SUV hitam melaju meninggalkan jalur lingkar luar Jatinegara. Di dalam kabin, radio mobil dimatikan total. Tidak ada alunan musik komersial. Deru halus mesin V6 membelah keheningan jalan menuju Jakarta Utara.
Skye duduk meringkuk di kursi penumpang, wajahnya menghadap penuh ke arah jendela kaca.. Baskara beberapa kali melirik sekilas lewat kaca spion tengah.
"Masih sakit?" tanya Baskara memecah sunyi.
Skye mengerjap. "Hm?"
"Kaki."
"Oh... Udah mendingan."
Hening kembali merayap.
Skye kembali membuang pandangannya ke luar jendela.
SUV hitam meluncur mulus di atas aspal yang mulai padat oleh truk-truk logistik. Baskara kembali melirik lewat spion. Ia menangkap gelagat Skye yang beberapa kali hendak membuka mulut, namun selalu mengurungkannya kembali.
"Lo kenapa?" tanya Baskara lagi.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Bohong."
Skye tertawa kecil. "Serius, Bas."
Baskara kembali fokus menatap lurus ke jalanan di depan. "Tawa lo beda."
Skye menoleh. "Maksudnya?"
"Kayak orang lagi nyimpen sesuatu."
Skye membuka mulut, lalu kembali mengatupkannya. Jemarinya memainkan ujung sabuk pengaman. Sekali. Dua kali. Kuku ibu jarinya menggores kain nilon tanpa sadar.
Beberapa detik berlalu, embusan napas pelan ke kaca jendela yang mulai berembun. Skye membuang muka kembali menempelkan keningnya ke kaca jendela tanpa memberi jawaban.
Di lampu merah berikutnya, mobil berhenti sejenak, Skye membuka ranselnya diam-diam. Jemarinya meraba bagian saku, menyentuh secarik kertas hasil salinan data masa lalu Baskara yang ia sembunyikan di dalam dompet. Ia memastikan kertas itu masih ada di tempatnya, lalu buru-buru menutup ritsletingnya saat Baskara melirik sekilas.
SUV terus melaju ke utara, meninggalkan deretan ruko, bengkel, dan permukiman padat yang perlahan berganti menjadi kawasan industri. Cerobong-cerobong pabrik menjulang di kejauhan, mengepulkan asap tipis ke langit yang mulai memutih. Truk-truk bertonase besar mendominasi jalan, memaksa Baskara beberapa kali mengurangi kecepatan sebelum kembali mengambil lajur kanan.
Di balik kaca jendela, gedung-gedung tinggi Jakarta satu per satu menghilang dari pandangan. Digantikan pagar-pagar besi panjang, lapangan penumpukan peti kemas, serta rel-rel kereta barang yang membelah kawasan pergudangan.
Skye menatap semua itu tanpa benar-benar melihatnya. Jemarinya beberapa kali menyentuh saku tempat dompetnya tersimpan, lalu kembali diam di pangkuan. Sesekali ia melirik Baskara yang tetap menggenggam kemudi dengan tatapan lurus ke depan.
Suara ban bergesekan dengan aspal, deru mesin truk yang menyalip lambat, dan sesekali bunyi klakson panjang dari kendaraan logistik yang memenuhi jalan menuju kawasan pelabuhan.
Semakin mendekati kawasan utara Jakarta, lanskap kota berubah drastis. Udara di luar mulai pekat, aroma asin air laut berpadu dengan sengatan bau solar dan limbah pelabuhan. Truk-truk kontainer bermuatan raksasa lalu-lalang lambat. Gudang-gudang tua berdinding seng berkarat berdiri berjajar, diselingi suara burung camar yang melintas rendah di atas langit kelabu.
"Tempat begini ya..." gumam Skye lirih.
"Gudang selalu dipilih karena sepi," jawab Baskara tenang.