Ledakan lain mengguncang isi gudang. Gelombang panas menghantam punggung Baskara ketika sebagian atap baja ambruk disertai hujan percikan api. Asap hitam menelan hampir seluruh pandangan. Di balik kepulan, suara tembakan berubah semakin jarang, digantikan bunyi batuk, teriakan perintah yang saling bertumpang tindih, dan gelegar kayu-kayu penyangga yang mulai runtuh satu per satu.
"Bas!" Suara Beta menerobos riuhnya kobaran api.
Baskara menoleh. Siluet Beta muncul dari balik asap, wajahnya penuh jelaga. Beta menghantam dada Baskara dengan bahunya sendiri, memaksa tubuh Baskara mundur menjauhi kobaran yang merambat cepat ke langit-langit gudang.
"Keluar!" bentaknya.
Baskara sempat melawan, berusaha menoleh kembali ke arah dalam gudang.
"Renggo belum-"
Brak!
Balok kayu sebesar paha manusia jatuh tepat menutup jalur yang baru saja mereka lewati. Kobaran api menjilat dinding di kanan dan kiri, mengubah lorong itu menjadi lautan api dalam hitungan detik.
Beta mencengkeram kerah jaket Baskara lebih keras. "Nggak ada jalan lagi!"
Ia menyeret Baskara menerobos pintu samping gudang yang nyaris runtuh.
Api melahap dinding-dinding kayu gudang pelabuhan dengan suara gemeretak yang nyaring. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit utara Jakarta, menghitamkan langit sore. Suara letusan peluru dan bentrokan senjata di dalam berangsur-angsur meredup, menyisakan deru api yang mengamuk dan letupan-letupan kecil dari bahan yang terbakar.
Beta menarik kerah jaket Baskara keluar dari balik pintu samping pelabuhan, membanting tubuh Baskara ke atas tanah dermaga yang lembap.
Baskara terbatuk-batuk, dadanya naik-turun menghirup udara luar yang dipenuhi debu jelaga. Seragam taktisnya robek di banyak tempat, menyisakan noda hitam di sekujur tubuhnya.
Beberapa meter dari tempat mereka jatuh, Skye berusaha mendirikan tubuhnya sendiri di atas satu kaki, menahan nyeri hebat di pergelangan kakinya yang bengkak, tangannya masih mencengkeram erat ransel hitam miliknya.
Deru api raksasa yang membakar gudang dan debu yang berterbangan ditiup angin laut.
Beta berdiri tegak, napasnya sedikit memburu di balik rompi taktisnya. Baskara duduk bersandar di tumpukan palet kayu rusak.
Beta perlahan mengangkat tangan, membuka helm taktis yang menutupi wajahnya, lalu menjepitnya di pinggang. Wajah pria itu terlihat tegas, keras oleh latihan bertahun-tahun, tanpa ada senyum.
"Masih hidup," sapa Beta datar.
Baskara mendongak, menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Sayangnya."
Beta mengembuskan napas lewat hidung. Jemarinya bergerak hendak menepuk bahu Baskara, gerakannya berhenti di tengah jalan. Tangan itu perlahan turun kembali ke samping tubuhnya.
Baskara melihat gerakan kecil itu dari sudut matanya.
Beta mendengus, sudut bibirnya tertarik sedikit. "Masih sama aja."
Api memantul di wajah mereka bergantian. Di sela suara kayu yang runtuh, deru napas mereka terdengar. Sudah bertahun-tahun mereka tidak berdiri berdampingan tanpa membawa moncong senjata ke arah yang sama.
Mereka berdua menatap lurus ke arah kobaran api yang melahap bangunan di hadapan mereka, tanpa saling menatap satu sama lain.
"Ingat latihan minggu ketiga?" suara Beta memecah gemeretak api.
Baskara diam, mendengarkan.