Pelajaran terakhir selanjutnya Bahasa Indonesia. Pak Burhan tidak kalah keji dengan pak Cebol, bedanya pak Burhan tinggi sehingga terlihat menyeramkan. Sedangkan pak Cebol pendek sehingga masih ada momok lucu dalam dirinya yang bisa kami jadikan bahan bercandaan. Pak Burhan seringkali memberikan tugas esai yang wajib ditulis tangan sehingga dapat menghindari kecurangan mencontek dari layanan internet.
"Keluarkan rangkuman yang bapak suruh dan kumpulkan di meja bapak," ucap pak Burhan yang masih duduk di kursinya dan membuka-buka buku cetak Bahasa Indonesia sebelum hendak mengajar.
Semua murid mengeluarkan rangkuman yang masing-masing mereka bikin di kertas folio dan satu per-satu anak pun maju kedepan untuk mengumpulkannya. Meninggalkan aku sendirian yang masih mencari-cari kertas folioku. Dibantu oleh Toma yang ikut mencari-cari. Aku cukup tersentuh ketika Toma sengaja menahan kertas tugasnya untuk tidak dikumpulkan, menunggu tugasku bertemu.
Seingatku, aku membawa kertas rangkuman itu. Aku mencari-cari hingga menumpahkan semua isi tasku, membalik-balikkan buku catatanku siapa tahu terselip atau mengecek di kolong meja. Hasilnya nihil, hilang! Aku yakin sekali kalau ada salah satu yang iseng yang mengambil tugasku dan menyembunyikannya, karena tadi pagi Jali masih meminjam kertas folio itu dan mengembalikannya padaku.
"Lo yakin tugas lo gak ketinggalan?" tanya Toma berbisik di bawah meja denganku yang masih mencari-cari kertas tersebut.
"Yakin banget," kataku masih mencari-cari.
Mungkin karena aku duduk di meja yang saling berhadapan, jadi pak Burhan pun langsung tahu akar permasalahanku. "Yang tidak bawa tugas yang saya berikan silahkan lari keliling lapangan sampai jam pelajaran saya selesai," tegasnya.
Seketika itu juga tubuhku melemas, aku jatuh terduduk di kolong meja. Pelajaran Bahasa Indonesia ini berlangsung dua jam dan dengan dua jam itu, aku diharuskan mengelilingi lapangan ditengah terik matahari seperti ini? "Gila," gumamku masih duduk mengemper. Aku masih mencari-cari kertas rangkumannya di kolong mejaku. Toma yang tadinya berniat untuk tidak mengumpulkan tugasnya supaya bisa menemaniku nyalinya menciut.
Lalu Toma mengumpulkan tugasnya dengan wajah keterpaksaan, meninggalkanku untuk dihukum sendirian. Pelupuk mataku mulai memanas, kerongkonganku tercekat seketika dan peluh-peluh dingin bergulir menuruni dahiku. Nasibku memang sedang sial hari ini. Sudah tadi pagi dibuat kesal oleh Ambu, mendapat gossip yang tidak mengenakkan dari Adul sekarang tugasku yang hilang. Belum lagi rasa cemburuku yang tidak kunjung padam dengan mereka berlima yang kerap berkumpul tanpa diriku.
Pada akhirnya aku keluar kelas dan mulai berlari kecil dengan keringat yang mulai merembes ke seragam putih biruku. Aku yakin rambutku sudah berteriak, menjerit dan meminta untuk melepaskan jilbab ini dari kepalaku. Aku berlari-lari kecil dengan linangan air mata yang masih bertengger di mata. Lalu kudengar kasat-kasat suara tawa dari atas balkon sekolah, aku menghentikan lariku, kudongakkan kepalaku ternyata benar dugaanku, gerombolan begundal nakal itu sedang menertawaiku puas dari atas dengan tatapan matanya yang sinis.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, nasi sudah jadi bubur, jadi nikmati saja bubur tersebut. Kulanjutkan lariku sambil menahan tangis. Sampai ketika aku sedang berhenti untuk mengelap keringat dan mengambil napas. Bone dari dalam kelasnya yang berseberangan tepat pada lapangan, menatapku hingga mata kami saling terpaut lama. Lalu, senyum Bone tersemat dan Bone mengepalkan tangannya, mengangkatnya, seolah-olah menyiratkan kata semangat yang tidak terucap.
Walau masih dirundung cemburu yang menggebu-gebu, aku mengangguk kecil lalu kulanjutkan lariku. Tanpa sadar bibirku yang sedari tadi meringis kini merekah sebuah senyuman yang mengembang lebar. Hatiku yang sedari tadi sakit penuh dengan rasa sesak, sirna digantikan hangat yang menjuluri sanubariku. Kini bukan pelipisku yang memanas tetapi pipiku juga ikut memanas merona.
Padahal kita tidak saling menyapa, padahal kita tidak saling bicara, padahal kita hanya bertatapan. Namun, semua tindakan sederhananya mampu menghempas ribuan awan hitam yang bergulung mengerubungi hatiku. Atas semua tindakan yang Bone lakukan itulah sergapan rasa bahagia sekonyong-konyong mendatangiku. Aneh bukan?