Kita, Cerita, Pena.

aul
Chapter #15

15: KISAH CINTA YANG BARU

Kupikir dia membawaku pulang setelah aku memintanya dengan paksa pergi dari sekolah itu. Namun, ternyata dia membawaku ke Sea World, saat aku bertanya-tanya kenapa dia membawaku kesini, jawaban dia singkat tapi berhasil membuat rona merah di wajahku menguar cukup lama.

“Untuk meredam kegelisahanmu,” katanya.

Sepanjang jalan, wajahku malu dan tersipu mendengar ucapannya, membuat langkahku lebih lambat yang akhirnya tertinggal di belakang darinya. Kami berjalan melihat-lihat akuarium besar dimana banyak ikan berhilir mudik untuk menyapa kami, lalu pandanganku pelan-pelan mengarah padanya yang sedang berjalan di depanku. Menaik perlahan dari bawah hingga atas. Kupandangi dari mulai sepatunya, caranya berjalan, punggungnya hingga potongan rambut belakangnya. Semua yang melibatkannya terlihat sangat pas padanya.

Aneh, ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Perasaan yang tidak asing, tapi aku tidak cukup mengerti jenis perasaan apa dan bagaimana bisa aku mendapatkannya.

"Snorkeling, yuk lain kali," ajaknya tiba-tiba sambil sibuk sendiri memotret ikan-ikan yang melambai pada kami di dalam akuarium.

Aku yang berdiri di depannya, mengerutkan kening. "Wah, sayang sekali kamu mengajak orang yang salah," jawabku santai untuk meredam rasa gugup.

Dia mengangguk. "Kalau begitu sepedaan di GBK, yuk, kapan-kapan," ajaknya lagi.

Aku mendengus. "Kamu ngeledek, ya. Atau lupa?"

Dia mengedikkan bahunya. Seakan tahu, tapi sengaja meledek.

"Aku gak bisa naik sepedah!” tegasku. “Lagi pula, tidak ada olahraga untukku selain di jam pelajaran olahraga," kataku lagi membuat dia terkekeh.

Dia selanjutnya berbalik lalu memotretku secara tiba-tiba. Aku yang belum siap menjadi kesal, lalu berusaha untuk mengambil kamera digitalnya. Sayangnya, dia cukup tinggi sehingga aku tidak sampai mengambil kamera digital miliknya. Aku berusaha meloncat, lalu dia ikut meloncat sambil menertawakan kegagalanku. Sampai kekesalanku di ujung tanduk, aku mencubit pinggangnya dan dia memekik sambil cekikikan. Dan dengan cepat dia melepaskan cubitan itu lalu berlari untuk menghindari aku, sementara aku turut mengejarnya berusaha mengambil kamera digital miliknya agar foto aib itu musnah.

Setelah kami cukup lelah, dia berhenti dan aku masih berusaha mengambil kamera digital miliknya. Namun, tangannya menahan tanganku, sambil terkekeh bersama, akhirnya aku menyerah dan membiarkan foto aib itu memenuhi memori kameranya. Ya, benar apa yang dia lakukan padaku benar-benar membuat rasa canggung itu hilang dan terganti kenyamanan. Padahal dia hanya melakukan hal konyol dan membuatku lari kelelahan sambil tertawa-tawa. Setelah itu perbincangan kami lancar sekali, seperti Jakarta saat lebaran hari pertama.

"Semester depan aku sudah memasuki kelas 12," katanya.

Aku mengangguk. "Kalau begitu kamu harus lebih banyak belajar lagi."

Kini dia yang mengangguk. "Kayaknya aku gak ambil kampus di JABODETABEK."

"Lalu, kamu bakal ambil univ daerah mana?" tanyaku lagi.

Dia mengedikkan bahunya. "Masih belum dipikirkan secara matang, tapi aku lebih memilih merantau."

"Kenapa?"

“Pengen ngerasain hidup sendiri aja,” jawabnya santai.

Aku memukul lengannya. “Gaya!”

Dia terkekeh lagi begitu pula dengan aku. Lalu dia mulai menjabarkan kampus-kampus pilihannya, sambil kita berjalan santai dan sesekali dia memotret ikan-ikan itu. Anehnya keindahan akuarium disini benar-benar sirna dengan segudang pembicaraan kita. Dari setiap ucapannya, entah bagaimana aku mulai perlahan-lahan terbuka padanya, aku tidak pernah ragu untuk menyampaikan pendapatku padanya. Rasanya senang tapi membicarakan masa depan dengannya seolah kami sedang membicarakan perpisahan. Itulah yang membuatku sedikit sedih. Sampai tiba-tiba langkahnya berhenti dan aku mengikutinya dan dengan santai dia berjongkok, mengikat tali sepatu yang lepas.

"Aku bisa sendiri," kataku langsung berjongkok dan mengikat salah satu tali sepatuku yang terlepas juga.

Lihat selengkapnya