai telur. Es teh manis satu."

Penjual mencatat cepat. "Mas-nya?"

"Kopi hitam."

"Manis?"

"Enggak."

"Gorengan?"

Lihat selengkapnya