Kita, Cerita, Pena.

aul
Chapter #6

6: PETUALANGAN SHERINA

Toma jadi lebih sering duduk disampingku, entah pada jam kosong atau jam istirahat. Membicarakan beberapa buku yang sudah kami baca masing-masing. Lalu setelahnya kami saling bertukar pikiran. Tidak jarang Bone pun ikut nimbrung begitu pula dengan tiga kawanannya. Sayangnya Toma merupakan anggota OSIS yang sibuk sehingga sesering apapun Toma mampir ke tempatku, tetap saja itu terasa jarang karena beberapa kali pada jam istirahat Toma juga Bone harus menghadiri rapat OSIS yang akhirnya aku sendiri lagi.

Keseragaman Toma dan Bone kerap kali disanjung-sanjung menjadi pasangan ideal karena keduanya sama-sama cerdas. Toma cantik dan Bone tampan. Sama-sama memiliki nama dan popularitas yang menjulang. Baik dan mudah bergaul. Tegas dan tidak sungkan menyampaikan suaranya. Tiap kali mereka berdua pergi bersamaan menuju ruang OSIS siul-siulan bibir teman-teman sekelasku bersorak dan tidak ayal ucapan kata yang membumbui secara romantis menyeruak.

Aku iri.

Bukan cuma karena mereka berdua terlihat sangat selaras. Namun, aku iri dengan kecakapan mereka yang membuat banyak orang terkagum-kagum. Aku iri pada mereka yang selalu mengungkapkan pendapatnya dalam sudut pandang yang luas sehingga dapat diterima banyak orang. Aku iri dengan mereka yang mudah bergaul dan mudah mencari topik pembicaraan. Aku iri dengan kesempurnaan yang mereka miliki.

Namun, rasa iri membuat aku menjadi dekat dengan Bone juga Toma. Sampai sebuah kabar yang tidak mengenakkan tersampaikan pada telingaku. Setelah bel pulang berbunyi kami berenam memiliki rencana untuk menyelesaikan tugas prakarya di rumah Bone. Namun, mereka harus menunggu sebab sekarang aku yang sedang berjongkok buang air kecil mendengar pembicaraan segerombolan perempuan yang memasuki toilet. Nampaknya mereka sedang mencuci tangan sambil berbincang-bincang, awalnya aku tidak peduli sampai salah satu bari mereka berseru.

“Si Toma deketin Gitong biar gak kesaing kali, ya,” ujar salah satunya membuat bahan pembicaraan.

“Kesaing gimana? Orang jelas Toma sama Gitong jomplang gitu,” tambah salah satunya lagi membumbui percakapan tersebut agar semakin nikmat.

“Tapi kan semester kemarin Bone dekat banget tuh sama si Gitong,” ujar yang lainnya.

“Emang si Toma beneran suka sama Bone?” kini suara tanya itu mengintimidasi telingaku.

“Kayaknya sih gitu, secara merekakan serasi banget tuh, udah gitu sering di cie-ciein kalau setiap pergi ke ruang OSIS, paling juga si Toma kesemsem juga sama Bone,” jawab seorang yang memulai pembicaraan.

“Tapi si Bone sukanya sama Gitong,” celetuk salah satunya membuatku terbelalak dibalik pintu yang terkunci.

“Makanya Toma deketin Gitong biar gak kesaing.”

“Tahu dari mana lo Bone suka sama Gitong? Masa Bone yang ganteng gitu Sukanya sama si buruk rupa,” ujarnya mengundang tawa teman-temannya.

“Yaa, lo lihat aja, si Bone deketin Gitong mulu dari semester satu.”

“Bisa aja dia deketin Gitong soalnya OSIS ‘kan lagi menyuarakan campaign anti bullying.”

Setelah itu suara cekikikan mereka terdengar dan pembicaraan-pembicaraan lain terdengar semakin lama semakin samar lalu menghilang. Keluarlah aku dari toilet, mencuci tangan di wastafel sambil kembali berpikir. Iya, juga aku bahkan tidak tahu-menahu kenapa dua orang itu mendekatiku secara agresif. Apakah niat mereka berteman denganku tulus atau hanya memenuhi seruan campaign mereka?

**

Sebelum pergi ke rumah Bone, kami mampir ke minimarket terdekat dari sekolah kami. Hanya berjarak 300 meter disanalah kami mulai mencari makanan ringan untuk menemani kegiatan kerja kelompok kami. Sepanjang perjalanan menuju minimarket terdekat aku lebih banyak diamnya dan menyimak obrolan mereka dari belakang. Ikut tersenyum ketika mereka tersenyum, ikut tertawa ketika mereka tertawa tanpa benar-benar paham apa yang mereka bicarakan sebab pikiranku melayang pada ujaran gerombolan anak perempuan tadi yang tidak sengaja kudengarkan.

Aku begitu tidak menikmati perkumpulan kami kali ini. Namun, keresahan hatiku, kututupi agar tidak merubah suasana yang sedang asik ini. Aku seperti pemeran film yang sedang menjalankan perannya. Aku seperti orang lain disini, bermuka dua. Sampai ketika kami selesai memilih-milih kudapan kami. Mereka memberikan jajanan mereka pada petugas kasir, sedang aku yang sedari tadi menjauh masih mencari permen yang ingin kubeli pada etalase depan kasir.

Lihat selengkapnya