Memasuki kelas sembilan yang berjalan begitu cepat, aku dengan na'as tidak sekelas kembali dengan Bone. Aku sekelas dengan Adul di kelas 9-b. Sedang Bone sekelas dengan Ikal dan Toma di kelas unggulan 9-a, lalu Jali ditinggal sendiri di kelas 9-c. Sedikit sedih sebab semua perjuanganku tidak membuahkan hasil, namun harapanku untuk kembali sekelas dengan Bone kembali terpacu dengan adanya pendalaman materi yang kelasnya akan diacak sesuai dengan nilai.
Aku kembali belajar dengan giat. Tidak jarang pula aku meminjam buku detik-detik, milik Adul lalu aku kerjakan di kertas terpisah. Uang tabunganku juga kuhabiskan untuk membeli buku detik-detik yang berbeda dengan Adul. Pengacakan kelas terjadi pada akhir bulan dimana tiap akhir bulan selalu diadakan Try Out. Nilai awal Try Out-ku sudah cukup baik, tapi tidak membuatku bisa sekelas kembali dengan Bone.
Hal itu, membuatku belajar semakin giat lagi untuk menaikkan nilai TO-ku perlahan-lahan. Walau, tidak mendadak menaik, pada bulan keempat aku berhasil sekelas kembali dengan Bone. Perasaanku bahagia bukan kepalang. Terlebih Bone yang memilih duduk di sampingku, karena dari lima temanku hanya aku dan Bone yang memasuki kelas A. Jangan ditanya seberapa cepat jantungku berdegup mengetahui Bone yang langsung tiba-tiba duduk disampingku.
"Oh, lo disini juga," kataku pura-pura tidak tahu.
"Lah, gue juga udah dari awal di kelas A," katanya jumawa.
"Sombongnya," sambutku membuat Bone terkekeh.
"Dodol banget Ikal, malah nurun mulu nilainya," katanya sebal, karena sahabat sepermainannya sejak TK itu berpisah dengannya.
Aku memberengut, akhir-akhir ini Toma juga menurun nilainya, membuat kami selalu terpisah kelas ketika PM. Toma memiliki masalah keluarga yang cukup kompleks. Pada intinya sebagai anak yang dibanggakan, toma selalu dituntut orang tuanya untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Menjadi ekspektasi keluarga yang harus berprestasi dan nilainya tidak boleh turun. Aku yang mendengar curhatan Toma ikut sedih seakan merasakan apa yang Toma alami. Pada sesi curhat kami, kubiarkan Toma menumpahkan semua isi hatinya padaku, membiarkan Toma berbicara tiada henti sementara aku cukup mendengarkan.
Sejujurnya aku juga ingin menceritakan permasalahan keluargaku pada Toma. Aku juga ingin menguras hal-hal yang mengganjal di dalam hidupku. Namun, sepertinya menceritakan permasalahan pada seseorang yang memiliki beban hidup yang lebih banyak sepertinya tidak etis. Aku tidak mau permasalahanku didengar oleh Toma yang jauh memiliki permasalahan yang lebih banyak, takutnya Toma justru kepikiran dengan masalah yang aku punya. Pada akhirnya, aku nantinya hanya membebani Toma. Lagi-lagi aku memendam masalahku sendiri, tapi tidak apa-apa bukankah aku selalu menghadapinya sendiri. Ini bukanlah hal baru untukku.
"Lo tahu gak, Dek?" tanya Bone menyadarkan lamunanku.
"Apa?" tanyaku.
"Tapi lo jangan bilang siapa-siapa, ya," kata Bone sedikit berbisik.
"Apaan sih?" tanyaku semakin penasaran.
"Si Ikal 'kan suka sama Toma," ucap Bone.
Aku terkesiap. "Demi apa?!" kataku sedikit berteriak dan langsung disekap oleh Bone.
"Sttt," ucapnya menempelkan telunjuknya di bibirnya. "Jangan bacot," katanya lagi membuatku mengangguk dan Bone menurunkan jari telunjuknya. "Makanya nilai Ikal turun soalnya Toma nilai Toma drop parah. Dia pengen sekelas sama Toma, kan bodoh ya!"
"Lo jangan bilang siap-siapa juga, ya," kataku pelan sedikit ragu. Mataku menatap mata Bone lamat-lamat mencari keyakinan untuk mengungkapkan cerita padanya.
"Apa sih?" tanya Bone penuh penasaran.
"Toma tuh lagi ada masalah keluarga, makanya nilai dia turun. Gue aja kasihan sama dia."
"Goblok banget si Ikal, bukannya nyemangatin Toma malah ikutan jeblok nilainya."
Setelah itu kami bercakap-cakap panjang sampai akhirnya kelas dimulai. Jujur memperhatikan Bone yang sedang serius belajar membuat jantungku kembali berdegup tidak biasa. Mata fokusnya yang menatap papan tulis terlihat tajam dan cermat. Cukuplah membuatku kelu sepanjang pelajaran yang akhirnya aku tidak menangkap apa-apa di hari itu, karena rasanya pemandangan di sebelahku jauh lebih memukau dengan pelajaran yang ada didepan mataku.
Lamunanku terlalu jauh hingga aku merasakan duniaku melambat dan semuanya mengabur hanya sosok Bone yang memperhatikan pelajaran yang terlihat jelas di mataku. Aku lupa pada tempatku sendiri. Aku diperbodoh dengan perasaanku sendiri. Ironis.
**
Aku kembali berkelahi dengan Ambu, beradu argumentasi kecil-kecilan. Sementara Abah hanya menonton dan sesekali menengahi pertikaian kami ketika suaraku sudah mulai meninggi. Masalahnya, bukanlah masalah baru, tetapi bagiku permasalahan lama yang kupunya juga bukan permasalahan yang sepele. Aa kembali bertingkah dengan uang Abah, membuatku kembali diduakan. Aa tidak lolos PTN manapun, aku juga sudah yakin sekali otak seperti Aa tidak mungkin lolos dan masuk PTN. Dengan gagalnya Aa memasuki PTN, membuat Ambu ber-ide gila dengan memasukkan Aa ke PTS yang mana biaya perkuliahannya tidaklah ringan.
Oleh sebab itu kini ketika aku menuntut untuk mendaftarkan bimbingan belajar untuk UN nanti Ambu gelagapan mencari-cari alasan, sebab uangnya sudah habis untuk membiayai pendidikan Aa. Padahal teman-temanku yang lain sudah mengikuti bimbingan belajar sejak awal semester kelas sembilan, aku sengaja mengambilnya ketika semester dua sebab biaya bimbingan belajar jauh lebih murah. Padahal aku sudah mengalah dari awal.
Brengsek!
"Teteh 'kan selama ini nilai TO-nya bagus-bagus. Nilai rapot kemarin juga meningkat drastis dan mendapat peringkat satu," kata Ambu menenangkan aku yang sudah tersulut api kemarahan. "Kalau Ambu masukin bimbingan belajar, apa teteh gak pusing?"
"Ambu, tuh aneh," kataku sebelum meledak. "Anak yang nilainya benar-benar bagus diabaikan, giliran yang sampah kayak Aa dan Ujang selalu dikedepankan!" makiku dengan linangan air mata.