Pak Hasbi guru Matematika, hari ini membagikan kembali hasil ujian dua hari yang lalu. Entah pak Hasbi yang sibuk atau memang malas untuk mengoreksinya, sehingga pak Hasbi menyuruh anak kelasnya agar lebih praktis. Sebenarnya, dalam pengecekkan seperti ini sudah sering dilakukan oleh guru-guru lainnya. Hasil ujian sebelum dikoreksi akan dibagikan secara acak dan mendarat pada yang bukan pemiliknya. Begitu pak Hasbi selesai memberikan kunci jawabannya pada papan tulis dan kami seluruh kelas sibuk memeriksanya, sambil berjalan menuju tempat duduknya pak Hasbi berkata.
“Tulis salah, benar, nilai dan pemeriksaanya,” tukasnya. Setelah di ‘iyakan’ oleh seluruh murid, pak Hasbi kembali berkata. “Nanti saat bapak panggil namanya sesuai absen kalian sebut nilainya,” tukasnya lagi yang kami ‘iyakan’ serentak.
Setelah semuanya selesai mengoreksi pak Hasbi mulai memanggil nama murid kelasku sesuai absensi dan beberapa menyebutkan nilai yang namanya dipanggil. Giliran namaku yang dipanggil, aku menunggu siapa yang sekiranya mengoreksi hasil ujianku. Lalu suara tengilnya terdengar berdengung dalam ruang kelas dan aku termangu. Ternyata kertas ujianku diperiksa Bone, seulas senyumku menyungging tipis.
Lalu, sehabis itu ketua kelas kembali mengumpulkan hasil ujian yang baru dikoreksi dan dibagikan sesuai dengan pemiliknya. Ketika kertasku mendarat aku kembali memeriksa ulang hasil ujianku, mana tahu si Bone tidak memeriksanya dengan baik. Begitu, membalikkan kertas berikutnya, lagi-lagi senyumku tersungging namun tidak setipis yang tadi. Ternyata disamping tulisan salah, benar, nilai dan nama pemeriksanya, Bone memberikan sebuah catatan kecil yang berupa sebuah pantun yang menurutku cukup jenaka dan manis. Begini isinya.
Makan mangga di rumah pak Yaya.
Beli pulpen di sentral medikal.
Selamat ya.
Lu gak remedial.
Sebuah ucapan manis itu mengelitikku. Membuatku merasa hangat, tidak hanya mendapat nilai yang memuaskan, tapi juga rasa hangat itu disentuh juga oleh tulisan Bone. Hari-hari berikutnya entah bagaimana, kertas ujianku yang belum dikoreksi itu selalu mendarat di meja Bone dan hal itu benar-benar membuatku senang. Pasalnya Bone kerap menuliskan pantun singkat untukku. Isi pantunnya sederhana, tetapi selalu terasa hangat untuk aku baca. Dalam hal itu pula, aku belajar begitu giat, sebab aku akan malu jika hasil ulanganku mendarat di meja Bone dan aku mendapatkan nilai yang buruk.
Pekan ini, aku mengoreksi hasil ujian IPS milik Bone. Untuk pertama kalinya aku memeriksa hasil ujian Bone dan aku sudah menyiapkan pantun juga untuknya. Hitung-hitung saling berbalas pantun dan latihan pantun untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Lagi-lagi nilai Bone membuatku terkesima, ujian yang diadakan secara mendadak itu tidak menggoyahkan nilai sempurnanya.
Pak Camat beli palu.
Tapi abagnya ketus.
Keren lu.
Nilainya seratus.
Aku tidak secerdas Bone yang tanpa belajar ‘pun nilainya masih sempurna. Tidak, aku tidak sepintar itu. Jika menginginkan kesempurnaan, aku biasanya harus belajar sana-sini dulu barulah aku bisa mendapatkan nilai maksimal. Oleh karena itu aku harus mengikuti remedial sebab nilai yang kudapat kali ini dibawah kkm. Walau tidak terlalu jelek dan hanya di bawah lima poin dibawah kkm, tetap saja aku tidak begitu menyukainya. Sampai sebuah pantun yang Bone berikan kembali membuatku tersenyum tipis.