Rianti baru kembali ke kontrakannya pukul delapan malam. Hari ini tidak mudah baginya. Di tengah kewajiban menuntaskan skripsi, Rianti juga diharuskan mencari penghasilan tambahan demi tetap melangsungkan hidupnya. Saat mahasiswa yang lain sibuk berkutat dengan laptopnya di kafe, tidak bagi Rianti yang bekerja melayani pelanggan termasuk teman kuliahnya di kafe yang sama. Sebagai seorang waiters, Rianti menyimpan skripsinya setiap sore. Baru di malam harinya, Rianti membuka lagi laptopnya yang lemot dan mulai mengerjakan skripsi untuk dibawa esok hari pada pembimbingnya.
Rianti sebenarnya adalah mahasiswi yang rajin dan berprestasi. Saat dirinya masuk kuliah dengan mengandalkan beasiswa KIP, mengambil jurusan akuntansi karena ingin bekerja di bagian admin. Tapi takdir seolah menetapkan hal lain bagi Rianti. Orang tuanya berpisah persis saat Rianti masuk kuliah semester satu. Dengan keadaan ekonomi yang ada, Rianti tetap memaksakan diri melanjutkan kuliah yang sudah disahkan perjanjian dengan pihak kampus. Lalu seiring berjalannya waktu, Rianti tidak ingin merepotkan ibunya dan memilih mengontrak agar bisa berjalan kaki ke tempat kuliahnya. Meski mendapatkan beasiswa KIP, Rianti merasa tak pernah cukup jika harus berbagi uang dengan ibunya yang hanya berjualan kue basah. Untungnya, pemilik kontrakan memperlakukan Rianti dengan baik dan seringkali memberikan diskon saat membayar kontrakan di setiap bulannya.
Selepas bekerja tadi sore, malam ini Rianti mampir ke tempat nasi goreng langganannya yang tak jauh dari kontrakan. Dengan sisa tenaga yang masih tersimpan, Rianti menyempatkan makan malam karena tidak ingin jatuh sakit dan menyia-nyiakan harinya untuk berbaring di tempat tidur. Selain itu, nasi goreng disini termasuk yang termurah menurutnya. Rianti juga bersyukur karena malam ini, pesanannya termasuk cepat karena pelanggannya hanya Rianti dan dua pasangan yang duduk di meja terpisah.
“Ehh.. Teh Rianti?” Seseorang menyapa Rianti dan menghampirinya.
“Ehh.. Kang Sandi. Makan kang.” Rianti tersenyum pada pemuda dengan tubuh yang atletis dan berkharisma bernama Sandi, orang yang juga menjadi penghuni di kontrakan yang sama dengan kontrakan Rianti. Setahu Rianti, Sandi adalah pekerja keras sebagai sales yang dari pagi buta sudah berangkat dan baru pulang malam harinya.
“Mangga, saya mah mau dibungkus aja buat di kontrakan. Kenapa baru pulang, Teh?” Tanya lagi Sandi yang sudah duduk di seberang Rianti.
“Ya... biasa Kang, kerja dulu. Part time gitu lah buat nambah uang jajan.” Sandi mengangguk saja dengan penjelasan Rianti sambil mengeluarkan telepon genggamnya untuk mengecek sesuatu karena ada dering notifikasi.
“Mang, nu abdi tos di damelkeun teu acan??” Sandi bertanya pada tukang nasi goreng yang masih sibuk memotong sayuran.
“Teu acan Kang, kedap ieu bade.”
“Tong di damel ayeuna we Mang. Abdi bade angkat hela. Ke kadieu deui.” Sandi beranjak dari tempat duduknya. “Teh, saya tinggal dulu ya. Ada orderan.” Sandi pamitan pada Rianti dan pergi begitu saja. Rianti bingung, orderan apa yang sampai malam hari masih membutuhkan seorang sales? Pikirnya. Rianti hanya mengangkat bahu dan melanjutkan menyuap nasi goreng ke mulutnya.
