Kita Adalah Pendosa

S.K Fauziyah
Chapter #2

Sandi

Sandi belum beranjak dari tempat duduknya selepas nasi goreng yang dipesan habis tak tersisa hanya dalam waktu tiga belas menit saja. Kepulan asap rokok dihembuskan begitu panjang seolah beban hidup, separuhnya terhempas keluar dari diri Sandi.

Kenyataan pahit yang harus Sandi terima sampai saat ini adalah terus bekerja tiada henti pagi dan malam. Demi menggapai tujuan untuk kembali ke kampung halaman dan membeli rumah, Sandi harus merelakan masa mudanya dengan menjadi seorang sales. Orang tuanya yang tinggal di kampung masih mengontrak dan bayaran bulanannya ditanggung oleh Sandi. Adiknya masih harus sekolah, ibunya entah kemana sejak Sandi SMP. Dan kini, ayahnya menderita sakit-sakitan hingga tidak bisa bekerja dengan layak. Sandi sebagai anak tertua tentu punya tanggung jawab yang lebih besar. Meskipun adiknya juga seorang lelaki, Sandi masih belum berani mengajarkan cara bekerja karena ingin membiarkan adiknya fokus sekolah hingga lulus di menengah kejuruan.

Sandi memilih bekerja di perantauan karena merasa punya peluang besar daripada di kampung halamannya yang terbilang tidak sejahtera secara perekonomian. Sandi memilih menjadi sales dengan harapan mendapat keuntungan sesuai dengan target yang diinginkan bosnya. Selain itu, dengan modal lulusan SMP yang ijazahnya masih tertahan sampai saat ini, mencari pekerjaan lebih sulit bagi Sandi dibandingkan dengan para lulusan sarjana yang ahli di bidangnya masing-masing. Persaingan ketat dirasakan nyata oleh Sandi saat melamar pekerjaan di banyak tempat. Alhasil, Sandi hanya menjadi seorang sales yang setiap hari berkeliling mencari orang yang mau ditawari produk karena itu satu-satunya keahlian yang Sandi bisa. Setidaknya, meski Sandi tidak berpendidikan tinggi, kinerja Sandi dengan tipe yang pekerja keras inilah yang disukai oleh bosnya.

Tiga batang rokok tersisa. Sandi menyimpannya untuk besok demi menghemat pengeluaran. Sebagai perokok aktif, Sandi terkadang dilanda kebimbangan saat membeli sesuatu yang dirasa butuh untuk penenangnya. Mau tidak mau, Sandi harus berhemat tapi tetap bisa menikmati asap. Sandi menghembuskan asap terakhir rokoknya sebelum dipadamkan. Tak lupa Sandi membayar pesanan nasi gorengnya lalu berjalan kembali ke kontrakannya untuk istirahat mengisi ulang energi mempersiapkan esok harinya.

Sama seperti hari lainnya. Sandi selalu pergi dan kembali ke kontrakan dalam keadaan hening. Bagaimana tidak, Sandi pergi bekerja pukul empat pagi saat penghuni kontrakan lain mungkin masih terlelap. Kecuali Pak ustad Soleh yang sudah berangkat ke masjid. Juga pulang saat penghuni kontrakan lain mungkin sudah terlelap. Tapi dengan begitu, Sandi bisa pergi dan pulang dengan tenang tanpa dihujani banyak pertanyaan. Kecuali, bertemu dengan Rianti untuk beberapa kebetulan yang tak terduga, seperti malam ini.

Kontrakan nomor 03 baru dinyalakan lampunya oleh Sandi, demi menghemat pengeluaran listriknya. Sandi hanya memasang tiga lampu di kontrakannya. Di ruang utama, di luar dan di kamar mandi yang menyatu dengan dapur. Tidak ada televisi atau kipas angin yang terpajang. Untungnya, tetap ada radio jadul yang Sandi punya untuk sekadar mendengarkan musik atau mengetahui informasi terbaru yang disiarkan.

Selepas mandi dan beberes kontrakan yang tidak terlalu luas, Sandi merebahkan diri di ruang utama. Radio bututnya memutar lagu lawas yang sesekali bergantian dengan jeda informasi yang disampaikan si penyiar. Teras kontrakan setiap malam hari terasa dingin, selalu Sandi manfaatkan sebagai penyejuk badannya setelah seharian berkeringat karena berkeliling.

Hari ini adalah hari gajian Sandi. Sambil tetap rebahan, Sandi fokus bermain gawai. Tepatnya, Sandi sedang membuka aplikasi kalkulator. Uang gajinya langsung Sandi kalkulasikan untuk satu bulan kedepan. Tak lupa, Sandi juga telah mengirim uang pada adiknya di kampung halaman. Senyum tipis terukir di bibir Sandi karena sudah bisa mencari uang sendiri dan menghidupi keluarga kecilnya. Meski berjauhan, Sandi tak pernah absen untuk melakukan panggilan video dengan adiknya yang bahkan hanya untuk bertegur sapa atau menanyakan kabar satu sama lain saja.

