Perahu motor akhirnya bersandar di dermaga kecil yang remang. Udara asin menusuk hidung Aira saat ia melangkah turun. Hujan telah reda, menyisakan kabut tipis yang membuat sekeliling tampak seperti lukisan buram.
Adrian berjalan cepat di depannya, tanpa banyak bicara. Mereka menuju sebuah bangunan tua di tepi dermaga—terlihat seperti gudang, tapi di dalamnya ada ruang kecil yang dilengkapi sofa, meja kayu, dan rak penuh peta laut.
“Beristirahatlah di sini,” kata Adrian singkat. “Aku ada urusan sebentar.”
Sebelum Aira bisa bertanya, ia sudah keluar. Pintu tertutup, meninggalkan Aira sendirian dengan suara detak jam tua yang menggantung di dinding.
Ia duduk di sofa, memeluk lutut. Rasa lelah mulai merayap, tapi pikirannya dipenuhi pertanyaan: Siapa orang-orang yang menyerang tadi? Mengapa Adrian begitu yakin mereka datang untuknya?
Ketika ia hampir terlelap, suara pintu berderit membuatnya tersentak. Seorang pria masuk—tinggi, berkulit kecokelatan, mengenakan jaket kulit hitam. Rambutnya sedikit berantakan, tapi tatapan matanya tajam dan penuh perhitungan.
“Kau Aira?” suaranya berat, dalam, dan penuh kewaspadaan.
Aira mengangguk pelan. “Siapa Anda?”
“Lucas,” jawabnya singkat, menutup pintu perlahan. “Aku kenal Adrian. Dan aku kenal keluarganya… lebih dari yang kau bayangkan.”
Aira menelan ludah. “Kalau begitu, kau pasti tahu apa yang sedang terjadi?”
Lucas mendekat, duduk di kursi seberang. “Yang perlu kau tahu sekarang cuma satu: kau harus menjauh dari urusan keluarga Salvatore. Mereka bukan orang biasa. Sekali kau terjebak di dalamnya, tidak ada jalan keluar tanpa kehilangan sesuatu—atau seseorang.”
Aira merasa darahnya mendingin. “Kalau mereka berbahaya… kenapa kau di sini?”
Lucas menatapnya lama. “Karena aku pernah berada di posisimu. Dan aku tahu, pilihan yang kau buat malam ini akan menentukan apakah kau akan hidup atau mati di bulan berikutnya.”
Suara langkah kaki di luar membuat Lucas berhenti bicara. Ia berdiri cepat, mendekat ke pintu, lalu berbisik sebelum pergi:
“Jangan percaya sepenuhnya pada Adrian. Dia tidak memberitahumu segalanya.”
Pintu terbuka, dan Adrian masuk dengan tatapan curiga. “Siapa yang tadi di sini?”
Aira terdiam, mencoba menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. Ia tidak tahu apakah harus mengatakan yang sebenarnya… atau menyimpannya sendiri.
Sejak malam itu, rasa waspada Aira tidak pernah mereda. Setiap langkah yang ia ambil di rumah besar Adrian terasa seperti diikuti tatapan yang tak kasatmata. Kadang, ia mendengar bunyi klik kamera di kejauhan, atau melihat bayangan bergerak di sudut halaman.
Pagi ini, ketika ia keluar ke teras, sebuah mobil hitam tanpa plat berhenti beberapa detik di depan gerbang sebelum melaju lagi.
Aira memeluk dirinya, berusaha menepis pikiran buruk.