Suara bantingan pintu kendaraan dari tiga arah yang berbeda bergemerincing nyaring, memantul di dinding-dinding seng tua gudang pelabuhan yang kosong. Di dalam ruangan yang remang-remang, Baskara dan Skye membeku. Udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi tipis dan berat.
"Bas..." bisik Skye terbata, matanya bergetar menatap pintu depan.
Baskara menarik pergelangan Skye tanpa suara. "Nunduk."
Skye berjongkok di balik tumpukan peti kayu besar yang berdebu tebal. Baskara bergerak secepat bayangan, merapat ke sisi peti, mengatur napasnya agar tidak menimbulkan suara di tengah keheningan.
Di luar dinding gudang, dua kekuatan besar itu bergerak dalam bayang-bayang. Di sisi timur, tim taktis New Hydra menyusup masuk lewat pintu samping. Melalui lensa night-vision dan pantulan cahaya dari celah dinding, mereka melihat siluet manusia bersenjata lengkap bergerak di sisi barat gudang.
"Visual terdeteksi" bisik pemimpin regu New Hydra melalui microphone.
Di sisi barat, tim operasi khusus Otoritas menyelinap masuk dari arah berlawanan. Mereka menangkap pergerakan kelompok bersenjata lain di ujung lorong Gudang lewat layer pemantauan.
"Kontak visual," lapor seorang agen Otoritas lewat saluran komunikasi terenkripsi di telinganya. "Bersenjata. Diduga kuat pasukan pengamanan target utama."
Saluran radio militer berbisik pendek di frekuensi tertutup masing-masing kubu.
"Siaga penuh... Buka tembakan jika mendekat."
Sekian detik yang terasa berjalan selama berjam-jam. Lalu...
Dor!
Tidak ada yang tahu tembakan pertama berasal dari mana.
Satu peluru menyusul sepuluh peluru lainnya. Dalam hitungan detik, ratusan butir timah panas merobek dinding seng gudang, menghancurkan kaca-kaca jendela atas, memecahkan peti kayu menjadi serpihan kecil.
Gudang pelabuhan berubah menjadi medan pembantaian dalam sekejap. Suara logam beradu memenuhi seluruh isi gudang. Peluru menghantam tiang baja, memantul liar ke segala arah. Rantai-rantai derek yang menggantung di langit-langit berayun keras akibat getaran ledakan, saling berbenturan mengeluarkan dentingan nyaring yang terus bergema.
Terpal-terpal tua robek dihajar timah panas. Debu semen yang mengendap bertahun-tahun luruh dari rangka atap, berubah menjadi kabut kelabu yang menggantung di udara.
Di sudut ruangan, tumpukan drum kosong terguling satu demi satu.
Dung! Dung! Dung!
Suara benturannya bercampur dengan rentetan senapan.
Di balik tumpukan peti, desingan peluru melintas begitu dekat hingga mendesis di telinga. Skye meringkuk, kedua tangannya mendekap kepala, napasnya tersengal dalam kepanikan.
Pandangan Baskara mengamati sudut datangnya peluru, membaca pola pantulan suara letusan, dan menghitung jeda waktu saat senjata-senjata di luar sana melakukan reload.
"Bas, mereka siapa?!" teriak Skye di tengah bisingnya suara logam yang saling menghantam.
Baskara mengintip sepersekian detik lewat celah sempit di atas peti. Ia melihat kilatan moncong senjata dari dua arah yang berbeda saling memberondong tanpa henti.
"Bukan buat kita," teriak Baskara tepat di telinga Skye.
"Apa?!"