Mungkin aku cukup egois mengklaim Bone sebagai temanku, karena memang hanya Bone yang masih mau bercengkrama denganku tanpa memanggilku nama kutukan yang kubenci. Cerita kami bermulai dari ketika hari terakhir MOS, aku mendapatkan pesanan cimol terakhir di seberang sekolah ketika pulang. Saat sedang menyebrang untuk sampai ke tepi, aku melihat Bone berdiri sendiri di depan gerbang sekolah.
Wajahnya Bone muram menunggu, aku tidak tahu apa yang ditunggu. Jadi kuputuskan untuk berdiri di sebelahnya sambil menyantap cimol yang kubeli dan juga sembari berpura-pura menunggu angkutan kota yang mengarah ke rumahku datang. Untungnya selama MOS aku dengan Bone satu kelompok sehingga kami cukup kenal satu sama lain. Walaupun belum terlalu dekat setidaknya kami sudah saling kenal nama dan wajah.
“Lo gak pulang?” tanya Bone sambil menendang-nendang kerikil di sekitar kami.
Aku mengedikan bahu tidak menjawab, aku ‘pun bingung masa menjawab aku ingin menemaninya menunggu, kan aneh. Jadi alih-alih menjawab aku malah bertanya balik.
“Lo sendiri kenapa belum pulang?”
“Belum dijemput,” jawab Bone singkat.
Aku hanya ber-oh panjang. Mempersepsikan bahwa Bone pasti pulang pergi sekolah ada supir atau ibu yang menjemputnya. Mungkin karena, Masa Orientasi Siswa tidak mengijinkan peserta siswa baru membawa ponselnya, sehingga Bone bingung untuk memberikan kabar. Walaupun, sebenarnya membawa ponsel itu dilarang untuk murid SMP, tapi tidak ayal banyak dari kami yang diam-diam membawanya dan menyembunyikannya. Namun, tersebut tidak berlaku ketika sedang MOS, pengecekkan cukup ketat sehingga tak ada ruang untuk menyembunyikan ponsel.
Selanjutnya, kami bercengkrama cukup larut dari Bone yang menceritakan perjalanan Sekolah Dasarnya, temannya yang dari TK, SD sampai SMP sekarang satu sekolah dengannya dan masih banyak kejadian rumah Bone yang cukup lucu menurutku hingga aku tertawa terbahak. Entah cerita Bone yang lucu atau aku yang terlalu gembira menemukan fakta pada akhirnya ada satu orang yang bisa menerimaku tanpa melihat fisikku.
“Iya, jadi waktu itu mobil gue parkir sebelahan sama mobil yang sama. Nah, gue sama mama gue main masuk aja, pas udah jalan mama gue sadar kok jalan ke rumah beda. Tahu-tahunya kita salah mobil dan sopir itu salah ambil orang.”
Tawaku pecah menyimak cerita lucu pengalaman Bone. Hingga, Bone selesai menceritakan polemik hidupnya yang penuh kelakar, kami berdua menarik napas untuk sesaat. Beberapa detik selanjutnya, Bone yang tidak bisa diam mengajakku bermain angkat jempol. Lagi, sekali lagi, tawaku membuncah, pada tiap kerecehan yang Bone buat. Cimol yang seharusnya kumakan kini kudiamkan, sibuk bermain dengannya. Sampai langit siang menggantung petang dan suara adzan ashar berkumandang. Sebuah mobil Audi Hitam berhenti tepat di depan kami. Kaca mobil itu terbuka sepenuhnya, lalu di balik kemudi tersenyumlah sosok tua yang sepertinya supir pribadinya.
Bone menoleh ke arahku, sebelum benar-benar menghampiri mobilnya.
“Jemputan lo udah sampai mana?”
Aku terdiam. Aku bahkan pulang dengan angkutan kota. Sampai beberapa detik kemudian aku baru bisa menjawabnya. “Duluan aja, paling juga sedikit lagi sampai.”
“Serius? Mau pinjam ponsel supir gue gak?”
Aku menggeleng, ‘meminjam’ katanya. Siapa yang akan kutelepon? “Gak usah, tadi gue udah telepon orang rumah di telepon umum, kok.” Lagi-lagi aku berbohong.
“Gue tungguin deh sampai jemputan lo datang,” ujar Bone bersikukuh.
“Sumpah gak usah, dikit lagi juga sampai kok, bener deh,” ucapku lagi sampai mengangkat kedua jari membentuk angka dua. Gila saja, jika Bone ikut menunggu, bisa-bisa sampai maghrib aku belum juga pulang.
“Demi apa?”
“Paling lima menit lagi sampai.”