Bandara Hang Nadim, Batam, sore itu penuh sesak. Suara pengumuman bercampur dengan derap langkah ratusan orang yang terburu-buru. Aira merapatkan jaketnya, menggenggam tiket penerbangan yang Adrian berikan pagi tadi. Ia masih belum mengerti mengapa mendadak harus ikut ke Batam untuk “urusan pekerjaan” tanpa penjelasan detail.
Ia melangkah menuju gerbang keberangkatan, ketika melihat sosok pria tinggi berjas abu-abu berjalan cepat di depannya. Rambut hitamnya tersisir rapi, langkahnya mantap tidak salah lagi, itu Adrian. Tapi… ia tidak sendirian.
Di sebelahnya, seorang wanita berambut pirang bergaya elegan melangkah santai sambil menyentuh lengan Adrian. Mereka berbicara pelan, seakan membicarakan sesuatu yang penting.
Aira ragu, hendak menyapa, namun langkahnya terhenti ketika tatapan Adrian tiba-tiba mengarah padanya. Mata kelam itu menusuk dari kejauhan dingin, penuh peringatan, seolah berkata: Jangan ikut campur.
Seorang petugas bandara memanggil nomor penerbangan Aira. Saat ia menoleh lagi, Adrian dan wanita itu sudah menghilang di kerumunan.
Namun di pergelangan tangannya, Aira baru menyadari secarik kertas kecil yang entah kapan terselip. Hanya ada satu kalimat di sana:
"Jangan percaya siapa pun di pesawat ini."
Bayangan di Atas Awan
Denting sabuk pengaman terdengar hampir bersamaan dengan instruksi pramugari. Pesawat menuju Batam mulai bergerak perlahan ke landasan. Aira duduk di kursi dekat jendela, mencoba menenangkan napas. Pemandangan luar yang basah oleh hujan hanya menambah rasa sesak di dadanya.
Ia tak melihat Adrian sejak insiden di terminal tadi. Wanita berambut pirang itu pun menghilang entah ke mana. Namun, rasa diawasi tidak juga hilang. Sesekali, Aira menoleh ke belakang dan selalu saja menemukan sepasang mata asing yang seperti mengikutinya.
Ketika pesawat mulai menanjak, sebuah suara rendah terdengar di sampingnya.
“Sepertinya aku salah memilih kursi.”
Aira menoleh cepat. Adrian berdiri di lorong, dengan ekspresi dingin yang sama seperti di bandara. Ia menunjuk kursi kosong di sebelah Aira. Pramugari yang lewat langsung menunduk hormat padanya, seakan tahu siapa dia.
Tanpa menunggu izin, Adrian duduk. Aroma parfum maskulin menyelusup, bercampur dengan dinginnya hawa AC.
“Aku tidak butuh pengawasan,” Aira berbisik, mencoba terdengar tegas.
Adrian hanya melirik singkat. “Kau terlalu ceroboh. Satu langkah salah, dan kau akan membuat kita berdua dalam masalah.”
“Maksudnya?”
Dia tak menjawab. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah amplop hitam dari jasnya, meletakkannya di pangkuannya. “Jangan buka sampai aku bilang.”
Aira ingin bertanya lebih lanjut, tapi tatapan Adrian membuatnya menelan kata-kata itu. Ia akhirnya memalingkan wajah ke jendela, mencoba mengalihkan pikiran.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sampai sebuah getaran aneh terasa di bawah kursi. Aira mengernyit. Getaran itu bukan dari mesin pesawat terasa lebih ritmis, seperti getaran dari benda elektronik.
“Apa kau merasakannya?” tanyanya pelan.
Adrian diam, namun jemarinya bergerak cepat menekan tombol di jam tangannya. Sepersekian detik kemudian, getaran itu hilang.
“Jangan bicara dengan penumpang di belakang kita,” ucapnya tanpa menoleh.