Suara dengung jangkrik di luar perlahan mulai kalah oleh sayup-sayup kokokan ayam yang menyambut fajar. Di sudut ruang tamu, lampu bohlam kecil berwarna kuning berpendar redup.
Skye duduk bersila di atas lantai keramik. Laptop hitam di hadapannya sudah tertutup rapat. Flashdisk kecil pemberian Aban telah lama dilepas dan disimpan kembali ke dalam saku tasnya. Di samping tangan kanannya, selembar kertas putih penuh coretan tangan tersusun rapi. Ia membaca ulang baris-baris catatan itu untuk kesekian kalinya.
Skye melipat kertas itu menjadi dua bagian, lalu menyelipkannya ke dalam dompet. Ia meraba kembali saku ranselnya, memastikan flashdisk itu benar-benar sudah tersimpan. Jemarinya berhenti sesaat di resleting yang tertutup rapat, lalu menarik napas pelan sebelum melepaskan genggamannya.
Di luar, suara sapu lidi bergesek pelan di halaman depan. Aroma tanah basah masuk bersama udara dini hari yang menyusup lewat celah pintu.
Derit halus pintu depan terdengar. Baskara melangkah masuk ke dalam rumah. Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Langkah Baskara terhenti saat melihat Skye duduk di atas karpet. Tatapan mata mereka bertemu di bawah temaram cahaya lampu.
Baskara menutup pintu pelan, lalu berjalan mendekat. "Belum tidur?"
"Udah bangun," jawab Skye singkat.
Baskara mengamati wajah Skye. "Kebohongan lo jelek."
Skye mendengus pelan, lalu tersenyum tipis. "Namanya juga kebiasaan hacker."
Hening kembali merayap.
Pandangan Baskara menangkap siluet flashdisk hitam yang menyembul tipis dari saku tas Skye.
"Udah dilihat isinya?" tanya Baskara.
Skye menahan napasnya sepersekian detik. Jantungnya berdegup lebih cepat. "Udah."
Baskara mengangkat sebelah alisnya. "Terus?"
Skye menatap lurus mata Baskara tanpa berkedip. "Gue hapus."
Alis Baskara bertaut. "Hapus?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Gue takut kalau nanti flashdisk-nya keburu hilang atau jatuh ke tangan yang salah," Skye mengangkat secarik kertas di sampingnya. "Yang penting, semua petunjuk intinya udah gue salin ke sini."
Baskara mengulurkan tangan. "Flashdisknya."
Skye mengeluarkannya dari dalam tas, lalu meletakkannya di telapak tangan Baskara.
Baskara membolak-balik flashdisk itu sejenak. Oa mengembalikannya begitu saja tanpa bersuara.
Skye memasukkannya lagi ke dalam tas. Jemarinya menyentuh dompet tempat salinan catatan Renggo tersimpan.
Dari kejauhan terdengar suara azan pertama menggema dari mushola. Lampu di rumah-rumah sekitar mulai satu per satu menyala. Seorang ibu membuka pintu rumah sambil membawa ember cucian, seekor ayam jago meloncat turun dari pagar bambu dan berkokok memecah sunyi.
Pak Slamet berdiri dengan senyum ramah. "Mas... Mbak... sudah waktunya bangun."
Skye memasukkan dompet dan catatannya ke dalam ransel. Baskara ikut menunaikan shalat subuh berjamaah di belakang pak Slamet. Skye menunggu di teras luar, memerhatikan kehidupan kampung yang mulai bergerak. Tetangga mulai menyapu halaman, dan anak-anak kecil berkaus koko berjalan riang membawa buku mengaji.
Selesai ibadah, istri sang marbot telah menyiapkan sarapan sederhana di meja ruang tamu. Nasi putih hangat, telur dadar dan tempe goreng.
"Silakan dimakan seadanya, Nak," kata sang ibu ramah.
Pak Slamet menyendok sayur bening ke mangkuk kecil di hadapan Baskara.
"Asalnya dari mana, Mas?"
"Kebumen," jawab Skye lebih dulu.
"Terus mau ke Jakarta?"
Skye mengangguk. "Iya, Pak."
"Kerja?"
"Bisa dibilang begitu."
Pak Slamet mengangguk-angguk pelan. "Pantesan bawa laptop terus."
Skye terkekeh kecil. "Iya... ini teman kerja saya."