Aira duduk di kursi kulit hitam itu, merasa tubuhnya kaku. Ruangan kerja Adrian Salvatore terlalu luas untuk membuat siapa pun nyaman. Dinding kaca menjulang, memperlihatkan pemandangan kota yang dibasahi hujan. Aroma kopi pahit dan wangi kayu mahal mengisi udara.
Di seberang meja, Adrian mengetik beberapa detik terakhir sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam, terlalu dalam untuk dilawan.
“Aku tidak suka membuang waktu,” ucapnya datar. “Jadi, aku akan langsung pada intinya.”
Aira menelan ludah. Ia pikir pertemuan ini hanyalah lanjutan dari wawancara singkat di lobi. Tapi kini, nada suara pria itu membuatnya curiga.
“Aku butuh asisten pribadi,” lanjutnya. “Tugasnya sederhana: mengatur jadwal, mendampingi setiap pertemuan, dan… tinggal di rumahku.”
Alis Aira terangkat. “Maaf, tinggal di rumah Anda?”
Adrian bersandar di kursinya. “Betul. Aku punya alasan keamanan. Aku tidak mengizinkan orang-orang di sekitarku keluar masuk sesuka hati. Jika kau setuju, kontraknya jelas tidak ada hubungan personal, hanya profesional.”
“Dan kalau saya tidak setuju?”
“Maka pertemuan ini selesai sekarang.” Suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu di balik nada itu yang membuat Aira merasa seperti menolak bukanlah pilihan.
Ia mencoba berpikir rasional. “Kenapa saya? Anda bisa menyewa siapa saja.”
Adrian memiringkan kepala. “Karena kau tidak takut menatap mataku sejak pertama kita bertemu.”
Jawaban itu membuat jantung Aira berdegup lebih cepat. Apakah itu pujian atau peringatan?
Ia bersandar ke kursinya, mencoba mengendalikan diri. “Berapa gajinya?”
Adrian mengambil sebuah map hitam dari laci, lalu meletakkannya di hadapan Aira. “Lima kali lipat dari yang ditawarkan perusahaan manapun untuk posisi serupa.”
Aira membuka map itu. Angka yang tertera membuatnya nyaris terbatuk. Jumlahnya cukup untuk melunasi semua hutang keluarga, bahkan memberi modal untuk membuka usaha sendiri. Tetapi… ada sesuatu yang terasa aneh.
“Kenapa… jumlahnya setinggi ini?”
Adrian tidak berkedip. “Karena aku menuntut loyalitas penuh. Tidak ada rahasia yang meninggalkan rumahku.”
Kata-katanya terdengar seperti bayangan ancaman. Aira menutup map itu dengan perlahan. “Kalau saya terima, apa yang akan terjadi selanjutnya?”
“Kau akan pindah malam ini.” Adrian mengucapkannya seolah sedang membicarakan hal sepele seperti memilih menu makan siang.
Aira memandang keluar jendela, mencoba mencari celah untuk menolak dengan sopan. Namun, sebelum ia sempat berbicara, pintu ruangan diketuk. Seorang pria tinggi dengan jas abu-abu masuk. Ia membawa sebuah amplop dan meletakkannya di meja Adrian.
“Laporan keamanan, Tuan,” katanya singkat, lalu melirik Aira dengan tatapan penuh evaluasi, seperti sedang mengukur nilai seorang barang lelang.