Singapura, pukul 10.15 pagi
Hujan rintik menetes di luar jendela kaca tinggi gedung Salvatore Holdings. Aira Valente menarik napas dalam, merapikan map berisi CV-nya, lalu melangkah masuk ke ruang wawancara yang sunyi.
Meja mahoni besar memisahkan dirinya dengan seorang pria yang duduk di balik laptop, jas hitam terpasang rapi, dasi abu-abu pekat, dan tatapan dingin yang menelanjanginya dari ujung kepala sampai kaki.
“Nama?” suara beratnya terdengar seperti perintah, bukan pertanyaan.
“Aira Valente.”
Pria itu mengangkat alis sedikit, lalu mengetuk-ngetuk jarinya di meja. “Usia dua puluh empat. Lulusan Ekonomi. Pernah bekerja di kafe, dan... mengajar les privat? Tidak ada pengalaman di perusahaan besar. Lalu, apa yang membuatmu berpikir kau layak duduk di sini?”
Aira menegakkan bahu. “Karena saya bekerja keras, cepat belajar, dan tidak takut tantangan.”
Sekilas, ujung bibir pria itu terangkat entah mengejek atau kagum, Aira tak tahu. “Tidak takut tantangan? Bagus. Karena di sini, kau tidak hanya akan membuat kopi dan mengetik laporan. Kau akan... bertahan hidup.”
Aira mengernyit. “Maaf?”
Ia menutup laptopnya. “Namaku Adrian Salvatore. Aku tidak mempekerjakan orang biasa. Aku mempekerjakan orang yang bisa menjaga rahasia—dan nyawanya.”
Dada Aira terasa mengeras. “Rahasia apa maksud Anda?”
“Bukan sesuatu yang perlu kau ketahui... kecuali kau setuju menjadi asistennya seorang pria yang punya lebih banyak musuh daripada teman.”
Aira mulai berpikir ini wawancara teraneh yang pernah ia jalani. Tapi gaji yang tertera di kontrak yang ia lihat di mejanya
dengan nol lebih banyak dari gaji rata-rata membuatnya menelan ludah.
“Apa ini... semacam lelucon?”
Adrian mencondongkan tubuh. “Tidak. Dan aku akan membayar tiga kali lipat jika kau menerima satu syarat tambahan.”
Aira merasa bulu kuduknya berdiri. “Syarat apa?”
Mata abu-abu itu menatapnya tanpa berkedip, seperti menembus pikirannya. “Kau akan tinggal di rumahku. Mulai malam ini.”
Aira menatap pria di depannya seperti menatap teka-teki yang tak memiliki petunjuk sama sekali. “Tinggal di rumah Anda?” tanyanya lagi, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
Adrian Salvatore tidak mengulang. Ia hanya diam, menatapnya seolah sedang menimbang harga sebuah barang di lelang, bukan menilai manusia. Sunyi merayap di ruangan, hanya terdengar suara hujan yang memukul-mukul kaca jendela.
“Kenapa?” suara Aira keluar lebih pelan daripada yang ia maksudkan.
Adrian memutar pena di jarinya. “Karena aku tidak percaya orang yang bekerja dekat denganku bisa pulang ke tempat yang tidak bisa aku kendalikan. Aku tidak suka risiko.”
Aira menelan ludah. Kata-katanya mengandung makna yang lebih berat dari sekadar ‘aturan kerja’. Ada sesuatu di balik kalimat itu. Sesuatu yang berbahaya.