Kita, Cerita, Pena.

aul
Chapter #5

5: TITIK TEMU

Memasuki semester dua kehidupan sekolahku biasa-biasa saja. Aku yang masih belum mendapatkan teman baik dan aku yang masih dirundung oleh teman-teman angkatanku, tidak jarang senior-seniorku juga ikut mengejek tentang gigiku yang berantakan dan tonggos ini. Tapi aku bisa apa? Melaporkan pada BK sudah terlanjur, panggilan ‘Gitong’ sudah melebar luas. Sehingga guru BK tidak mungkin menyalahkan semua murid disini. Alih-alih aku yang menuntut keadilan, justru nantinya aku yang disuruh berpindah. Jadi, mau tak mau, kuat tak kuat, aku tahan saja, tinggal dua setengah tahun lagi sampai aku lulus sekolah.

Namun, seperti angin di musim panas yang hembusnya menghilangkan dahaga, aku menemukan satu titik cerah. Pertemanan pertamaku dimulai kala aku yang terlalu dini memasuki ruang kelas sehingga tidak ada satupun murid yang mengisi ruang kelas. Sebab bosan, aku mengeluarkan buku novel yang kubawa, membacanya sambil menunggu bel masuk berdentang.

Keajaiban itu terjadi ketika berselang beberapa detik masuklah salah satu siswi yang terkenal akan kecantikannya, kecerdasannya, tapi rusak karena suaranya yang cempreng dan menggelegar juga tingkahnya yang cukup ajaib. Toma panggilannya alias Toa Masjid, walaupun beragama katolik, panggilan Toa Masjid sudah melekat padanya.

Saat itu, aku mendengar kerasak-kerusuknya yang bising. Dimulai dari Toma yang membuka pintu kelas dengan berisik, menarik kursinya, duduk, hingga membuka ranselnya. Semua dilakukan begitu terdengar menghebohkan, tapi aku masih terpaku pada buku yang kubaca. Sampai suara decit sepatunya yang mendekat ke arahku. Kulirik Toma yang tidak acuh pada lirikanku. Toma dengan santai duduk di kursi guru yang berhadapan denganku, lalu mengisi daya pada ponselnya yang dicolokkan pada saklar yang hanya tersedia di dekat meja guru.

Sisanya kami sama-sama diam, aku yang kembali membaca buku, Toma yang memainkan ponselnya. Sampai Toma yang mungkin mulutnya sudah gatal untuk berbicara, dia berceletuk.

“Lo baca Burung-Burung Manyar juga?” tanya nya setelah meletakkan ponselnya di tempat yang cukup tersembunyi dalam kolong meja guru, karena takut jika tiba-tiba ada guru iseng masuk dan ponselnya menjadi sasaran empuk penyitaan.

Aku mengangkat kepalaku. “Iya,” jawabku singkat dan sebab aku yang jarang bergaul membuatku kesulitan mencari ide pembicaraan.

“Gue baru sampai bab dua. Kalau lo udah sampai bab berapa?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum simpul mengetahui Toma yang ekspresif dan enggan mengakhiri pembicaraan. “Mau habis.”

Toma mengangguk dan ber-oh panjang. “Lo suka baca buku klasik ternyata,” ujarnya menyimpulkan membuatku hanya bisa menyunggingkan senyum dan mengangguk membenarkan. “Gue juga,” katanya lagi.

“Sama dong,” kataku singkat.

Toma mengerutkan keningnya lalu terkekeh. “Iya, tadi lo udah ngangguk.”

Aku terkesiap malu sambil mengulum bibir.

“Lo baca Layar Terkembang gak?” tanyanya lagi.

Sontak mataku membulat berkilat-kilat berpendar menunjukan antusias yang membuncah. “Iya, lo juga?”

Lihat selengkapnya