Kegiatan kami mengunjungi perpustakaan sekolah semakin sering lagi, sebelum nanti dia memasuki kelas 12. Maka dari itu, pada kesempatan kosong, kami sering curi-curi waktu untuk pergi menuju perpustakaan. Apa lagi ketika guru telat datang ke kelas atau ketika jam kosong berlangsung. Banyak hal yang kami bahas dari bertukar pikiran tentang buku-buku yang kami selesaikan, atau sekadar dia yang mengajariku kembali pelajaran-pelajaran yang menurutku sulit, sekaligus dia yang mengulas kembali pelajaran kelas sepuluh.
“Kamu tahu penulis Frank O’Hara?” tanyaku disela-sela kesibukan kami yang sedang saling membaca buku.
Dia menoleh dan mengangguk sebagai jawabannya. “Baru saja kemarin Bu Retno menugaskan kelasku untuk menganalisis tulisannya.”
“Bagaimana menurutmu tentangnya?” tanyaku lagi
“Menurutku?” ucapnya balik bertanya.
“Ya, tentang tulisannya?”
“Bagiku, tulisan dia cukup spontanitas,” jawabnya. “Kalau di perhatikan lagi, dia lebih gak suka banyak aturan dalam tulisannya. Lihat aja rima atau restriksi dalam tulisannya.”
Aku mengangguk setuju. “Tulisan dia tuh kayak orang gila, tapi pas dibaca bagus.”
Dia tersenyum. “Berarti kita yang baca juga orang gila,” katanya santai.
Kali ini aku yang terkekeh. “Benar, apa lagi yang judulnya You are Gorgeous and I’m Coming.”
Dia mengangguk-angguk setuju lagi. “Kamu tahu gak, kalau kamu baca puisi dia yang itu. Kalau dibaca secara vertikal di tiap dua barisnya, kita akan tahu nama siapa muse yang benar-benar dia sukai.”
Aku mendelik. “Sumpah?”
“Ya,” jawabnya yakin.
Aku terkesiap. Pasti orang tersebut adalah orang yang berharga bagi Frank O’hara. Namun bukankah memang begitu, setiap penulis butuh seseorang untuk dijadikan bahan tulisannya dan orang tersebut bukanlah orang yang sembarang. Aku iri. Betapa menyenangkannya menjadi seseorang yang berharga, sampai-sampai dibuatkan sebuah karya tulis yang indah.
“Hebat ya, aku juga ingin menjadi karya untuk seseorang,” gumamku.
“Aku juga menulis puisi dan puisiku lolos seleksi di acara bulan bahasa SMAN 8,” katanya tenang. “Sabtu nanti, aku harus datang untuk membacakannya,” tuturnya diam sejenak. “Kamu mau ikut kah?” tanyanya.