Satu jam berlalu, Rianti kembali ke kontrakannya. Pukul sembilan malam, tentu kontrakan sepi karena para penghuni sudah terlelap di balik selimutnya. Hanya ada satu dua saja yang masih terbangun, juga sesekali terdengar suara-suara game dari ponsel. Rianti tinggal di kontrakan nomor 07 yang ada di paling ujung dekat rumah pemilik kontrakan. Meski kontrakannya berderet sejajar, namun karena kontrakan Rianti ada di ujung, kontrakan Rianti paling sepi dari kerumunan orang yang suka nongkrong di pos ronda yang ada di seberang kontrakan nomor 03, kontrakan yang dihuni oleh Sandi. Apabila di siang hari ramai oleh orang yang berlalu lalang dan bermain di sekitaran kontrakan, tidak di malam harinya. Hal tersebut membuat Rianti sedikit lega karena waktu malamnya tidak akan terganggu.
Kontrakan yang hanya 3x6 meter itu dimanfaatkan Rianti untuk dijadikan sebagai ruang tidur dan ruang belajar sekaligus. Rianti tidak punya televisi, hanya mengandalkan laptop lemotnya yang punya film drama korea itu-itu saja dan ditonton berulang kali. Beruntung, Rianti punya benda paling dibutuhkan di kontrakannya, kipas angin dan radio. Dengan luas ruangan yang terbilang sempit, tentu suasana akan selalu panas baik siang maupun malam. Setiap Rianti pulang ke kontrakan dan sampai besoknya sebelum Rianti bepergian, kipas itu akan selalu dinyalakan.
Rianti bergegas mandi dan mulai mengerjakan skripsinya karena besok harus diserahkan kepada pembimbing. Tidak ada waktu lagi bagi Rianti karena harus mendaftar sempro. Disaat teman kelasnya sudah revisi sempro dan siap terjun ke lapangan untuk penelitian. Rianti masih ada di tahap akan memulai sempro. Bobot skripsi di jurusan akuntansi sebenarnya masih terbilang tidak terlalu sulit bagi Rianti. Hanya saja, yang membuat Rianti kesulitan adalah membagi waktu antara mengerjakan skripsi dengan bekerja paruh waktunya. Terlebih lagi, pembimbing Rianti, keduanya sulit untuk dihubungi dan jarang ada di lingkungan kampus. Alhasil, pengerjaan skripsi Rianti semakin terhambat.
Bab tiga mulai dikerjakan Rianti di malam yang sepi. Kali ini, pengerjaan skripsi Rianti ditemani oleh earphone yang menggantung di telinganya. Untungnya Rianti sedang dalam mood yang baik sehingga rasa kantuk belum kunjung datang. Rianti meninggikan tingkat fokusnya karena tidak ingin menunda-nunda lagi skripsinya. Besok pun adalah peluang besarnya karena pembimbing Rianti ada jadwal mengisi kelas di semester lima. Rianti terus berkutat dengan keyboard laptopnya sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu yang didengarnya. Hingga tanpa terasa, tengah malam tiba dan Rianti masih tetap bersama dengan laptop lemotnya.
***
Suasana kampus sudah ramai sejak pukul tujuh pagi karena setiap prodi punya mata kuliah di hari dan jam yang sama. Keberuntungan lainnya datang pada Rianti karena dosen pembimbingnya meminta Rianti untuk bimbingan pukul satu siang hingga Rianti bisa bersantai dan mengerjakan hal lain terlebih dahulu.
Pagi ini, para tetangga di kontrakan Rianti sudah riuh dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang akan bekerja, ada yang akan mengantar anaknya ke sekolah dan lain sebagainya. Rianti tentu sudah terbiasa dengan keadaan pagi hari yang ramai dengan beragam macam kegiatan. Dan apa boleh buat, bagi Rianti itu adalah salah satu kegiatan sosial yang tidak boleh dihakimi. Sebab menurutnya, kita tidak bisa memaksa siapapun menilai dari pandangan masing-masing tentang kebisingan yang dibuat orang lain tanpa tahu penyebabnya.