Malam semakin larut ketika Sandi sudah berpindah ke aplikasi kesukaannya, Instagram. Rutinitas Sandi yang hanya begitu-begitu saja, membuat Sandi tentu akan merasa jenuh dan mencari pelarian dengan bermain media sosial. Tidak ada salahnya menjadikan media sosial sebagai alasan mencari hiburan untuk melepas penat setelah bekerja seharian. Dan bagi Sandi, Instagram adalah aplikasi terbaik untuk dijadikan pelarian itu. Reels Instagram terus digulir ke bawah oleh Sandi, sebelum akhirnya ada satu notifikasi di gawainya yang menghentikan sejenak aktivitas scrolling nya. Notifikasi itu langsung dibaca sebelum akhirnya Sandi bergegas beranjak dan bersiap kembali setelah membaca pesan dari kliennya.

***

Cuaca hari ini berbeda dengan sebelumnya. Malam tadi hingga pagi ini, cuaca lebih terasa dingin dan langit sedang mendung pertanda hujan akan turun. Sandi sedikit berlari kecil ke kontrakannya karena tidak kuat menahan kantuk. Kliennya semalam meminta Sandi untuk menginap saja karena kondisi sudah larut malam dan dengan terpaksa, Sandi menurutinya.

“Assalamualaikum, mas Sandi.” Langkah kaki Sandi terhenti sejenak karena pak ustad Soleh menyapa dan menghampirinya.

“Waalaikum salam pak ustad.” Sandi menyalami pak ustad Soleh sebagai tanda hormat yang harus diberikan.

“Pulangnya pagi mas?” Tanya pak ustad Soleh lagi.

“Iya pak ustad. Itung-itung buat tambah penghasilan lagi.” Sandi hanya mengiyakan pertanyaan pak ustad Soleh sambil menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.

“Oh iya.. jangan lupa mas, jaga kesehatan dan jangan lupa tetap beribadah pada Allah SWT. Kita boleh mengejar dunia untuk melangsungkan kehidupan. Tapi jangan lupakan akhirat ya mas.” Sandi hanya menyeringai saja mendengar saran pak ustad Soleh yang memberikan ceramah layaknya ustad pada umumnya. Sandi hanya menganggukan kepala tanda setuju dengan apa yang disampaikan pak ustad Soleh.

“Siap pak ustad, saya tidak akan lupa dengan sarannya.” Pak ustad Soleh juga mengangguk dengan jawaban Sandi. Mereka kembali bersalaman karena pak ustad Soleh pamit untuk melanjutkan aktivitasnya. Sementara Sandi, kembali melangkah menuju kontrakan untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda. Hari ini, Sandi akan mengambil cuti sakitnya dan tidak akan berangkat kerja.

Awan mendung sudah tak kuasa lagi menahan beratnya air. Hujan turun sangat lebat siang harinya. Hal ini menyenangkan karena sudah beberapa bulan kemarin kemarau melanda bumi. Sandi bisa dengan santai merebahkan diri dibalik selimut yang hangat. Meski hujan turun lebat, beberapa pemuda ada yang tetap memilih nongkrong di pos ronda tepat di depan kontrakan Sandi. Mereka adalah pengamen jalanan yang sehari-harinya menenteng gitar serta bekas minuman gelas sebagai wadah receh penghasilan. Dan di pos ronda ini, mereka masih dengan suasana yang gembira sambil memetik gitar, bernyanyi bersahutan dengan lebatnya suara hujan.

Dinginnya cuaca siang ini membuat perut Sandi berbunyi. Radio bututnya yang masih setia memutar lagu lawas, Sandi bawa ke dapur untuk menemani memasak mie instan favoritnya. Air panas sudah mendidih. Sandi memasukan mie instan beserta telur yang dikocok terlebih dahulu. Sesekali Sandi bersenandung mengikuti irama lagu yang diputar di radio bututnya. Hujan perlahan mengecil namun tetap turun membasahi bumi.

“Dalam cinta... haaa.. haaa.. adakah cintamu... haaa.. haaa.. ahhhh... haaa... haaaaa...” Sandi tetap bersenandung sembari terus mengaduk mie dalam panci hingga matang sempurna sebelum akhirnya disajikan dalam mangkuk plastik.

Hujan sudah benar-benar berhenti. Biasanya memang seperti ini saat pertama kali hujan turun lagi, bisa lebat dan sebentar atau bisa kecil namun berlangsung lama. Para pengamen juga kembali melanjutkan aktivitasnya lagi untuk mencari pundi rupiah dengan bertebaran di jalanan. Mie yang sudah Sandi sajikan dalam mangkuk, disimpan sejenak di meja makan karena Sandi ingin menyeduh kopi hitam kesukaannya. Udara dingin membuat Sandi bersyukur karena tidak perlu mengipasi diri dengan tiduran di lantai. Tak lupa mengambil nasi agar kenyang, Sandi makan dengan lahap sekali. Akhir-akhir ini nafsu makan Sandi meningkat drastis. Mungkin karena bekerja seharian tanpa lelah.

Masih dalam momen gajiannya, Sandi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan menghabiskan kuota yang malam ini akan hangus. Sambil menyeruput mie yang sudah dicampur dengan nasi, Sandi menonton video podcast di youtube yang menampilkan seorang influencer memberikan motivasi untuk mulai menabung dan berinvestasi di usia muda.

Lihat selengkapnya