KISS ME FIRST, KILL ME LATER

Arata Kaivan
Chapter #26

26. OPERATOR

Udara dini hari masih menggantungkan embun dingin di atas jalanan tanah kampung yang sepi. Lampu penerangan jalan sebagian besar telah padam, menyisakan gelap yang pekat. Suara jangkrik malam memecah kesunyian di antara deretan rumah warga.

Beberapa ratus meter dari kontrakan kecil sang marbot, di bawah bayangan rindang pohon mangga besar di pinggir jalan desa, sedan hitam terparkir tanpa menyalakan lampu senja. Baskara berjalan mendekat. Langkah kakinya tanpa suara di atas tanah berdebu. Di dekat pintu mobil, sesosok pria berpostur tegap dengan jaket kulit gelap berdiri menunggu.

Tidak ada ucapan salam dan jabat tangan. Keduanya berdiri berhadap-hadapan dalam jarak dua meter, saling mengunci tatapan di bawah temaram cahaya bulan.

Beta mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya. Satu batang dijepit di bibir.

"Kebiasaan lama belum ilang?" tanya Baskara.

Beta menyalakan korek. Bara kecil menyala sesaat. "Masih."

"Asapnya ketahuan dari jauh."

"Makanya gue milih tempat ini."

Korek api ditutup. Beta tidak menawarkan sebatang pun kepada Baskara. "Lo terlambat."

"Gue datang," jawab Baskara tenang.

"Batas waktu laporan sudah lewat."

Baskara diam. Bahunya sedikit turun.

Beta melangkah mendekat perlahan, matanya meneliti setiap inci postur Baskara. "Lo diminta menyerahkan laporan lengkap."

"Situasi di lapangan berubah."

"Semua operator selalu ngomong hal yang sama saat mereka mulai ragu," balas Beta.

Angin malam berembus dingin, menggoyang dahan pohon di atas kepala mereka.

"Data?" tanya Beta.

"Belum."

"Target?"

"Bukan prioritas."

Beta berhenti melangkah, mengembuskan asap rokok perlahan. "Dulu lo nggak pernah jawab sesingkat itu."

"Dulu target gue juga nggak berubah di tengah jalan."

"Aslinya berubah..." Beta menatap lurus Baskara. "...atau orangnya yang bikin prioritas lo berubah?"

Baskara terdiam.

"Ada yang mau lo tanyain?"

Tatapan Baskara lurus menatap mata Beta. "Loyalitas."

Beta menyipitkan mata.

"Loyalitas kita ke siapa?"

"Negara," jawab Beta datar.

"Negara..." Baskara menjeda. "...atau Otoritas?"

Sunyi kembali mencengkeram. Tidak ada suara angin. Hanya debar napas pelan di antara mereka berdua.

Beta mendongak sejenak, menatap langit malam yang kelam sebelum kembali menunduk. "Kita kerja bukan buat menyukai perintah. Bukan buat benci target. Kita cuma memastikan pekerjaan itu selesai."

"Kalau perintahnya salah?" tanya Baskara.

Beta menatapnya lama. "Lo masih mengajukan pertanyaan. Itu artinya... lo sendiri belum yakin sama pilihan lo."

Baskara terdiam.

Di dalam ruang tamu kontrakan pak Slamet, cahaya lampu tidur berpendar redup. Suara dengung baling-baling kipas angin berputar pelan di sudut ruangan. Anak pak Slamet tidur meringkuk memeluk boneka di sudut kasur lantai, pak Slamet dan istrinya sudah terlelap di kamar belakang.

Di lantai keramik Skye membuka matanya. Ia mendengar suara pintu depan berderit pelan saat Baskara melangkah keluar. Ia menunggu beberapa menit dalam senyap, memastikan situasi aman, lalu perlahan bangkit duduk.

Skye menarik ranselnya, merogoh bagian dalam, mengeluarkan flashdisk hitam polos pemberian Aban di Parung. Ia duduk bersila di atas lantai, membuka laptop hitamnya yang berkedip standby.

Skye menoleh ke arah pintu. Dari luar rumah terdengar suara ayam berkokok sekali. Ia kembali menatap layar. Tak lama kemudian terdengar suara sandal diseret di rumah sebelah. Skye mengecilkan cahaya layar laptop sebelum memastikan suara itu menjauh lagi.

Setelah suara langkah kaki menghilang, ia menancapkan flashdisk ke sisi port USB. Layar berkedip, bilah loading berputar singkat. Kipas pendingin laptop berdengung pelan. Logo sistem operasi muncul beberapa detik sebelum jendela penyimpanan otomatis terbuka.

Kursor berkedip. Sebuah folder bernama RIZAL muncul paling atas. Skye mengkliknya. Lima folder dan satu dokumen muncul di dalam direktori penyimpanan.

IDENTITAS

PERSONALIA.pdf

RIWAYAT_KEPOLISIAN.pdf

Lihat selengkapnya