Kita, Cerita, Pena.

aul
Chapter #3

3: YANG TERASINGKAN

Sesampainya aku di rumah, aku mendapati Ambu yang sedang menangis sembari berbicara pada telepon rumah. Aku menghelakan nafas panjang. Kuucapkan salamku lebih keras lagi supaya Ambu menoleh. Tapi nyatanya tidak, Ambu tak peduli dengan kedatanganku dan masih sibuk dengan air matanya yang mengalir dengan telepon yang masih menempel di telinganya. Aku nyelonong masuk tanpa salim, karena tahu Ambu sedang sibuk jadi tidak perlu pula aku salim, salamku saja tidak dijawab.

"Teh," panggilnya ketika aku hendak menaiki tangga.

Aku menghentikan langkahku. "Kenapa, Bu?"

Ambu menghampiriku yang masih berdiri di pijakan anak tangga pertama. "Kamu nanti masak buat makan malam, ya," suruhnya membuatku mengernyit.

"Emangnya ambu pengen pergi kemana?"

"Si Aa, tertangkap lagi tawuran antar sekolah. Ambu mau ke kantor polisi dulu. Nggak tahu lama atau sebentar, takutnya pas Ujang sama Abah pulang belum ada makanan nanti kelaparan," jelasnya panjang berentet sementara aku hanya termangut-mangut enggan.

"Yaudah," balasku setelah itu Ambu melenggang ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan lekas pergi menuju kantor polisi.

Aku melempar tubuhku ke atas kasur, memandangi langit-langit kamar yang gelap sebab lampunya belum aku hidupkan. Sementara mentari hampir sirna sinarnya, cahaya oranye senja memasuki dari celah-celah jendela kamarku sebagai satu-satunya sumber cahayaku kali ini.

"Kenapa harus aku?" gumamku kesal.

"Kenapa gak suruh aja Ujang beli makanannya sendiri, kenapa gak suruh aja Ujang atau Abah yang masak sendiri." Aku bersungut-sungut kesal.

"Aa yang mulai masalah aku yang kena musibah," lanjutku terus menggerutu.

Lantas setelah aku mengganti seragam sekolahku, aku kembali turun kebawah. Menuju dapur untuk menyiapkan kudapan makan malam, karena sang waktu sudah mulai menunjukkan pukul enam kurang tiga puluh menit dan suara-suara doa dari masjid-masjid terdekat mulai bertumpu satu sama lain.

Untungnya, aku tinggal menggoreng ayam yang sudah Ambu ungkep dan tinggal menggoreng perkedel yang Ambu sudah buat. Tidak lama setelah maghrib, Abah dan Ujang pulang bersama-sama. Abah pulang dari kantornya dan Ujang yang baru pulang dari tempat bimbingan belajarnya. Seselesainya mereka shalat maghrib bersama-sama keduanya langsung membuka tudung saji yang menutupi lauk yang aku masak.

"Ih, kok, makanannya cuma begini sih?" keluh Ujang ketika yang aku masak hanya sebatas ayam goreng dan perkedel.

"Jangan banyak protes udah makan aja," tukasku memberikan piring yang sudah diisi nasi putih pada Abah.

"Ini Teteh yang masak?" tanya Abah ketika aku sudah duduk di kursiku.

"Iya," jawabku singkat lalu ikut menyantap makanan yang kubuat.

Lihat selengkapnya