Langkah kaki mereka menghantam tanah becek di antara petak-petak sawah yang gelap gulita. Suara katak malam dan deru napas yang saling berkejaran di udara lembap yang menemani pelarian mereka. Mereka berlari tanpa arah pasti, menembus lorong sempit antarkampung, melompati parit irigasi, hingga mendaki undakan tanggul tanah yang licin.
Mereka melompati selokan air beton terakhir di batas desa, kaki kiri Skye salah mendarat di atas batu licin.
Krok.
Bunyi pelan disusul ringisan tertahan dari mulut Skye. Ia tersungkur jatuh ke atas rumput liar. Kakinya berdenyut, tidak mampu menahan beban tubuh. Skye menggigit bibirnya, mencoba memaksa bangkit, bertumpu pada satu kaki. Baru satu detik berdiri, tubuhnya limbung kembali ke tanah.
Baskara yang sudah berjalan beberapa langkah di depan, berhenti. Ia berbalik dalam gelap, melihat Skye yang terduduk sambil memegangi pergelangan kakinya sendiri.
Ia melangkah mundur, berjongkok membelakangi Skye. "Naik."
Skye mendongak, napasnya tersengal-sengal. "Gue... gue masih bisa jalan sendiri, Bas..."
"Naik," ulang Baskara.
Skye merangkul pundak Baskara yang bidang, tubuhnya diangkat ke punggung Baskara.
"Berat nggak?" tanya Skye pelan.
"Nggak."
"Bohong."
Baskara menggeser sedikit posisi tubuh Skye agar lebih stabil di punggungnya. "Kalau berat, gue udah nurunin lo."
Skye mendengus pelan. Tangannya perlahan mengerat di bahu Baskara.
Di sepanjang jalan setapak sawah, suara napas mereka berkejaran, gesekan sepatu bot di atas tanah, dan suara jangkrik malam memenuhi kesunyian di antara mereka.
Di tengah gelapnya malam, wajah Baskara berada di dekat pandangan Skye, dalam pantulan cahaya bulan sabit yang tipis, Skye melihat sudut bibir yang membiru, goresan kerokan aspal di tulang pipi, serta butiran keringat bercampur debu yang mengering di pelipis.
Skye menyandarkan keningnya pelan ke punggung Baskara, hangat tubuh Baskara merambat ke tubuhnya di tengah dinginnya angin malam.
Menjelang pukul sembilan malam, di ujung jalan kampung yang mulai dilapisi aspal tipis, sebuah mushola desa sederhana berdiri tenang di antara rumah-rumah warga. Lampu terasnya masih menyala terang, memantulkan bayangan tiang ke halaman.
Baskara menurunkan Skye perlahan di undakan teras. Skye duduk bersila, memegangi pergelangan kakinya yang mulai membengkak.
Seorang pria paruh baya mengenakan sarung kotak-kotak dan peci putih keluar dari pintu utama membawa kain pel. Langkah pria berhentk melihat dua sosok asing dengan pakaian robek, wajah penuh lebam, dan sepatu dipenuhi lumpur duduk di terasnya,
Ia menatap mereka lama. "Kenapa, Nak?" tanya marbot itu lembut.
Skye melirik Baskara sekilas.
Baskara menatap lurus ke depan. "Dibegal di jalan raya."
Pak Slamet, marbot mushola, meletakkan alat pelnya, lalu mendekat. "Astagfirullah... Masuk dulu, cuci muka. Di dalam ada air hangat."
Di dalam ruangan tempat wudhu yang bersih, Baskara membasuh darah kering di sudut bibirnya dengan air mengalir.
Di sudut teras luar, Skye duduk selonjoran, mengompres pergelangan kakinya menggunakan handuk kecil basah yang diberi air es oleh pak Slamet.
Selesai merapikan diri, pak Slamet kembali menghampiri mereka membawa segelas teh manis hangat dan sebungkus biskuit.
"Kalau mau istirahat... rumah kontrakan saya ada di sebelah sana, nggak jauh dari sini," pak Slamet menunjuk ke arah gang kecil di samping mushola.
Baskara langsung menggeleng pelan. "Nggak usah, Pak. Kami numpang istirahat di teras saja cukup."
Pak Slamet tertawa kecil. "Nggak apa-apa, Nak. Daripada tidur di teras, nanti masuk angin. Istri saya lagi masak air di rumah." Ia meraih sandal jepitnya yang tergeletak di teras musala, lalu memakainya sambil berdiri. "Ayo."