Melewati dua semesterku tanpanya, hidupku mulai terasa kosong. Kini setelah pengumuman SNMPTN telah lewat dari sebulan dan UAS untuk kenaikan kelas berlalu beberapa waktu, dia kembali menghubungiku. Mengajakku pergi ke suatu tempat yang tidak aku ketahui. Pada Sabtu pagi dia menjemputku, dengan sepedah motor matik yang biasa kutumpangi. Dia bertandang masuk, meminta izin pada ayahku untuk membawa anak gadisnya pergi sebentar.
Inilah yang kusukai dari dia, dia pria yang sopan dan menghargai sebagaimana orang tuaku membesarkanku. Dia selalu meminta izin terlebih dulu untuk mengajakku pergi kemana pun, jika diizinkan sesuai janji, dia juga akan segera memulangkanku tepat pada waktu perjanjian. Maka dari itu, Abah dan Ambu menerimanya dengan lapang, sebagai tamu dan selalu menyuguhkan kudapan untuk sekedar berbincang terlebih dahulu sebelum benar-benar kami pergi.
“Kita mau kemana sepagi ini?” tanyaku ketika dia mengeluarkan sepeda motornya dari halaman rumah.
Dia di balik kemudi sepedah motornya dengan santai menjawab. “Ke tempat yang sama-sama kita sukai.”
“Memang kamu tahu tempat apa yang aku sukai?” tanyaku mendelik sambil memakai helm yang disodorkannya.
Dia terkekeh mengguncang-guncangkan kepalaku dengan satu tangannya dengan lembut baru setelah itu aku duduk di atas jok sepedah motornya.
“Mungkin seharusnya aku memasuki jurusan psikologi saja,” tuturnya dengan tawa yang membuncah.
Saat itu juga pipiku bersemu padam, pikiranku langsung terlempar pada diriku yang masih kelas sepuluh. Dalam perpustakaan sekolah aku menanyakan padanya apa jika ingin memasuki jurusan psikologi saat kuliah nanti, aku harus bisa membaca pikiran orang dan gerak-geriknya. Awalnya dia terdiam sejenak mencerna pertanyaanku itu, sampai tawanya membuncah lepas mengiang dalam ruang perpustakaan membuat kami diusir dan dia masih tertawa-tawa. Sejak saat itu, kadang dia selalu mengungkit-ungkit kejadian bodoh tersebut.
“Apaan sih,” kataku ketus memukul bahunya.
Masih dengan sisa-sisa tawanya, dia menepuk-nepuk dengkulku pelan. “Iya, iya, maaf.”
Aku mendengus barulah setelah itu dia menancap gas sepedah motornya. Lalu kami berdua melenggang pergi, menuju tempat yang dia rahasiakan dariku. Aku merasa aneh pada hubungan kita, semudah ini kita saling berperang dingin tanpa alasan dan semudah ini pula kita kembali seperti kita yang dulu. Memang dua semester tanpanya begitu terasa lama dan membosankan. Mungkin itu alasanku kenapa masih menerimanya setelah beberapa waktu kami saling terputus.
Aku menatap pungung tegapnya lamat-lamat, lalu senyumku terukir diatas bibir. Punggung kokohnya terbentuk mungkin karena dia yang menyukai olahraga, dia juga cerdas, dia pandai bermain musik, dia memiliki selera buku yang baik. Dia seperti orang yang tahu segalanya, orang yang bisa menelan berbagai macam informasi. Sehingga ketika dia berhadapan dengan orang, bisa dengan mudah dia berbaur. Aku mengagumi isi otaknya. Aku selalu mengagumi setiap tutur kata dan tindakannya. Aku merindukannya.
“Sudah sampai,” katanya memberhentikan sepedah motornya yang sudah terparkir.
Lamunanku tentangnya buyar seketika, ketika aku disuguhkan sebuah bangunan indah pada daerah yang terpencil. Kami berada di bilangan Senen, di sebuah perpustakaan kuno yang mengusung gaya arsitektur era Victorian. Dari balik jejeran-jejeran ruko kecil yang usang, bangunan ini lah yang paling angkuh. Seperti seorang penjajah yang sosoknya paling mencolok di antara warga pribumi.
Dengan tembok yang di cat putih gading dan dua buah jendela yang membelendung keluar. Serta tanaman rambat yang menutupi sebagian tembok dan pintu kayu megah yang indah. Berbekal pegangan tangannya, dia mengiringku memasuki perpustakaan tersebut. Aku mengangga ketika mataku menyapu bersih isi ruang perpustakaan tersebut.