Malam itu, hujan turun tipis di Batam. Lampu kota memantul di jalanan basah, menciptakan bayangan berkilau di luar jendela kamar Aira. Ia baru saja keluar dari kamar mandi ketika samar-samar mendengar suara pintu di ujung koridor terbuka lalu tertutup cepat.
Rasa ingin tahunya terusik. Sepanjang hari, Adrian tidak terlihat. Katanya, ia ada urusan penting di pelabuhan. Namun suara langkah barusan terdengar terlalu terburu-buru—bukan gaya Adrian yang biasanya tenang.
Kamar Adrian berada tepat di ujung koridor. Pintu itu sedikit terbuka, memancarkan cahaya lampu meja. Aira ragu, tapi kakinya sudah melangkah sebelum pikirannya memutuskan.
Begitu masuk, aroma khas parfum maskulin Adrian langsung memenuhi hidungnya. Di meja kerja, laptop terbuka, tapi layarnya terkunci. Di sampingnya ada tumpukan berkas, salah satunya setengah terbuka, memperlihatkan foto-foto dan dokumen dengan cap merah bertuliskan CONFIDENTIAL.
Aira menarik napas panjang, lalu menarik berkas itu mendekat. Foto-foto di dalamnya membuat bulu kuduknya merinding—salah satunya adalah foto dirinya, diambil diam-diam di pasar beberapa minggu lalu. Ada juga daftar nama, beberapa di antaranya sudah dicoret dengan tinta merah.
Jantungnya berdegup kencang. Apa maksud semua ini? Kenapa fotonya ada di antara berkas rahasia?
Tiba-tiba, pintu menutup pelan di belakangnya. Aira membeku.
“Aku tidak suka orang menyentuh barang yang bukan miliknya,” suara Adrian terdengar rendah, dingin, dan mematikan.
Ia berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam seperti bilah pisau.
Garis Tipis antara Percaya dan Curiga
Aira merasakan tengkuknya meremang. Tatapan Adrian yang gelap dan penuh tekanan membuatnya sulit bernapas.
“Aku… aku cuma penasaran,” suaranya bergetar.
“Penasaran bisa membuatmu mati,” balas Adrian datar.
Ia berjalan perlahan menuju meja, namun tidak memalingkan pandangan dari Aira. Gerakannya seperti seekor predator yang mengurung mangsa di sudut. Aira secara refleks mundur setapak.
“Kenapa ada fotoku di sini?!” Aira akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya meninggi.
Adrian berhenti tepat di hadapannya, lalu menyentuh tepi berkas itu. “Karena sejak pertama kali aku melihatmu… aku tahu kau akan terseret dalam ini. Entah kau mau atau tidak.”
“Apa maksudmu?!”
“Tidak semua yang kulakukan bisa kau pahami sekarang, Aira. Tapi setiap orang di daftar ini,” ia menunjuk kertas bertuliskan nama-nama yang sebagian besar dicoret merah, “sudah mati atau sedang diburu. Dan kau—” ia menunjuk wajah Aira di foto—“ada di daftar berikutnya.”
Aira membeku. Kata-katanya seperti palu yang menghantam jantungnya. “Jadi… kau ini siapa sebenarnya?”
Adrian tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak hangat. “Seseorang yang sedang mencoba membuatmu tetap hidup. Tapi untuk itu, kau harus patuh.”
Belum sempat Aira membalas, suara pecahan kaca terdengar dari arah jendela. Adrian bergerak cepat, meraih bahunya dan menariknya jatuh ke lantai.
“Diam!” bisiknya.