Kita, Cerita, Pena.

aul
Chapter #9

9: BALA BENCANA DATANG

Aku begitu puas ketika pembagian rapor semester satu di kelas delapan ini, sebab aku mendapatkan peringkat ke lima di kelas. Namun, hal itu tak melengahkanku dalam minat belajar. Aku semakin berambisi untuk menjadi juara satu agar bisa sekelas dengan Bone, tapi sayangnya sesuatu yang berlebihan itu ternyata memang tidak pernah berakhir baik. Ritme belajarku yang begitu padat, menjelang UTS semester dua membuat imunku turun sehingga aku terkena tifus dan harus dirawat selama beberapa hari.

Kupikir dengan ke alfanya aku di sekolah tidak ada hal-hal menarik lainnya. Ternyata aku salah, pada semester satu kemarin memang kami bermain berpisah-pisah sesuai dengan kelas kami masing-masing. Aku, Toma dan Jali lebih sering berbincang bersama dalam kelas. Adul yang menemukan teman baru di kelas barunya begitu juga dengan Bone dan Ikal yang lebih sering menghabiskan waktu berdua. Namun, baru-baru ini mereka kembali berkumpul, berbincang berlima tanpa aku.

Semuanya bermula dari aku yang mengajak Toma untuk belajar di perpustakaan sekolah saat istirahat. Toma selalu berdalih ada rapat khusus, sebab tahun ini pergantian jabatan OSIS akan dimulai. Sedang Toma sendiri ditunjuk untuk menjadi perwakilan ketua OSIS bersama dengan Bone dan tiga orang lainnya. Pada akhirnya aku belajar sendirian di ruang perpustakaan. Begitu bel masuk sedikit lagi berbunyi, aku kembali ke kelas. Sampai ketika aku melewati kelas Bone, aku melirik ke dalam, seperti sebagaimana yang sering aku lakukan. Walaupun aku sudah tahu pasti Bone sedang berada di ruang OSIS sebab Toma bilang ada rapat khusus untuk calon ketua OSIS.

Namun, baru kulirikkan bola mataku pada jendela yang terbuka. Kakiku seketika itu berhenti melangkah. Mataku lekat-lekat menatap lima orang yang sedang berkerumun dipenuhi tawa. Mereka asyik mengobrol, berbincang dan sesekali menyelipkan tawa mereka. Hatiku langsung nyeri dibuatnya. Aku baru tahu kalau mereka ternyata sering berkumpul tanpa aku. Bukankah itu artinya aku sedang diusir secara halus.

Tidak mau meratapi luka yang baru, aku buru-buru berjalan menaiki tangga menuju kelas. Sampai bel masuk berbunyi, Toma dan Jali bahkan belum juga memasuki kelas, hingga terlambat serta harus meminta maaf pada guru yang hendak mengajar.

"Udah dari tadi ya, Dek?" tanya Toma ketika duduk di sebelahku sambil berbisik dan mengeluarkan buku paket dan catatan.

Aku mengangguk tanpa banyak bicara dan tetap memerhatikan bu Weni yang sedang mengajar. Sesekali kulirik Toma yang masih menyisakan senyum tipis pada bibirnya dan sesekali Toma yang menoleh kebelakang dimana tempat Jali duduk. Mereka bercanda secara diam-diam sehingga bu Weni tidak tahu. Aku mendegut ludah pahit-pahit, suara cekikikan pelan Toma dan Jali begitu mengusikku. Pasti mereka masih membahas obrolan seru tadi.

Perkumpulan mereka berlima tanpa aku kini kerap dilakukan. Dimulai secara diam-diam, Toma pergi tanpa mengajakku lalu tidak lama Jali ikut pergi. Hingga secara terang-terangan, Toma mengajak Jali pergi tanpa mengajakku di depanku.

"Ayok, Jal, buru," seru Toma ketika bu Intan guru IPS baru saja keluar.

"Bentar-bentar dikit lagi catatan gue selesai," tukas Jali sibuk dengan catatannya.

"Kalian mau kemana?" aku akhirnya memberanikan bertanya, karena sudah cukup gerah dengan tidak tanduk keduanya.

"Rapat OSIS," jawab Toma diselingi senyum simpulnya.

Begitu lagi jawabannya, tiap kali ditanya dan diajak ke perpustakaan Toma selalu mengelak dan menjawab rapat OSIS. Aku merematkan sepuluh jariku.

"Rapat OSIS setiap hari, ya," kataku parau.

Toma yang sekilas mendengarnya mendelik, dengan sedikit gelagapan dia menjawab. "I-iya, soalnya 'kan mau pensi. Terus pemilu buat ketua OSIS tinggal seminggu lagi."

Belum sempat bertanya lagi, Jali berdiri lalu mengajak Toma pergi. Tanpa sebuah kata pamit keduanya meninggalkanku sembari berlari riang dan cekikikan. Aku memandangi sosok mereka yang semakin lama semakin kabur menjauh, lalu hilang ditelan oleh gerombolan air mata di sudut-sudut mataku. Tanpa sadar air mataku menetes, cepat langsung kuhapus dan berbenah diri membawa buku untuk belajar di perpustakaan sendirian lagi.

Lihat selengkapnya