Kita, Cerita, Pena.

aul
Chapter #7

7: RASA YANG MENDEBARKAN

Aku tidak pernah tahu kapan sebuah perasaan itu hadir dalam hidupku. Namun, dari kata yang sempat kudengar ketika jantung berdebar lebih cepat dari biasanya, ketika lidah terasa kelu dan pipi terasa panas itu tanda kita sedang jatuh cinta. Jika aku merasakannya apa artinya aku sedang jatuh cinta?

Semua itu bermula ketika bel masuk berbunyi, pak Cebol langsung tepat memasuki kelas kami. Tiga menit setelahnya, ketika pak Cebol selesai mengabsen para murid satu per satu. Begitu selesai menutup buku absensi murid dan hendak mengajar, pintu ruang kelasku terbuka dengan satu hentakan keras. Dengan cengir tengilnya Bone menatap pak Cebol yang raut wajahnya masam sebab kegiatan ngajar mengajarnya dihancurkan.

“Misi, pak,” ucap Bone setelah salim dan hendak menuju tempat duduknya, tetapi pak Cebol menarik tangan Bone yang hendak pergi.

“Hei, kau lupa peraturan saya, kah!” ujar pak cebol membuat Bone berhenti dan hanya bisa tersenyum pasrah.

Peraturan pak Cebol memang tidaklah rumit. Anak yang terlambat memasuki ruang kelas saat jam pelajarannya harus bernyanyi di depan kelas. Itu saja, tetapi hal itu akan terasa berat untuk orang-orang yang suaranya bisa mendapat tempelengan dari orang yang sedang sakit gigi. Termasuk aku dan suara sumbangku kalau bernyanyi.

Bone berdehem mengecek suaranya agar tidak terdengar soak. Ketika sudah dirasa pas barulah bernyanyi. Bone bernyanyi balonku dengan lantunan khas Bahasa Arab, layaknya sedang mengaji. Dengan begitu khusyuk dan begitu mendalami serta mimik wajahnya begitu menghayati, membuat satu ruang kelas pecah akan tawa, termasuk pak Cebol sendiri yang diam-diam menyunggingkan sebuah senyum dari bibir muramnya.

Begitu pula dengan aku, tawaku membuncah hebat, sampai-sampai mataku tertutup dan menyisakan gemulan air di sudut-sudut mata. Mulutku terbuka lebar yang kusekap dengan tangan. Baru kali ini pagiku dipenuhi dengan tawa, padahal hari ini mataku sedang tidak bisa bertoleransi dan terasa berat, karena begadang mengerjakan tugas sekolah. Namun, semua rasa kantuk hilang kala mendengar Bone yang bernyanyi.

“Balunn qu a’da lima rufa-rufa warnany’a…”

Begitu terus Bone menyanyi, mengiang dalam ruang kelas yang penuh akan tawa. Hingga, ketika aku membuka mataku untuk menghapus air di sudut-sudut mata, aku menyadari. Bahwa sedari tadi Bone melirik-lirik curi pandang menatapku, atau aku hanya kepedean. Sampai tanpa sengaja kedua mata saling berpapasan satu sama lain.

Aku membatu.

Bone terpaku.

Tawaku sirna seketika, digantikan dengan degup jantung yang semena-mena berdetak. Hangat, sangat nyaman untuk saling berpandangan. Masih dalam nyanyiannya, Bone mengulas sebuah senyuman singkat, mengangguk hormat untuk saling memutuskan pandangan yang cukup terpaut selama beberapa detik itu. Sebuah sergapan rasa nyaman yang berserobok memasuki jiwaku secara tiba-tiba. Membuat senyum malu-maluku menguar. Kehangatan yang belum pernah aku rasakan tiba-tiba saja hadir dalam relung hatiku. Apa aku jatuh cinta pada Bone? Sekurang ajar itu cinta datang padaku tanpa pandang bulu! Aku tidak boleh mencintainya. Cukup suka saja, iya kan?

**

Begitu bel pulang berbunyi, seperti biasa aku menaiki angkutan kota yang mengarah ke rumahku. Ketika angkutan kota yang kunaiki berhenti cukup lama, tiba-tiba Bone memasuki angkutan kota yang sama denganku dan duduk di sebelahku. Aku terheran-heran, bukankah biasanya Bone pulang pergi diantar oleh supir. Kenapa bisa-bisanya setelah kejadian yang membuat hatiku berdebar-debar tadi pagi, dipancing kembali oleh Bone yang sengaja duduk di sebelahku? Padahal, ada beberapa kursi yang masih kosong disana.

Jangan ditanya bagaimana perasaanku kali ini. Keringat dingin tiba-tiba bermunculan membasahi telapak tanganku, jantungku kian berdebar kian cepat secepat kilat yang menghantam tanah, lidahku kelu sulit sekali menyapa atau sekedar tersenyum padanya, serta tengkukku meremang. Kenapa aku jadi merasa penyakitan seperti ini?

Aku mencengkram ujung kemeja putihku yang bertumpu di atas paha. Mendengut ludahku dengan kuat sebab kerongkonganku tiba-tiba terasa kering. Serta tak henti-hentinya mengulum bibir. Sampai Bone menoleh ke arahku dan aku masih mematung bagaikan anak kecil sawan yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Lihat selengkapnya